Oleh: Cosmas Eko Suharyanto, Ketua Panitia Seminar Internasional dan Misa Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia 2026
Ada sebuah perahu yang menyimpan lebih dari sekadar kisah perjalanan. Di atasnya, Bunda Maria berdiri sebagai lambang iman, perlindungan, dan harapan. Bagi sebagian orang, patung itu mungkin hanya sebuah karya seni religius. Namun, jika kita memahami sejarah di baliknya, kita akan melihat sesuatu yang lebih dalam: kesaksian tentang manusia yang pernah meninggalkan tanah air, mengarungi ketidakpastian, dan mempertahankan harapan ketika masa depan terasa begitu jauh.
Itulah makna yang ingin kami nyatakan ketika menginisiasi kehadiran Patung Maria di Atas Perahu dalam rangkaian Seminar Internasional dan Misa Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia 2026 di Batam, pada 20 September 2026.
Gagasan ini lahir dari perenungan sederhana: apa hubungan antara perayaan bagi para migran dan pengungsi hari ini dengan sejarah pengungsi Vietnam yang pernah menjadikan Pulau Galang sebagai tempat persinggahan dan pemrosesan pengungsian mereka? Bagi saya, hubungan itu tidak hanya terletak pada kesamaan pengalaman meninggalkan tanah air. Ada pula jejak iman yang patut dirawat, yakni spiritualitas Bunda Maria yang menyertai perjalanan manusia di tengah ketidakpastian.
Galang dan ingatan tentang manusia perahu
Pada akhir 1970-an hingga 1996, Pulau Galang menjadi bagian penting dari penanganan pengungsi Vietnam di Indonesia. Mereka dikenal luas sebagai Vietnamese Boat People atau manusia perahu. Banyak dari mereka meninggalkan Vietnam melalui perjalanan laut yang berbahaya, menghadapi ketidakpastian, keterpisahan dari keluarga, dan masa depan yang belum jelas.
Indonesia menjadi salah satu negara yang menyediakan tempat penampungan dan pemrosesan bagi para pengungsi tersebut sebelum sebagian dari mereka ditempatkan kembali ke negara ketiga atau menjalani proses kepulangan. Kawasan Galang kemudian berkembang menjadi ruang kehidupan sementara, lengkap dengan fasilitas sosial, pelayanan kesehatan, sekolah, serta tempat ibadah.
Gereja Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, monumen kapal pengungsi, serta berbagai peninggalan lain yang menjadi saksi peristiwa kemanusiaan tersebut. Jejak-jejak itu memperlihatkan bahwa Galang bukan sekadar lokasi penampungan. Di sana pernah tumbuh kehidupan sosial, budaya, dan spiritual sebuah komunitas yang sedang berjuang melewati masa sulit.
![]() |
| Proses mengangkat Patung Maria di Atas Perahu ke lantai 4 Ballroom Hotel Pasific, Batam |
Salah satu jejak yang paling menyentuh adalah Patung Maria di Atas Perahu.
Bagi orang yang melihatnya tanpa mengetahui latar belakangnya, patung itu mungkin hanya tampak sebagai representasi religius. Namun, ketika diletakkan dalam konteks sejarah pengungsian, maknanya menjadi lebih luas. Perahu mengingatkan kita pada perjalanan dan risiko yang dihadapi para pengungsi. Maria mengingatkan kita pada iman, penyertaan, dan pengharapan yang menjadi bagian dari kehidupan sebagian komunitas tersebut.
Mengapa Maria di Atas Perahu hadir dalam perayaan Minggu Migran?
Sebagai panitia Seminar Internasional dan Misa Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia 2026, kami melihat adanya keterhubungan yang kuat antara sejarah Galang dan tujuan perayaan tersebut.
Tema kegiatan kami, “Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur,” berbicara tentang manusia yang bergerak melintasi batas wilayah, membawa harapan sekaligus menghadapi risiko. Di dalamnya ada kisah para pekerja migran, awak kapal perikanan, awak buah kapal, pelaut, serta para pengungsi yang harus meninggalkan tempat asal mereka.
Karena itu, kami menginisiasi agar Patung Maria di Atas Perahu turut hadir dalam perayaan tersebut. Kami tidak ingin kegiatan ini hanya menjadi forum seminar yang membicarakan migrasi melalui data, regulasi, kebijakan, dan paparan para narasumber. Semua itu penting, tetapi ada dimensi lain yang juga perlu dihadirkan: ingatan tentang manusia yang pernah mengalami perjalanan sulit dan menemukan kekuatan untuk terus berharap.
Patung tersebut menjadi penghubung simbolis antara masa lalu dan masa kini. Ia membawa ingatan tentang para pengungsi Vietnam di Galang ke tengah percakapan mengenai kerentanan migran masa sekarang. Ia mengingatkan kita bahwa persoalan migrasi bukan sekadar perpindahan penduduk atau urusan administrasi. Di balik setiap perjalanan terdapat manusia dengan nama, keluarga, keyakinan, kecemasan, dan impian.
Kehadiran patung itu juga merupakan penghormatan kepada sejarah Galang. Batam bukan hanya kawasan industri, perdagangan, dan kepelabuhanan. Wilayah ini pernah menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan internasional. Sejarah tersebut sepatutnya tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi sekarang.
Stella Maris: Maria, Bintang Samudra, dan para pelaut
Nama Stella Maris berarti Bintang Samudra, sebuah gelar tradisional bagi Bunda Maria yang erat dengan spiritualitas umat Katolik, khususnya mereka yang hidup dan bekerja di laut.
Bagi pelaut, laut dapat menjadi ruang penghidupan, tetapi juga ruang penuh risiko. Jarak yang jauh dari keluarga, kondisi kerja yang berat, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, serta persoalan kontrak dan perlindungan hukum merupakan sebagian tantangan yang dapat dihadapi pekerja maritim. Bagi awak kapal migran, tantangan itu dapat bertambah ketika mereka berhadapan dengan perbedaan bahasa, yurisdiksi, dan sistem pelayanan di berbagai negara.
Dalam konteks inilah simbol Maria di Atas Perahu menjadi relevan bagi Stella Maris Batam. Ia mengingatkan kita pada spiritualitas yang melandasi pelayanan kepada pelaut dan keluarga mereka: mendekati mereka yang berada jauh dari rumah, menemani mereka dalam kesulitan, dan memperjuangkan agar mereka diperlakukan secara manusiawi.
Maria sebagai Bintang Samudra bukan hanya simbol untuk dipandang dalam sebuah perayaan. Ia menjadi undangan untuk bertanya: apakah para pekerja yang mengarungi laut demi kehidupan keluarga mereka mendapatkan perlindungan yang layak? Apakah mereka mengetahui hak-haknya? Apakah tersedia tempat untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah? Dan apakah masyarakat bersedia mendengarkan suara mereka yang sering kali jauh dari pusat perhatian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti pada devosi. Iman perlu menjelma menjadi kepedulian, pelayanan, dan tindakan nyata.
Pada akhirnya, makna terdalam Maria di Atas Perahu bukanlah bahwa perjalanan manusia selalu bebas dari badai. Maknanya justru terletak pada keberanian untuk tetap berharap ketika badai datang, dan pada tanggung jawab kita untuk tidak membiarkan sesama menghadapinya seorang diri.
Dari Galang, kita belajar tentang ketabahan para pengungsi. Dari iman mereka, kita belajar tentang harapan. Dan melalui perayaan Minggu Migran, kita diajak untuk meneruskan warisan itu dalam bentuk tindakan nyata: menyambut, melindungi, mendampingi, serta memperjuangkan martabat setiap manusia yang berada dalam perjalanan.*
