Carina Hoang sedang bersiap untuk sebuah perjalanan. Tujuannya adalah sebuah tempat yang jarang dikenal orang: Pulau Kuku, yang terletak di wilayah terpencil Kepulauan Anambas, Indonesia.
Pulau kecil ini dahulu menjadi salah satu lokasi penampungan pengungsi Vietnam, yang dikenal sebagai “boat people”. Mereka melarikan diri dari negaranya setelah berakhirnya Perang Vietnam. Banyak dari mereka tidak pernah berhasil melanjutkan perjalanan ke negara tujuan, dan sebagian meninggal dunia di sana.
Kini, pulau itu menyimpan ratusan makam yang sebagian besar tidak bertanda dan perlahan terlupakan.
Carina Hoang adalah salah satu dari para pengungsi tersebut. Ia tiba di Indonesia sebagai anak-anak bersama keluarganya. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali, bukan hanya untuk mengenang masa lalunya, tetapi untuk membantu keluarga lain menemukan jejak orang-orang yang mereka cintai yang tertinggal di Pulau Kuku.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan penuh emosi, pencarian identitas, dan juga upaya rekonsiliasi dengan masa lalu.
Bagi banyak keluarga, ini adalah kesempatan pertama mereka untuk mengetahui di mana anggota keluarga mereka dimakamkan. Selama puluhan tahun, informasi tentang para pengungsi yang meninggal sangat terbatas. Banyak keluarga hanya mengetahui bahwa kerabat mereka “hilang” di Indonesia.
Carina berperan sebagai penghubung. Ia mengorganisir perjalanan kembali ke pulau tersebut, membantu keluarga-keluarga menavigasi lokasi yang sulit dijangkau, dan berusaha mengidentifikasi makam-makam yang tidak memiliki penanda jelas.
Pulau Kuku sendiri bukan tempat yang mudah diakses. Untuk mencapainya, diperlukan perjalanan panjang melalui laut, sering kali dengan kondisi yang tidak menentu. Infrastruktur yang minim membuat proses pencarian menjadi semakin sulit.
Namun, bagi keluarga yang ikut serta, semua kesulitan itu sepadan.
Setibanya di pulau, mereka mulai mencari, menggali ingatan, mencocokkan cerita, dan mengandalkan bantuan penduduk lokal yang masih mengingat keberadaan kamp pengungsi tersebut.
Beberapa ketemu makam yang diyakini milik anggota keluarga mereka. Yang lain hanya bisa berdiri di antara deretan kuburan tanpa nama, mencoba menerima bahwa salah satu dari tempat itu mungkin adalah peristirahatan terakhir orang yang mereka cintai.
Momen-momen tersebut sering kali penuh haru. Ada yang menangis, berdoa, atau hanya terdiam. Perjalanan ini memberikan ruang untuk berduka, sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka miliki.
Carina memahami betul pentingnya perjalanan ini. Baginya, ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang memberikan penutupan (closure) bagi mereka yang telah lama hidup dalam ketidakpastian.
Ia juga berharap bahwa kisah Pulau Kuku tidak akan dilupakan. Bahwa dunia akan mengingat sejarah para pengungsi Vietnam di Indonesia, sebuah bab yang sering terabaikan dalam narasi global tentang krisis pengungsi.
Selain itu, upaya ini juga menjadi bentuk penghormatan bagi mereka yang meninggal jauh dari tanah airnya, tanpa keluarga di samping mereka.
Dengan membawa keluarga-keluarga kembali ke Pulau Kuku, Carina membantu mengembalikan nama, cerita, dan kemanusiaan kepada mereka yang pernah hilang dalam sejarah.
Perjalanan ini mungkin tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi setidaknya dapat memberikan kedamaian bagi mereka yang masih hidup dan memastikan bahwa mereka yang telah tiada tidak benar-benar dilupakan.*
Disarikan dari: https://www.iwmf.org/reporting/a-former-refugee-leads-families-back-to-an-indonesian-island-so-they-can-find-graves/
