Di kompleks bekas Kamp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, yang kini dikenal sebagai lokasi ziarah Maria di Atas Perahu, terdapat sebuah peninggalan yang sangat menyentuh: sebuah prasasti berisi Tessera Legio Mariae. Bagi banyak peziarah, mungkin itu hanya teks doa. Namun bagi seorang Legioner, itu adalah jejak iman, tanda bahwa di tengah derita pengungsian, semangat Legio tetap menyala.
Prasasti itu memuat doa khas dari Legio Mariae, sebuah gerakan kerasulan awam Katolik yang didirikan oleh Frank Duff di Dublin, Irlandia, tahun 1921. Doa Tessera bukan sekadar rangkaian kata, tetapi pernyataan totalitas penyerahan diri kepada Roh Kudus melalui Bunda Maria untuk karya keselamatan jiwa-jiwa.
Jejak Legio di Tengah Pengungsian
Kamp pengungsi Vietnam di Galang menampung ribuan “boat people” yang melarikan diri dari konflik dan ketidakpastian politik di tanah air mereka pada akhir 1970-an hingga 1990-an. Mereka datang dengan perahu sederhana, mempertaruhkan nyawa di laut, meninggalkan rumah, harta, bahkan keluarga.
Namun di tengah kehilangan itu, mereka tidak meninggalkan iman.
Adanya prasasti Tessera menunjukkan bahwa di antara para pengungsi itu terdapat anggota Legio Mariae. Artinya, bahkan dalam kondisi tanpa kepastian masa depan, mereka tetap mempraktekkan spiritualitas Legio Mariae.
Bayangkan: orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan yang jelas, masa depan yang kabur, dan hidup dalam kamp penampungan, namun masih setia pada komitmen kerasulan mereka.
Tessera: Identitas yang Tak Tergoyahkan
Dalam tradisi Legio Mariae, Tessera adalah tanda identitas. Seorang Legioner sejati tidak hanya menghafalnya, tetapi menghidupinya.
Ketika para pengungsi Vietnam mengukir atau menempatkan Tessera di tempat itu, mereka seakan berkata:
“Kami boleh kehilangan tanah air, tetapi kami tidak kehilangan iman.
Kami boleh terombang-ambing di laut, tetapi kami tetap milik Maria.”
Inilah spiritualitas yang sejati iman yang tidak bergantung pada kenyamanan, fasilitas, atau keamanan. Bagi Legioner zaman sekarang yang mungkin menghadapi tantangan kesibukan, kelelahan, atau kejenuhan pelayanan, kisah ini menjadi cermin yang kuat.*
![]() |
| Pastor Gildo Dominici SJ bersama Legioner Vietnam di Galang (kemungkinan setelah perayaan Acies) |
![]() |
| Tampak Veksilum Legio Maria dalam sebuah perayaan Pengungsi Vietnam di Galang |



