Gereja Katolik dalam Penanganan Pengungsi Vietnam di Pulau Galang (1979–1996)

Kelompok Paduan Suara/ Koor Pengungsi Vietnam Gereja Katolik Galang

Krisis kemanusiaan yang melanda wilayah Indochina pasca berakhirnya Perang Vietnam pada tahun 1975 memicu eksodus massal jutaan orang yang secara kolektif dikenal sebagai "Manusia Perahu" atau Boat People. Di tengah badai ketidakpastian ini, Indonesia, melalui Pulau Galang di Kepulauan Riau, muncul sebagai pelabuhan harapan bagi sekitar 250.000 jiwa yang melarikan diri dari konflik dan ketidakstabilan politik di tanah air mereka. Keterlibatan Gereja Katolik melalui berbagai organisasinya—baik di tingkat lokal maupun internasional—menjadi pilar penyangga yang tidak hanya memberikan bantuan logistik, tetapi juga pendampingan spiritual yang mendalam, menjadikan eks-kamp pengungsi Galang sebagai sebuah situs ziarah iman yang kaya akan makna hingga hari ini.

Kolaborasi pemerintah (P3V) dan organisasi-organisasi Gereja Katolik membuktikan hati masyarakat Indonesia yang ramah demi kemanusiaan.

Perjalanan spiritual para pengungsi Vietnam di Pulau Galang adalah sebuah narasi tentang "Allah yang dalam pengasingan" (God in Exile), di mana kehadiran Gereja tidak hanya bersifat administratif tetapi juga sakramental. Organisasi-organisasi seperti Keuskupan Pangkalpinang, Jesuit Refugee Service (JRS), dan Catholic Relief Services (CRS) bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNHCR untuk memastikan martabat manusia tetap dijaga di tengah kondisi yang sering kali mematikan.

Konteks Geopolitik dan Krisis Kemanusiaan Indochina

Memahami keterlibatan Gereja Katolik di Pulau Galang memerlukan pemahaman mengenai alasan mengapa ratusan ribu orang memilih untuk mempertaruhkan nyawa di laut lepas. Jatuhnya Saigon pada April 1975 memicu perubahan struktural besar-besaran di Vietnam. Bagi komunitas Katolik di Vietnam, perubahan ini sering kali berarti ancaman terhadap kebebasan beragama, di mana umat Katolik terkadang dianggap sebagai ancaman bagi rezim baru karena afiliasi sejarah mereka, terutama kesatuan Gereja Katolik dari pusat (Vatikan) hingga keluarga. 

Kondisi inilah yang memicu gelombang pelarian besar-besaran menggunakan kapal-kapal kecil yang tidak layak untuk menempuh perjalanan melintasi Laut China Selatan. Para pengungsi menghadapi serangan bajak laut, kelaparan, dan badai besar. Bagi mereka yang berhasil mencapai pantai Indonesia, Pulau Galang menjadi titik transisi krusial sebelum penempatan ke negara ketiga seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

 

Keterangan

Detail Statistik dan Fakta

Total Pengungsi di Galang

Sekitar 250.000 orang (1979–1996)

Luas Wilayah Kamp

16 km2 (sekitar 20% luas Pulau Galang)

Angka Kelahiran di Kamp

Rata-rata 50 bayi per bulan

Jumlah Pemakaman (Ngha Trang)

503 orang dimakamkan di Pulau Galang


Mgr. Rolf Reichenback didampingi Pastor Gildo Dominici SJ disambut para pengungsi Vietnam


Keuskupan Pangkalpinang: Gembala di Garis Depan

Keuskupan Pangkalpinang secara geografis bertanggung jawab atas wilayah Kepulauan Riau. Di bawah kepemimpinan Mgr. Rolf Reichenbach, SS.CC (Administrator Apostolik periode 1975–1987), Gereja lokal bertransformasi menjadi jembatan diplomasi kemanusiaan.

Baca juga: Pastor Rolf Reichenbach SSCC dan Pengungsi Vietnam Galang Gelombang Pertama

Diplomasi Kemanusiaan Mgr. Rolf Reichenbach

Sebelum Pulau Galang resmi ditetapkan sebagai kamp pada tahun 1979, ribuan pengungsi telah terdampar di Tanjung Pinang dalam kondisi memprihatinkan. Mgr. Reichenbach secara proaktif menyurati UNHCR untuk mendesak perlindungan bagi para pengungsi tersebut. Meskipun tindakannya sempat dikritik sebagai bentuk campur tangan urusan negara, beliau menegaskan bahwa misi Gereja adalah membawa kegembiraan dan harapan sebagai komitmen iman terhadap martabat manusia.

Setelah Keuskupan Pangkalpinang mempunyai uskup definitif Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD, ia terus melanjutkan karya pendampingan pengungsi yang telah dirintis oleh Mgr. Rolf Reichenbach, SS.CC. Uskup Hilarius berkomunikasi dengan Pastor Padmo SJ dan beberapa kali berkunjung langsung ke Kamp. pengungsi Vietnam di Galang.

Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD bersama Pastor Padmo SJ di Kamp. Galang

Baca juga: Pastor Gildo Dominici, Orang Kudus dari Galang in Memoriam

Yayasan Cipta Karya (YCK): Komunikasi, Finansial, dan Edukasi

Karya nyata Keuskupan Pangkalpinang diimplementasikan melalui Yayasan Cipta Karya (YCK), yang saat itu dipimpin oleh Pastor Willem Langen Hiijen, SS.CC sebagai penanggung jawab. Yayasan ini dipercaya mengelola kebutuhan sosiopsikologis dan administratif pengungsi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup mereka di kamp.

Karyawan Yayasan Cipta Karya (YCK) di depan Kantor YCK Galang

Baca juga: Bertemu Kembali Pastor Padmo, Terharu Mengenang Galang

Peran YCK mencakup tiga pilar utama:

1.    Layanan Surat Menyurat (Mailing Service): Menyadari bahwa komunikasi dengan keluarga adalah sumber kekuatan mental, YCK menangani arus informasi yang masif. Setiap bulannya, YCK mengelola kurang lebih 40.000 hingga 60.000 surat masuk, serta 30.000 hingga 40.000 surat keluar, belum termasuk ribuan paket.

2.    Layanan Perbankan (Banking Service): YCK menyediakan sarana aman bagi pengungsi untuk menerima bantuan finansial dari keluarga di luar negeri. Rata-rata transfer yang dikelola mencapai 20 hingga 30 juta rupiah per minggu, dengan penukaran dalam bentuk cek berkisar 10 juta rupiah per minggu.

3.    Inisiatif Edukasi Awal: Di periode awal, YCK secara aktif mensuplai alat tulis dan buku pelajaran Bahasa Inggris bagi para pengungsi. Selain itu, YCK mendirikan sekolah gratis di wilayah Air Raya yang mengajarkan Bahasa Inggris, Matematika, serta pengetahuan mengenai peraturan negara, memberikan bekal fundamental bagi para pengungsi sebelum mereka menjalani proses seleksi penempatan negara ketiga.

Jesuit Refugee Service (JRS): Pendampingan dalam Pengasingan

Jesuit Refugee Service (JRS) didirikan oleh Pastor Pedro Arrupe, SJ pada tahun 1980 sebagai respons langsung terhadap penderitaan "Manusia Perahu" Vietnam. Arrupe merasa terpanggil untuk memberikan respons spiritual dan praktis terhadap krisis tersebut. Para pastor Jesuit yang pernah bertugas di Galang diantaranya: Pastor Gildo Dominici SJ, Pastor Padosaputra SJ, Pastor Sugondo SJ.

Romo Gildo Dominici, SJ: Sang Pelindung

Dalam sejarah para pengungsi Galang, nama Pastor Gildo Dominici, SJ, menempati tempat yang sangat istimewa. Beliau adalah seorang imam Jesuit yang melayani langsung di kamp Pulau Galang. Mantan pengungsi mengenang beliau sebagai "pelindung terhadap ketidakadilan" yang mungkin terjadi dalam lingkungan kamp. Pelayanan Pastor Gildo mencerminkan filosofi pendampingan JRS—bahwa setiap pengungsi harus diperlakukan sesuai citra Allah.

Pastor Gildo Domici bersama para anak pengungsi Vietnam yang tidak bersama orang tua

Baca Juga: Mantan Pengungsi Galang Jadi Pastor: Bicara Tentang Pastor Gildo Dominici SJ

Sinergi Pelatihan: Save the Children, CRS, dan ICMC

Terdapat pembagian tugas yang spesifik dalam pengelolaan pelatihan di Pulau Galang. Berbeda dengan kamp pengungsi Vietnam di Bataan (Filipina) di mana International Catholic Migration Commission (ICMC) memimpin program pendidikan secara langsung, di Pulau Galang program ini dijalankan melalui konsorsium.

Program IESL/CO/PET

Program Intensive English as a Second Language (IESL), Cultural Orientation (CO), dan Pre-employment Training (PET) di Pulau Galang secara resmi dijalankan oleh Consortium of Save the Children Federation dan The Experiment in International Living. Program ini bertujuan menyiapkan pengungsi agar mandiri secara ekonomi setelah tiba di negara tujuan.

CRS dan Relawan Katolik

Meskipun ICMC tidak menjalankan program bahasa utama di Galang, pekerja dan relawan dari Catholic Relief Services (CRS) dan ICMC tetap hadir di kamp tersebut. Peran mereka mencakup: Memberikan dukungan psikologis dan emosional bagi pengungsi yang mengalami trauma, Mengelola layanan kesehatan dasar dan skrining bagi pengungsi, Memberikan pelatihan dan orientasi bagi guru-guru relawan.

Infrastruktur Iman: Gereja Nha Tho Duc Me Vo Nhiem

Pusat kehidupan liturgis umat Katolik Vietnam di pulau ini adalah Gereja Nha Tho Duc Me Vo Nhiem (Gereja Santa Maria Imakulata). Gereja kayu ini menjadi pusat pelayanan bagi komunitas yang pada puncaknya mencapai puluhan ribu orang. Pelayanan sakramental di sini juga didukung oleh biarawati dari kongregasi Good Shepherd (RGS) dan Jesus Mary Joseph (JMJ), serta Legio Mariae yang bertugas merawat orang sakit, memberikan katekese, serta pendampingan sosial bagi anak-anak dan perempuan.

Sebagian pengungsi berfoto di depan Patung Maria di atas Perahu


Maria di Atas Perahu: Ikonografi Ketangguhan Iman

Di puncak bukit Galang Site II berdiri patung Bunda Maria di Atas Perahu. Patung ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlindungan ilahi. Di sekitar patung, terdapat batu-batu putih persegi bertuliskan "Ta On Duk Me" (Terima Kasih Bunda), yang diletakkan oleh para pengungsi sebagai bentuk syukur atas keselamatan mereka dari badai dan bajak laut selama perjalanan laut.

Referensi:

1.    Hobamatan, Lucius Poya. (2001). Ketika aku orang asing, kamu memberi aku tumpangan. Dari Vietnam ke Galang, dari Galang ke... Jakarta.

2.    Journal La Sociale / Journal La Bisecoman. (2025/2026). Study of the Potential of Historical Sites and Tourist Destinations in the Vietnamese Village on Galang Island..

3.    Jesuit Refugee Service (JRS). (2000/2006). Essential Documents of Jesuit Refugee Service 1980-2000 & Remembering 25 Years JRS Asia Pacific..

4.    Save the Children Federation. (1981-1987). Passage: A Journal of Refugee Education (Intensive ESL/CO Program)..

5. Pena Katolik. (2024). Keuskupan Pangkalpinang dan Perjuangan Melawan Perdagangan Manusia..

6.    Sindonews. (2014). Ziarah Iman, Wisata Sejarah Pengungsi Vietnam di Pulau Galang..

7.    UNHCR Indonesia. History of UNHCR in Indonesia & Refugee Camp Records..


Sumber Bacaan lainnya:

1. Journal LA BISeCOMAN - newinera, diakses Maret 14, 2026, https://www.newinera.com/index.php/JournalLaSociale/article/download/2381/2033

2.    journal la sociale - Newinera Publisher, diakses Maret 14, 2026, https://newinera.com/index.php/JournalLaSociale/article/download/2294/2034

3.    Study of the Potential of Historical Sitesand Tourist Destinations in the Vietnamese Village on Galang Island in Supporting Regional - ResearchGate, diakses Maret 14, 2026, https://www.researchgate.net/publication/395315596_Study_of_the_Potential_of_Historical_Sitesand_Tourist_Destinations_in_the_Vietnamese_Village_on_Galang_Island_in_Supporting_Regional

4.    Ziarah iman, wisata sejarah pengungsi Vietnam di Pulau Galang - SINDOnews.com, diakses Maret 14, 2026, https://nasional.sindonews.com/berita/817414/79/ziarah-iman-wisata-sejarah-pengungsi-vietnam-di-pulau-galang

5.    Ziarah iman, wisata sejarah pengungsi Vietnam di Pulau Galang, diakses Maret 14, 2026, https://nasional.sindonews.com/berita/817414/79/ziarah-iman-wisata-sejarah-pengungsi-vietnam-di-pulau-galang/

6.    God in Exile - Jesuit Refugee Service (JRS), diakses Maret 14, 2026, https://jrs.net/wp-content/uploads/2022/07/GodinExile.pdf

7.    Galang Refugee Camp - Wikipedia, diakses Maret 14, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Galang_Refugee_Camp

8.    Visits to former refugee camp of Galang, boat people's graves in Indonesia, diakses Maret 14, 2026, https://damau.org/en/29034/visits-to-former-refugee-camp-of-galang-boat-peoples-graves-in-indonesia

9.    Pulau Galang - Vietnamese Heritage Museum, diakses Maret 14, 2026, https://vietnamesemuseum.org/our-roots/refugee-camps/indonesia/pulau-galang/

10.  Galang Refugee Camp 1975 - 1996 Riau Archipelago, Indonesia, diakses Maret 14, 2026, https://refugeecamps.net/GalangCamp.html

11.  Keuskupan Pangkalpinang dan Perjuangan Melawan Perdagangan ..., diakses Maret 14, 2026, https://penakatolik.com/2024/04/04/keuskupan-pangkalpinang-dan-perjuangan-melawan-perdagangan-manusia/

12.  EVERYBODY'S CHALLENGE - Jesuit Refugee Service (JRS), diakses Maret 14, 2026, https://jrs.net/wp-content/uploads/2022/07/EverybodysChallenge.pdf

13.  A Vietnamese Woman Flees Her Country's Totalitarian Communist ..., diakses Maret 14, 2026, https://canada.jrs.net/en/story/a-vietnamese-woman-flees-her-countrys-totalitarian-communist-regime/

14.  Une Vietnamienne fuit le régime communiste totalitaire de son pays – JRS Canada, diakses Maret 14, 2026, https://canada.jrs.net/fr/temoignage/une-vietnamienne-fuit-le-regime-communiste-totalitaire-de-son-pays/

15.  Tempat Ziarah Gua Maria di Jawa | PDF | Agama & Spiritualitas - Scribd, diakses Maret 14, 2026, https://id.scribd.com/doc/141198463/e-BookLokasiGuaMariaDiPulauJawa

16.  Remembering 25 Years - JRS Asia Pacific, diakses Maret 14, 2026, https://apr.jrs.net/wp-content/uploads/sites/18/2005/11/25-years-JRSAp.pdf