
Pengungsi Vietnam ketika penyambutan Pater Rolf Reichenbach di Galang
Galang oh Galang...
Kini entah engkau berada di sudut dunia yang mana, tetapi setiap kali angin laut melewati lorong-lorong kenangan, hatiku kembali bergelombang.
Jarak yang memisahkan kita bukan sekadar bentangan samudra yang luas, melainkan jarak sepanjang perjalanan hidup—sebuah kerinduan yang berjalan begitu jauh namun tak pernah benar-benar berakhir.
Pada masa itu, kaki-kaki telanjang melangkah di atas pasir yang panas, membawa tanah air di dalam mata yang sembab oleh air mata. Di belakang mereka ada perang dan penderitaan; di hadapan mereka terbentang laut yang tak pasti arah tujuannya. Dan di tengah keluasan itu, Galang membuka pelukannya untuk menyambut jiwa-jiwa yang terluka.
Ada malam-malam ketika debur ombak di pantai terdengar seperti nyanyian seorang ibu yang memanggil dari kejauhan. Ada mereka yang duduk menatap bulan di atas laut, diam-diam menangisi kerinduan kepada kampung halaman yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Ada cinta yang baru mulai bersemi, namun segera layu karena penerbangan menuju negeri tujuan yang memisahkan mereka. Ada sahabat-sahabat yang berpisah di dermaga, mengira suatu hari akan bertemu kembali, tanpa pernah menyadari bahwa perpisahan itu ternyata untuk selamanya.
Waktu terus berlalu...
Rambut-rambut hitam yang dahulu penuh semangat kini telah memutih dimakan usia. Anak-anak yang tumbuh di Galang kini telah menjadi kakek dan nenek, dikelilingi cucu-cucu yang riang bermain di sekitar mereka.
Namun anehnya, kenangan itu tetap utuh seperti hari pertama.
Masih ada jalan tanah merah yang sama.
Masih ada kapel kecil yang berdiri di bawah pepohonan yang diterpa angin laut.
Masih ada pemakaman yang sunyi menghadap samudra luas, tempat beristirahat mereka yang tidak pernah sempat mencapai pantai kebebasan.
Galang oh Galang...
Mungkin karena di sanalah air mata terakhir sebuah bangsa yang terusir pernah ditampung, maka meskipun terpisah setengah putaran bumi, engkau tetap hidup di dalam hati mereka yang mengembara.
Setiap kali namamu disebut, ada keheningan yang muncul di dalam dada.
Keheningan karena rindu.
Keheningan karena syukur.
Keheningan karena begitu banyak hal yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Dan suatu hari nanti, ketika rambut telah seputih awan, ketika kaki tak lagi kuat melangkah untuk kembali, kami akan tetap menceritakan kepadamu kepada anak cucu kami:
"Dahulu kala, ada sebuah pulau bernama Galang."
Pulau itu bukan tanah air kami, tetapi menjadi rumah bagi hari-hari paling kelam dalam hidup kami.
Pulau itu bukan tempat kami dilahirkan, tetapi di sanalah sisa hidup kami diselamatkan.
Dan meskipun samudra terbentang luas, langit menjulang tinggi, serta tahun-tahun terus menumpuk debu waktu di atas segalanya,
Galang akan selalu menjadi pelita yang tak pernah padam,
yang terus menyala di dalam hati mereka yang sepanjang hidupnya membawa kerinduan akan tanah air.
Selamanya.
Oleh Manh Phuong