GpApGUAiBSYoTUr8GpAiTUdoTY==

Cahaya Harapan di Tengah Laut: Kisah Penyelamatan Manusia Perahu Vietnam

Tuan Nelson bersama ibu Nyonya Vuong, Mai Tran, dan ayahnya, Thiem Vuong, di pertemuan tersebut. Keluarga Vuong diselamatkan di sebuah kapal nelayan di Laut Cina Selatan pada tahun 1980. Kredit...Demetrius Freeman untuk The New York Times

Diadaptasi dari laporan The New York Times, 7 November 2017

Pada bulan Juni 1980, sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang bergabung dengan 57 pengungsi lainnya. Mereka melarikan diri dari penindasan politik di Vietnam dengan menaiki sebuah perahu nelayan tua yang rapuh, memulai perjalanan berbahaya melintasi Laut Cina Selatan.

“Jika kami tetap tinggal di Vietnam, kami akan mati terpisah. Maka saya membuat keputusan,” kenang Mai Tran, yang bersama suaminya, Thiêm Vương, membawa ketiga anak mereka yang masih kecil naik ke perahu itu.
“Jika kami mati, kami akan mati bersama.”

Para penumpang yang putus asa ini merupakan bagian dari gelombang besar pengungsi Vietnam yang dikenal sebagai manusia perahu (boat people) setelah berakhirnya Perang Vietnam.

Putri mereka, Lauren Vương, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, masih mengingat dengan jelas perjalanan mengerikan selama sepuluh hari itu. Badai tropis mengamuk tanpa henti, sementara persediaan makanan, air, dan bahan bakar semakin menipis. Mereka berada di ambang kematian.

Namun pada pagi hari tanggal 29 Juni 1980, saat matahari terbit, sebuah titik kecil muncul di cakrawala. Perlahan-lahan titik itu membesar—menjadi sebuah harapan.

Itulah L.N.G. Virgo, sebuah kapal tanker raksasa sepanjang hampir 300 meter. Kapal itu akhirnya menyelamatkan seluruh 62 pengungsi di atas perahu tersebut. Sebagian besar dari mereka kemudian memulai hidup baru dan menjadi warga negara Amerika Serikat.

Pencarian yang Tak Pernah Padam

Puluhan tahun kemudian, Lauren Vương—yang kini menjadi seorang pengacara di San Francisco—tidak pernah melupakan mereka yang telah menyelamatkan hidup keluarganya.

Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari:catatan kapal, arsip maritim, dokumen awak kapal, dan berbagai sumber lainnya. Hingga akhirnya, pencarian itu membuahkan hasil.

Pada suatu hari Sabtu, ia bersama keluarganya melakukan perjalanan dari California ke New York untuk menghadiri sebuah pertemuan di SUNY Maritime College, Fort Schuyler, Bronx. Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan para penyelamatnya.

Kisah di Balik Pelarian

Setelah Perang Vietnam berakhir pada tahun 1975, Thiêm Vương—yang pernah menjadi perwira di Tentara Vietnam Selatan—dipenjara selama empat tahun oleh rezim komunis. Selama itu, istrinya, Mai Tran, harus berjuang seorang diri membesarkan ketiga anak mereka.

Ketika akhirnya dibebaskan, meskipun masih dalam tahanan rumah, mereka merencanakan pelarian.

Mai Tran berhasil mendapatkan sebuah perahu nelayan kecil sepanjang 35 kaki bernama Thắng Lợi (yang berarti “Kemenangan”). Dalam kondisi terdesak, seorang wanita bahkan disewa untuk membuat nahkoda kapal mabuk, sehingga para pengungsi dapat mengambil alih kapal tersebut dengan paksa dan memaksanya berlayar.

Di Tengah Laut yang Ganas

Di tengah laut, perahu kecil itu dihantam gelombang besar seperti dinding air asin yang gelap. Lauren mengenang jeritan para penumpang yang seolah sudah pasrah menghadapi kematian di laut.

Mai Tran berusaha tetap bertahan. Ia membuat obor dari pakaian dan berjaga sepanjang malam, berharap ada kapal yang melihat mereka.

Banyak kapal melintas. Namun tidak satu pun berhenti. Hingga akhirnya…

Virgo datang.

“Ibu saya menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan,” kenang Lauren.
“Ia berkata: Kita akan hidup.

Saat Penyelamatan Terjadi

Don Walsh, salah satu awak kapal Virgo, pertama kali melihat perahu itu saat bertugas jaga pagi di dek kapal. Larry O’Toole, kepala insinyur, mengenang bagaimana mereka mendekat dan melihat kondisi para pengungsi:

“Persediaan mereka hampir habis—mereka benar-benar sudah di ujung batas.”

Dua insinyur, Ken Nelson dan Dan Hanson, diturunkan untuk memeriksa kondisi kapal kecil itu.

Yang mereka temukan sangat memilukan: perempuan dan anak-anak berdesakan, kondisi yang kotor, penuh kotoran dan muntahan, “Anda harus benar-benar tidak berperasaan untuk melihat wajah-wajah itu dan tetap pergi,” kata Hanson.

Ken Nelson segera melaporkan kepada kapten kapal, Hartmann Schonn:

“Kapal ini tidak layak berlayar. Kita harus membawa mereka naik.”

Tanpa ragu, proses penyelamatan pun dimulai. Para pengungsi diangkat satu per satu dari perahu kecil itu menuju kapal besar.

Belas Kasih Seorang Kapten

Perahu Thắng Lợi hanyalah satu dari sekian banyak perahu pengungsi yang dihentikan oleh Kapten Hartmann Schonn selama pelayarannya.

Menurut para awak kapal, Kapten sering menghentikan kapal untuk menyelamatkan pengungsi, ia menyiapkan kasur bagi mereka, bahkan membantu mereka dengan penuh perhatian. 

Bagi para pengungsi, tindakan itu bukan sekadar penyelamatan… melainkan awal dari kehidupan baru.

Lauren Vuong bersama Dan Hanson (kiri) dan Ken Nelson, saat reuni para pengungsi Vietnam yang dikenal sebagai "Manusia Perahu" dan beberapa pelaut yang telah menyelamatkan mereka. Kredit...Demetrius Freeman untuk The New York Times



Sumber: New York Times

Komentar0

Type above and press Enter to search.