Geopolitik Pengungsian dan Pembentukan Kamp Galang
Akar sejarah dari pembangunan fasilitas keagamaan di Pulau
Galang bermula dari jatuhnya Saigon pada April 1975, yang menandai kemenangan
rezim komunis Vietnam Utara atas Vietnam Selatan. Peristiwa ini memicu eksodus
massal warga Vietnam yang mengkhawatirkan persekusi politik dan ideologis. Ribuan
orang, yang kemudian dikenal sebagai "manusia perahu," mempertaruhkan
nyawa di atas kapal-kapal yang sering kali tidak layak laut untuk mencari suaka
di negara-negara tetangga. Indonesia, sebagai bagian dari komunitas
internasional, mulai menerima rombongan pertama pengungsi di Kepulauan Natuna
pada Mei 1975. Namun, karena jumlah pengungsi yang terus membengkak dan
menimbulkan tekanan sosial-ekonomi bagi penduduk lokal, pemerintah Indonesia
bersama Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) memutuskan untuk
memusatkan penampungan di satu lokasi yang terisolasi namun terkelola.
Pulau Galang dipilih pada Mei 1979 sebagai Processing
Center for Indochina Refugees karena lokasinya yang strategis,
berdekatan dengan Singapura dan Malaysia namun cukup terpencil untuk memudahkan
isolasi dan stabilisasi keamanan. Dalam kurun waktu
operasionalnya antara 1979 hingga 1996, kamp ini bertransformasi dari sekadar
pusat transit darurat menjadi sebuah entitas sosial yang kompleks, lengkap
dengan infrastruktur yang mendukung kehidupan religius, pendidikan, dan kesehatan.
|
Fase |
Rentang Tahun |
Deskripsi Aktivitas Utama |
|
Emergensi (TNI-AL, Pemerintah Daerah,
Gereja Katolik) |
1975 – 1978 |
Kedatangan awal di Natuna dan
Anambas; penampungan darurat tanpa koordinasi pusat. |
|
Formalisasi (UNHCR, Pemerintah Indonesia,
PABABE.) |
1979 – 1980 |
Pembukaan Pulau Galang sebagai
Processing Center; pembangunan barak awal. |
|
Konsolidasi (UNHCR, PMI, Jesuit Refugee
Service) |
1981 – 1989 |
Pembangunan fasilitas permanen;
peresmian tempat ibadah dan sekolah. |
|
Repatriasi (UNHCR, IOM, Pemerintah Vietnam) |
1990 – 1996 |
Skema pemulangan sukarela dan
paksa ke Vietnam; penutupan bertahap zona kamp. |
|
Decommissioning |
1997 – Kini |
Penutupan resmi oleh PBB;
transisi menjadi situs wisata sejarah.3 |
![]() |
| Pengungsi berpose setelah acara di replika perahu situs Patung Maria di Atas Perahu, Galang |
Spiritualitas di Tengah Samudra: Makna Teologis Patung Maria di atas Perahu
Bagi pengungsi Katolik Vietnam, perjalanan menyeberangi Laut
China Selatan bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah ziarah
eksistensial antara hidup dan mati. Banyak dari mereka yang mendalami
spiritualitas bahwa Bunda Maria hadir sebagai pelindung yang mendampingi mereka
dalam kapal-kapal kecil yang terombang-ambing di tengah keganasan lautan. Ketakutan
akan serangan bajak laut, kelaparan, dan kegagalan mesin kapal menciptakan
kondisi keputusasaan yang hanya bisa dimitigasi melalui iman yang mendalam.
Patung Bunda Maria di atas Perahu, yang terletak di sebelah
kiri Gereja Katolik Galang, dirancang untuk mengabadikan memori kolektif ini. Perahu
yang menjadi alas patung tersebut bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan
simbol "Bahtera Penyelamatan." Dalam tradisi Katolik, Maria sering
kali disebut sebagai Stella Maris (Bintang Laut), sang
penunjuk arah bagi mereka yang tersesat di samudra. Di Galang, simbolisme ini
menjadi sangat literal. Peresmian pada tahun 1985 menunjukkan bahwa monumen ini
dibangun pada puncak masa operasional kamp, ketika komunitas pengungsi telah
memiliki stabilitas internal yang cukup untuk melakukan pembangunan fisik yang
bersifat monumental.
Karakteristik dan Konstruksi Monumen
Proses pembangunan patung ini melibatkan partisipasi aktif
para pengungsi yang memiliki keahlian dalam seni pahat dan konstruksi, yang
sebelumnya telah diasah melalui program pelatihan keterampilan di kamp.
Pencantuman tahun 1985 pada bagian perahu patung asli
berfungsi sebagai penanda sejarah yang krusial. Tahun tersebut mewakili periode
di mana manajemen kamp telah mencapai taraf kematangan administratif, di mana
kebutuhan rohani mendapatkan porsi yang sama pentingnya dengan kebutuhan fisik
seperti air bersih dan listrik. Pembangunan ini juga didukung
oleh keberadaan para imam dan relawan dari berbagai organisasi internasional,
termasuk Jesuit Refugee Service (JRS), yang memberikan pendampingan pastoral di
Galang.
![]() |
| Phúc, seniman Galang |
Gereja Nha Tho Duc Me Vo Nhiem: Pusat Liturgi dan Identitas
Fasilitas keagamaan di Pulau Galang tidak berdiri sendiri
secara sporadis, melainkan merupakan bagian dari perencanaan tata ruang kamp
yang membagi wilayah menjadi zona-zona tertentu. Gereja Katolik yang
dikenal dengan nama Nha Tho Duc Me Vo Nhiem (Gereja Bunda
Maria Dikandung Tanpa Noda; Maria Immakulata) menjadi pusat aktivitas bagi pengungsi Katolik. Nama
gereja ini sendiri merefleksikan doktrin Maria yang sangat dihormati dalam
tradisi Vietnam, yang menghubungkan kemurnian Maria dengan harapan akan awal
baru bagi para pengungsi.
Kehidupan beragama di gereja ini sangat hidup selama masa
pengungsian. Misa dilakukan dalam bahasa Vietnam, yang membantu para pengungsi
menjaga ikatan budaya dengan tanah air mereka sekaligus memberikan rasa
normalitas di tengah ketidakpastian masa depan. Keberadaan gereja ini,
bersama dengan Vihara Quan Am Tu, Masjid, dan Gereja Protestan, menunjukkan
betapa heterogennya komposisi sosial para pengungsi Vietnam yang berasal dari
berbagai latar belakang etnis dan keyakinan.
Mekanisme Pembangunan dan Dukungan Administratif
Pembangunan Patung Maria pada tahun 1985 tidak mungkin
terjadi tanpa restu administratif dari pihak berwenang Indonesia dan dukungan
logistik dari organisasi internasional. Selama periode tersebut, Pulau Galang
berada di bawah pengawasan ketat P3V. Pembangunan
fasilitas keagamaan dipandang sebagai bagian dari strategi manajemen kamp untuk
menjaga stabilitas emosional para pengungsi.
Dana untuk pembangunan gereja dan patung-patung ini sebagian
besar berasal dari donasi komunitas pengungsi sendiri, organisasi keagamaan
internasional seperti JRS, dan sisa alokasi anggaran UNHCR untuk fasilitas
umum. Proses pengerjaannya dilakukan secara gotong-royong. Hal ini
mencerminkan apa yang disebut sebagai "diplomasi budaya," di mana
Indonesia memposisikan diri sebagai negara yang sukses menanggapi bencana
kemanusiaan tanpa mengabaikan kebutuhan spiritual para pengungsi.
Infrastruktur Pendukung di Sekitar Situs
Pada tahun 1985, situs di sekitar gereja dan patung Maria
telah dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai untuk ukuran kamp
pengungsian. Jalan-jalan aspal beton menghubungkan berbagai zona, dan sistem
pengairan pipa besar menjamin ketersediaan air bersih di tempat-tempat ibadah. Keberadaan
listrik dari generator set (genset) memungkinkan aktivitas ibadah malam hari
dan acara-acara komunitas lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan
patung tersebut adalah bagian dari proyek urbanisasi kamp yang terencana secara
matang.
Peran Jesuit pada para Pengungsi Vietnam
Jesuit Refugee Service setidaknya mengirim tiga imam; Pastor Gildo Dominici SJ, Pastor Adrianus Padmaseputra SJ, Pastor Sugondo SJ. Pastor Adrianus Padmaseputra, SJ. Pastor Padmo, meskipun beliau bertugas
memberikan pelayanan pastoral hingga akhir tahun 1996, pengaruh para pastor
Jesuit di Galang sudah terasa sejak awal 1980-an, yaitu Pastor Gildo. Para imam ini tidak
hanya memimpin ritual misa, tetapi juga bertindak sebagai konselor bagi mereka
yang mengalami trauma berat akibat perjalanan laut ("trauma of the
sea").
Baca juga: Pastor Gildo Dominici, Orang Kudus dari Galang in Memoriam
Dukungan dari para imam ini sangat krusial dalam proses
pembangunan fisik gereja dan monumen. Mereka sering kali menjadi perantara
antara pengungsi dengan otoritas kamp untuk mendapatkan izin pembangunan atau
material bangunan. Spiritualitas Jesuit yang menekankan pada
"menemukan Tuhan dalam segala hal" sangat relevan dalam konteks
Galang, di mana Tuhan dicari di tengah penderitaan dan pengungsian.
Baca juga: Bertemu Kembali Pastor Padmo, Terharu Mengenang Galang
Implikasi Jangka Panjang dan Memori
Setelah penutupan kamp pada tahun 1996 dan repatriasi
besar-besaran, Pulau Galang berubah menjadi "kota mati" sebelum
akhirnya dikonservasi sebagai situs sejarah. Patung Bunda Maria di atas
Perahu kini menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan dan mantan
pengungsi yang kembali untuk melakukan ziarah. Eks-pengungsi yang kini
menetap di negara ketiga seperti Amerika Serikat atau Australia sering kali
mengunjungi Galang untuk mengenang titik balik dalam hidup mereka.
![]() |
| Beberapa pengungsi berpose di depan Gereja Immakulata Galang |
Refleksi Historis
Patung Maria di atas Perahu di Pulau Galang, dengan
peresmiannya pada tahun 1985, berdiri sebagai monumen yang kaya akan makna. Ia
bukan sekadar objek pemujaan agama, melainkan sebuah dokumen sejarah yang
membuktikan daya tahan manusia di hadapan tragedi. Melalui referensi sejarah
yang valid, dapat disimpulkan bahwa pembangunan patung ini merupakan inisiatif
mandiri komunitas pengungsi Katolik Vietnam dengan dukungan penuh dari UNHCR,
pemerintah Indonesia, dan organisasi keagamaan seperti Jesuit Refugee Service.
Monumen ini membedakan dirinya dari situs-situs lain di Galang, seperti Patung Kemanusiaan, dengan menawarkan narasi harapan dan perlindungan ilahi di tengah realitas keras kehidupan kamp pengungsian. Bagi para peneliti sejarah dan pengunjung masa kini, patung Maria di atas perahu tetap menjadi simbol yang paling kuat dari "Wajah Humanisme Indonesia" yang pernah memberikan perlindungan bagi mereka yang kehilangan segalanya di lautan. Pelestarian situs ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa ingatan kolektif tentang diplomasi budaya dan keberhasilan kemanusiaan bangsa Indonesia tidak tereduksi oleh waktu.
Daftar Pustaka:
1.
Catatan dari Pulau Galang | Gema Warta, diakses
Maret 11, 2026, https://gemawarta.wordpress.com/2007/04/07/catatan-dari-pulau-galang/
2.
LIBURAN ANTIMAINSTREAM: MENGENANG DRAMA
KEMANUSIAAN DI KAMPUNG VIETNAM PULAU GALANG - MyTrip, diakses Maret 11,
2026, https://www.mytrip.co.id/article/liburan-antimainstream-mengenang-drama-kemanusiaan-di-kampung-vietnam-pulang-galang
3.
Kamp Pengungsi Vietnam, Galang - GoWest.ID,
diakses Maret 11, 2026, https://gowest.id/kamp-pengungsi-vietnam-galang/
4.
DOCTORAL (PhD) DISSERTATION THESES Social And
Legal Challenges in Refugees Handling (Comparison Between Hungary and
Indonesia, diakses Maret 11, 2026, https://www.juris.u-szeged.hu/doktori-iskola/thoriq-bahri
5.
DOCTORAL (PhD) DISSERTATION THESES Social And
Legal Challenges in Refugees and Asylum Seekers Handling (Comparison, diakses
Maret 11, 2026, https://www.juris.u-szeged.hu/doctoral-school/final-dissertation-phd
6.
Tinjauan Historis Pengungsian Vietnam di Pulau
Galang 1979-1996 - Takuana, diakses Maret 11, 2026, https://ejurnal.man4kotapekanbaru.sch.id/takuana/article/download/24/8/92
7.
kamp sinam pulau galang : potensi wisata sejarah
... - Scanned Image, diakses Maret 11, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23834/1/KAMP%20SINAM%20PULAU%20GALANG_POTENSI%20WISATA%20SEJARAH%20YANG%20TERABAIKAN.pdf
8.
MENELUSURI JEJAK PENGUNGSI VIETNAM DI PULAU
GALANG ..., diakses Maret 11, 2026, https://jurnal.btp.ac.id/index.php/menata-btp/article/download/355/280
9.
(A history of) containment on Galang Island -
Inside Indonesia, diakses Maret 11, 2026, https://www.insideindonesia.org/a-history-of-containment-on-galang-island
10. Romo
Adrianus Padmaseputra, SJ – Gembala Umat “Anti-Ambyar ..., diakses Maret 11,
2026, https://parokidurensawit.org/majalahwarisan/2022/07/16/romo-adrianus-padmaseputra-sj-gembala-umat-anti-ambyar/
11. ĐỨC
MẸ VÔ NHIỄM | Giáo Phận Bà Rịa, diakses Maret 11, 2026, https://www.giaophanbaria.org/chuyen-de/duc-me/2014/12/07/duc-me-vo-nhiem.html
12. Riau
Islands - Wikipedia, diakses Maret 11, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Riau_Islands
13. Camps
Revisited: Multifaceted Spatialities of a Modern Political Technology
1786605821, 9781786605825 - EBIN.PUB, diakses Maret 11, 2026, https://ebin.pub/camps-revisited-multifaceted-spatialities-of-a-modern-political-technology-1786605821-9781786605825.html
14. Cerita
Mistis di Pulau Galang, Sakit Usai Swafoto di Patung Kemanusiaan, diakses Maret
11, 2026, https://www.melayupedia.com/berita/926/cerita-mistis-di-pulau-galang-sakit-usai-swafoto-di-patung-kemanusiaan
15. Scanned
Image - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses Maret 11, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/29188/2/PULAU%20GALANG%20WAJAH%20HUMANISME%20INDONESIA.pdf
16. Toward
a Framework for Vietnamese American Studies: History, Community, and Memory
1439922888, 9781439922880 - EBIN.PUB, diakses Maret 11, 2026, https://ebin.pub/toward-a-framework-for-vietnamese-american-studies-history-community-and-memory-1439922888-9781439922880.html
17. Eksplorasi
Situs Kamp Pengungsi Vietnam di Batam - TelusuRI, diakses Maret 11, 2026, https://telusuri.id/eksplorasi-situs-kamp-pengungsi-vietnam-di-batam/



.jpg)