Cintaku Kandas, Selamat Tinggal Galang, Selamat Tinggal Guruku


Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan mendapatkan perasaan seperti ini. Kadang aku merasa sangat rendah diri atau bahkan depresi mengingat keadaan di Galang. Namun, semua itu kutahan juga. Aku bertekat untuk menyiapkan kehidupanku untuk masa depan dengan belajar bahasa lnggris sebisa mungkin.

Tiap kali kulihat adik laki-lakiku yang amat setia dan berdedidikasi aku menjadi amat terharu. Aku harap ia tahu bahwa aku pun amat merindukan orang tua yang kami tinggalkan di pantai pada subuh waktu itu. Aku berjanji untuk melindunginya dan apa yang kulakukan di Galang ini demi untuknya pula. Kuharap kami bisa secepatnya bisa segera pergi ke Amerika untuk mengubah nasib kami.

Aku tidak tahu bagaimana nasib bapak-ibu kami . Sudah hampir setahun, tepatnya 11 bulan dan 3 minggu kami . melihat mereka terakhir kali . Walaupun aku selalu berdoa kepada bunda Maria agar mereka selalu sehat, aku tak dapat menghindarkan perasaan khawatir in i. Bapak sakit-sakitan dan kalau batuk selalu berdahak dan berdarah. Kondisi ini menjadi-jadi setelah ia keluar dari re-education camp dalam keadaan menyedihkan dan kurus kerontang.

Tapi, baiklah, aku tidak mau membayangkan yang bukan-bukan. Aku yakin Tuhan selalu akan melindunginya. Sekarang aku hanya ingin berpikir positif saja untuk masa depan kami .

Adikku akhir-akhir ini bertanya-tanya mengapa aku sering berlama-lama belajar di sekolah. Dari pagi sampai tengah hari dan kalau makan siang usai aku segera bergegas ke sekolah lagi untuk bekerja sebagai relawan . Menjadi guru pembantu menjahit di sekolah keterampilan VOCED (Vocational School) memberiku kesempatan untuk bisa menyibukkan diri supaya bisa melupakan situasi yang amat tidak menentu ini. Namun, apakah aku jujur terhadapnya atau terhadap diriku sendiri, bila ternyata aku betah tinggal lama-lama di sekolah karena faktor lainnya. Mungkin ia sudah mencium gelagat ini. Sekarang aku bisa berlama-lama melamun, mengharapkan pertemuan dengan guru kami. la bukan orang Vietnam, namun selalu bersedia membantu kami, selalu penuh perhatian dengan keadaan kami, dan dengan senang hati dan sabar mendengarkan celoteh kami tentang Vietnam. la pula yang selalu memberikan harapan untuk kehidupan kami di Amerika. Mungkinkah ia bisa melihat pipiku yarig kadang memerah ketika memandangnya? Semoga tidak.

Namun, aku sadar, kami hanyalah pengungsi, tanpa · hak, tanpa kelebihan apa-apa. Mungkin guru kami inipun memandang kami tak lebih dari itu. Tapi .. ., bagaimana aku bisa menyembunyikan perasaan ini?

Semuanya seperti sepintas saja. Aku tak tahu apakah aku akan bisa bertemu denganmu setahun, sepuluh tahun atau bertahun-tahun lagi. Namun aku sadar aku tak mungkin melupakanmu, bahkan kala maut harus merenggut nyawaku. Waiau tak pernah kuucapkan, aku harap kau tahu, engkau telah menjadi bagian dari lubuk hatiku. Bayanganmu menghuni sanubariku. Selamat tinggal Galang, selamat tinggal guru.

Sumber: Pulau Galang, Wajah Humanisme Indonesia