GpApGUAiBSYoTUr8GpAiTUdoTY==

Galang: Kesedihan yang Tak Bernama

Tugu Kemanusiaan Pulau Galang

Galang… angin April kembali berhembus

Memanggil kenangan yang perih di tengah kehancuran
Nisan-nisan sunyi tanpa nama
Meringkuk di tanah asing… yang terasa seperti tanah air.

Asap dupa tipis seperti kesedihan manusia
Menggantung di udara, tak sampai ke langit tinggi
Siapa yang menyalakan bagi hidup yang belum sempat dijalani
Agar jiwa-jiwa tak lagi tersesat dan terombang-ambing…

Senja turun perlahan, kabut meresap di celah dingin
Menusuk ke hati dalam setiap detak kesepian
Doa-doa pilu tak perlu diajarkan
Namun tercekat… tetap terucap menjadi kata.

Ada mereka yang tak pernah saling mengenal
Namun menunduk seakan mengantar sanak saudara
Satu sujud… terasa seperti runtuhnya seratus tahun
Satu doa… seberat rindu akan tanah air.

Galang itu—bukan sekadar tanah makam
Melainkan tempat kenangan berubah menjadi luka
Nasib-nasib yang hanyut dalam keterasingan
Telah mati… namun duka belum juga usai.

Berlutut di sisi makam, angin menggoyang jiwa rerumput liar
Seakan langit dan bumi ikut menangis bersama
“Wahai… jika suatu saat dapat kembali
Izinkan sekali saja… menyebut nama tanah air…”

April itu, adakah yang masih mengingat
Berapa banyak perjalanan tanpa kepulangan
Berapa banyak mimpi terkubur di dalam tanah
Tak pernah sempat… mekar dalam harapan…

Asap masih mengepul… dan hati tetap teriris
Di Galang, senja ungu menjatuhkan jiwa
Aku berdiri di sana—seperti menanggung utang sepanjang zaman
Sebuah kesedihan… yang tak mampu disebut dengan kata…

Type above and press Enter to search.