![]() |
| Pastor Gildo Dominici SJ bersama Pater Rolf Reichenbach dan para anggota TNTT Galang |
Pagi itu saya menerima sebuah email dari seorang rekan Jesuit yang mengabarkan bahwa mentor tercinta saya telah meninggal dunia. Saya terkejut dan terpaku. Kenangan tentang beliau segera kembali memenuhi ingatan saya...
Pertama kali saya bertemu Romo Dominici adalah pada Oktober 1979, ketika beliau datang dari Tanjung Pinang, Indonesia, ke kamp pengungsian kami di pulau Araya dan Kuku di Kepulauan Anambas. Beliau datang setiap beberapa minggu sekali untuk membawa surat serta merayakan Misa dan memberikan pendampingan bagi kami.
Pada Paskah tahun 1980, kamp Kuku ditutup sebagai kamp pengungsian permanen dan seluruh pengungsi Vietnam dipindahkan ke Kamp Galang. Pagi itu kami merayakan Ekaristi bersama untuk terakhir kalinya di Kuku. Romo Dominici mendampingi kami menuju kapal yang membawa kami ke Pulau Galang, rumah baru kami.
Selama tiga bulan di Galang, saya belajar darinya tentang cara hidup Gerakan Focolare, dan sejak saat itu hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya datang ke Amerika Serikat pada Juli 1980 tanpa pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi.
Namun Tuhan memiliki cara untuk mempertemukan kami kembali.
Pada tahun 1986, saya bertemu lagi dengan Romo Dominici di California, di sebuah rumah retret. Itulah awal dari banyak surat-menyurat kami. Pada masa itu beliau sudah dipindahkan dari Galang, Indonesia, ke Bataan di Filipina untuk bekerja bersama para pengungsi.
Karena sikapnya yang tegas membela hak asasi manusia melawan berbagai penyalahgunaan di kamp oleh otoritas Filipina, beliau menerima banyak ancaman pembunuhan. Sekitar tahun 1988–1989 beliau meninggalkan Bataan dan pindah ke Amerika Utara.
Sekitar tahun 1990, beliau datang ke Quebec, Kanada, agar dapat melayani para pengungsi Vietnam yang telah menetap di Amerika Utara secara penuh waktu. Pelayanan kali ini terutama berfokus pada pendampingan rohani.
Sejak tahun 1985, beliau datang ke Amerika Utara setiap musim panas untuk memimpin retret Ignasian, beberapa di antaranya saya bantu selenggarakan. Bekerja bersamanya dalam retret-retret itu adalah pengalaman yang luar biasa.
Saya masih ingat pertama kali beliau menugaskan saya memimpin doa pagi. Saya gagal total, tetapi beliau tidak menyerah terhadap saya. Beliau terus membimbing dan membiarkan saya bertumbuh dalam spiritualitas Ignasian.
Terakhir kali saya bertemu langsung dengannya adalah pada tahun 1995 ketika saya masih novis Jesuit di Provinsi California. Beliau sangat bahagia mendengar panggilan hidup saya dan berkata bahwa ia akan mendoakan ketekunan saya. Ia menepati janjinya—dan masih melakukannya hingga kini.
Kami tidak pernah bertemu lagi, tetapi tetap berhubungan lewat surat dan telepon. Saya tahu cinta terbesar dalam hidupnya adalah Gerakan Focolare. Suatu kali beliau mengatakan bahwa spiritualitas Focolare terasa lebih cocok baginya dibanding spiritualitas Ignasian. Namun demikian, sepanjang hidupnya ia tetap menjadi seorang Jesuit yang setia.
Beberapa tahun kemudian, Romo mengatakan kepada saya bahwa Tuhan memanggilnya pada tugas baru, dan ia tidak akan lagi datang ke Amerika. Diasingkan dari Vietnam—negara yang sangat ia cintai—ia selalu ingin kembali untuk melayaninya. Ia berkata bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya melayani orang-orang miskin di Vietnam.
Mimpinya sebagian terwujud. Sekitar tahun 1997, ketika situasi politik di Vietnam mulai membaik, ia mengunjungi negara itu untuk melihat kemungkinan pelayanan di sana. Ia beberapa kali kembali ke Vietnam untuk mengajar Hukum Kanonik bagi para seminaris, namun pelayanan itu terhenti karena kesehatannya memburuk—ia didiagnosis menderita kanker.
Dalam beberapa tahun terakhir hidupnya, kesehatannya semakin menurun, tetapi ia tetap penuh harapan. Saya tahu kankernya kambuh, tetapi ia tetap ceria.
Dalam surat terakhir yang ia kirim kepada saya pada Januari 2003, ia menulis:
“...kesehatan saya stabil. Perkembangan kanker telah berhenti, tetapi saya tetap harus hidup bersamanya. Jelas bahwa Tuhan belum menghendaki saya meninggal. Ia ingin menguduskan saya melalui penderitaan agar saya dapat mencapai kasih yang lebih besar.”
Namun akhirnya ia pulang ke rumah Bapa pada pukul 00.30 tanggal 3 Maret 2003.
![]() |
| Anh Tran, SJ (sumber:pilgrimage.gtu.edu) |
Saya tidak memiliki biografi lengkap hidup Romo Dominici, tetapi berikut beberapa bagian penting dari perjalanan hidupnya. Informasi ini saya peroleh dari Romo Julian Elizalde, SJ—sahabat sekaligus rekan Jesuitnya di Roma.
Gildo Dominici lahir pada 5 Maret 1935 di Assisi, dalam keluarga pekerja sederhana. Ia adalah anak sulung dengan seorang adik laki-laki dan perempuan. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dalam kecelakaan kerja. Ibunya yang menjadi janda harus berjuang membesarkan tiga anak kecil. Hidup sangat sulit. Kemiskinan semakin diperparah oleh dampak Perang Dunia II. Namun seluruh keluarga tetap hidup dalam iman dan harapan.
Gildo masuk seminari keuskupan dan ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1960. Adik laki-lakinya menjadi tukang kayu dan adik perempuannya menjadi penjahit.
Setelah beberapa tahun melayani di paroki, ia bergabung dengan Society of Jesus pada tahun 1964 dan memperoleh gelar doktor Hukum Kanonik dari Gregorian University. Ia datang ke Vietnam pada tahun 1968 sebagai misionaris Jesuit.
Setelah dua tahun belajar bahasa Vietnam, ia bergabung dengan fakultas teologi di Seminari Kepausan Pius X di Dalat yang dikelola Jesuit. Ia mengajar di sana sampai akhirnya diusir oleh rezim komunis yang baru berkuasa.
Sesudah itu ia pergi ke Indonesia. Ia dengan cepat mempelajari bahasa Indonesia dan bergabung dengan Provinsi Jesuit Indonesia. Namun cintanya kepada orang-orang Vietnam mendorongnya mencari kesempatan untuk melayani para pengungsi.
Sekitar tahun 1978, ia mulai melayani penuh waktu bagi boat people Vietnam di berbagai kamp pengungsian di Indonesia. Di Pulau Galang, ia menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam kehidupan rohani, budaya, dan sosial para pengungsi, tanpa memandang agama.
Bersama beberapa rekan, ia menerbitkan buletin bulanan stensilan bernama Tự Do (“Kebebasan”) sebagai wadah bagi para pengungsi untuk berbagi pengalaman dan menyuarakan kebutuhan mereka.
Ketika kamp Galang yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa ditutup pada pertengahan 1980-an, Romo Dominici pergi ke kamp pengungsi Bataan di Filipina dan melanjutkan pelayanannya beberapa tahun lagi.
Ia juga melayani komunitas Vietnam di Amerika Utara dalam bidang rohani dan pastoral. Ia memimpin retret Ignasian dan menjadi pendamping rohani serta liaison gerejawi bagi versi Vietnam dari Christian Life Communities, yang juga dikenal sebagai “Gerakan Đồng Hành”, dari tahun 1991 hingga 1993.
Ia menerbitkan tiga buku dalam bahasa Vietnam:
Ra Khơi (“Berlayar Keluar”)
Vietnam, Quê Hương Tôi (“Vietnam, Tanah Airku”)
Đi Tìm Anh Em (“Mencari Saudara-Saudari”)
Dua buku pertama berisi refleksi tentang pengalaman pengungsi Vietnam, sementara buku ketiga merefleksikan pelayanannya di kalangan kaum muda, khususnya melalui pengalaman bersama komunitas Focolare.
Setelah beberapa tahun tinggal di Amerika Utara, ia kembali ke Italia pada tahun 1997 untuk bekerja di rumah retret Galloro di Ariccia.
Pada tahun 1998, ia didiagnosis menderita kanker. Ia menjalani beberapa operasi dan kemoterapi selama setahun. Kondisinya sempat membaik karena kanker memasuki masa remisi beberapa tahun, tetapi penyakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Tahun berikutnya kanker itu kembali.
Walaupun menderita karena rasa sakit dan kemoterapi, ia tetap ceria. Sekitar sebulan sebelum wafat, kanker sudah tidak terkendali dan hati beliau mengalami gagal fungsi.
Ia meninggal dengan damai pada pukul 12.30 siang tanggal 3 Maret 2003—dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-68.
Semua yang bisa saya katakan tentang Romo Dominici adalah: saya pernah mengenal seorang santo.
Gildo, doakanlah kami!
Anh Tran, SJ
Jesuit School of Theology, Berkeley, California.

