Jejak Pengungsi Kamboja di Pulau Galang

Gereja Hati Kudus Yesus, Galang, Peninggalan Pengungsi Kamboja

Situasi geopolitik di Asia Tenggara pada pertengahan hingga akhir dekade 1970-an ditandai dengan pergolakan ideologi yang sangat masif, yang pada gilirannya memicu gelombang migrasi paksa terbesar di kawasan tersebut pasca-Perang Dunia II. Meskipun narasi sejarah yang dominan sering kali menitikberatkan pada fenomena "manusia perahu" asal Vietnam, Pulau Galang di Kepulauan Riau sebenarnya menyimpan lapisan sejarah yang lebih kompleks, mencakup kehadiran signifikan dari para pengungsi Kamboja. Pulau ini berfungsi sebagai sebuah mikrokosmos dari krisis kemanusiaan Indochina yang lebih luas, di mana penderitaan akibat perang saudara dan genosida bertemu dengan upaya diplomasi kemanusiaan Indonesia yang sangat sistematis. Salah satu bukti fisik paling nyata dari kehadiran pengungsi Kamboja yang sering kali terlupakan ini adalah keberadaan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, di Galang, sebelum masuk area ex Pengungsi Vietnam.

Akar Eksodus Kamboja 

Akar dari kehadiran pengungsi Kamboja di Pulau Galang berhulu pada runtuhnya stabilitas politik di Kamboja yang dimulai pada tahun 1975. Kemenangan rezim Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot tidak hanya mengakhiri perang saudara di daratan, tetapi juga memulai salah satu periode paling gelap dalam sejarah modern manusia yang dikenal sebagai genosida Kamboja. Kebijakan radikal "Tahun Nol" yang diterapkan oleh Khmer Merah bertujuan untuk menghapuskan semua bentuk modernitas, kelas menengah, intelektual, dan pengaruh agama dari masyarakat Kamboja. Hal ini mengakibatkan kematian jutaan warga sipil dan memicu gelombang pengungsian masif ke perbatasan Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Krisis ini semakin memuncak ketika Vietnam menginvasi Kamboja pada akhir tahun 1978 untuk menggulingkan rezim Khmer Merah. Perang antara dua kekuatan komunis ini menciptakan perpindahan penduduk yang semakin besar, di mana warga sipil terjepit di antara garis pertempuran dan kelaparan yang melanda hebat. Para pengungsi ini tidak hanya melarikan diri dari ancaman kematian langsung, tetapi juga dari penghancuran total tatanan sosial yang telah mereka kenal. Dalam konteks inilah, Pulau Galang dipilih oleh Pemerintah Indonesia dan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) sebagai tempat pemrosesan bagi para pencari suaka dari kawasan Indochina tersebut.

Pulau Galang sebagai Pusat Pemrosesan Pengungsi (RPC)

Pemilihan Pulau Galang sebagai lokasi penampungan bukan merupakan keputusan yang dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan hasil dari pertimbangan strategis yang mendalam oleh Panitia Pembina Pengungsi Vietnam (P3V) dan UNHCR. Secara geografis, Pulau Galang memiliki isolasi yang cukup untuk memastikan keamanan dan pengawasan yang efektif, namun tetap memiliki aksesibilitas yang memadai melalui jalur laut menuju Singapura untuk kepentingan logistik dan komunikasi internasional. Kamp ini dirancang untuk menjadi sebuah entitas yang mandiri secara fungsional, mencakup area seluas sekitar 80 hektar hingga 16 kilometer persegi yang terbagi ke dalam beberapa zona fungsional.

Meskipun identitas kamp ini secara luas dikenal sebagai "Kamp Vietnam," data historis menunjukkan bahwa pengungsi Kamboja menempati posisi yang signifikan dalam struktur demografis pulau tersebut. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak pengungsi Vietnam yang mencapai ratusan ribu, populasi Kamboja diperkirakan berjumlah antara ratusan hingga 5.000 orang pada puncak krisis. Karakteristik pengungsi Kamboja di Galang sering kali berbeda dalam hal durasi menetap, di mana mereka rata-rata tinggal selama sekitar dua tahun sebelum mendapatkan penempatan di negara ketiga seperti Amerika Serikat, Prancis, atau Australia.

Pengungsi Kamboja di Galang

Infrastruktur Khusus Masyarakat Kamboja 

Kehadiran pengungsi Kamboja di Pulau Galang didukung oleh infrastruktur administratif dan sosial yang spesifik. Tidak seperti pengungsi Vietnam yang mendiami barak-barak besar di zona Site I dan II, komunitas Kamboja memiliki kantor koordinasi masyarakat sendiri yang berfungsi sebagai penghubung antara para pengungsi dengan otoritas kamp dan UNHCR. Kantor ini menjadi pusat pendataan dan pengaturan keberangkatan menuju negara ketiga.

Selain kantor administratif, pengungsi Kamboja meninggalkan jejak budaya yang sangat khas melalui pemanfaatan lahan di sekitar kamp. Di lereng-lereng bukit Pulau Galang, mereka membangun barak-barak sederhana yang berdampingan dengan gubuk-gubuk kecil dan kebun sayuran yang luas. Kegiatan bercocok tanam ini bukan hanya berfungsi sebagai penopang gizi tambahan di samping jatah dari UNHCR, tetapi juga menjadi mekanisme koping psikologis untuk mempertahankan keterikatan mereka dengan identitas agraris yang dihancurkan oleh rezim di tanah air mereka.

Fasilitas Kamp GalangFungsi dan PeruntukanPengguna Utama
Kantor Masyarakat KambojaKoordinasi administratif dan pemrosesan suaka

Pengungsi Kamboja

Barak Site IA, IB, IIHunian massal dengan kapasitas ribuan orang

Pengungsi Vietnam dan Kamboja

Youth CenterPelatihan keterampilan dan bahasa Inggris

Calon pemukim negara ketiga

Kebun Sayur BukitProduksi pangan mandiri dan aktivitas harian

Terutama pengungsi Kamboja

Rumah Sakit PMIPelayanan kesehatan dan penanganan trauma

Seluruh penghuni kamp 

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus: 

Integrasi pengungsi Kamboja ke dalam narasi sejarah Pulau Galang menemukan pembuktian yang paling kuat melalui keberadaan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus. Dalam konteks pengungsian, tempat ibadah bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan pusat gravitasi sosial dan emosional yang memberikan rasa kontinuitas di tengah disrupsi kehidupan yang ekstrem. Gereja ini berdiri sebagai bukti keberagaman latar belakang keyakinan para pengungsi Indochina, termasuk kelompok minoritas Katolik asal Kamboja yang melarikan diri dari persekusi agama oleh rezim Khmer Merah.

Keberadaan Gereja Hati Kudus Yesus sering kali dibedakan dari Gereja Katolik "Nha Tho Duc Me Vo Nhiem" yang lebih dominan digunakan oleh komunitas Vietnam. Nama "Hati Kudus Yesus" (Sacred Heart of Jesus) sendiri merupakan devosi yang universal dalam Gereja Katolik, yang melambangkan kasih sayang dan pengampunan Tuhan bagi umat manusia yang menderita. Bagi para pengungsi Kamboja yang telah menyaksikan kekejaman genosida, simbolisme ini memiliki resonansi spiritual yang sangat mendalam.

Bangunan gereja di Pulau Galang umumnya menggunakan struktur kayu yang disesuaikan dengan kondisi iklim tropis. Gereja Hati Kudus Yesus dirancang dengan plafon tinggi dan sistem ventilasi yang memungkinkan aliran udara alami, menciptakan ruang doa yang tenang dan sejuk bagi para pengungsi. Di dalam gereja ini, para pengungsi tidak hanya melaksanakan misa, tetapi juga berkumpul untuk saling menguatkan, merayakan hari besar keagamaan, dan berdoa bagi anggota keluarga yang hilang atau masih terjebak di zona konflik.

Hingga saat ini, bangunan Gereja Hati Kudus Yesus tetap dipertahankan sebagai bagian dari situs wisata sejarah Pulau Galang. Namun, kondisinya saat ini beberapa bagian sudah lapuk yang membutuhkan renovasi kembali dengan tetap mempertahankan struktur asli bangunan.

Papan Nama Gereja Hati Kudus Yesus, berbahasa Khmer di Galang

Kembalinya Pengungsi Kamboja ke Tanah Air 

Bagi pengungsi Kamboja, harapan untuk pulang mulai muncul seiring dengan ditandatanganinya Perjanjian Damai Paris pada tahun 1991, yang mengakhiri konflik berkepanjangan di Kamboja. UNHCR menginisiasi program repatriasi sukarela yang sangat masif, di mana ratusan ribu warga Kamboja dari berbagai kamp di Thailand dan Indonesia (termasuk Galang) mulai dipulangkan di bawah pengawasan Otoritas Transisi PBB di Kamboja (UNTAC).

Namun, proses pemulangan ini tidak selalu berjalan mulus. Sebagian pengungsi yang telah bertahun-tahun tinggal di Galang merasa takut untuk kembali ke negara yang masih trauma dan penuh dengan ranjau darat. Ketegangan memuncak pada pertengahan 1990-an ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk menutup kamp secara total. Aksi protes besar-besaran terjadi, di mana para pengungsi membakar perahu-perahu mereka sebagai simbol penolakan untuk dipulangkan paksa. Pada akhirnya, melalui proses diplomasi dan penegakan hukum, pengungsi terakhir meninggalkan Pulau Galang pada September 1996, menandai berakhirnya babak panjang sejarah pengungsian Indochina di Indonesia.

Disarikan dari berbagai sumber. 

1.      Pulau Galang dan Kisah Manusia Perahu Asal Vietnam - melayupedia.com, diakses Maret 9, 2026, https://www.melayupedia.com/berita/119/pulau-galang-dan-kisah-manusia-perahu-asal-vietnam

2.      MENELUSURI JEJAK PENGUNGSI VIETNAM DI PULAU GALANG ..., diakses Maret 9, 2026, https://jurnal.btp.ac.id/index.php/menata-btp/article/download/355/280

3.      BAB I PENDAHULUAN - Perpustakaan Politeknik Keuangan Negara STAN, diakses Maret 9, 2026, https://perpustakaan.stan.ac.id/wp-content/uploads/ninja-forms/13/d-iii_pbb-penilai/d-iii_pbb-penilai_6-05_wesly-desmon-simanjuntak_2302190410.pdf

4.      (PDF) MENELUSURI JEJAK PENGUNGSI VIETNAM DI PULAU GALANG TENTANG SEJARAH, KONFLIK, DAN KENANGAN KELAM - ResearchGate, diakses Maret 9, 2026, https://www.researchgate.net/publication/401165588_MENELUSURI_JEJAK_PENGUNGSI_VIETNAM_DI_PULAU_GALANG_TENTANG_SEJARAH_KONFLIK_DAN_KENANGAN_KELAM

5.      Lessons from one of the largest and longest refugee crises in history, diakses Maret 9, 2026, https://rli.blogs.sas.ac.uk/2024/10/21/lessons-from-one-of-the-largest-and-longest-refugee-crises-in-history/

6.      Repatriation and Reintegration of Cambodian Refugees: Issues and Concerns, diakses Maret 9, 2026, https://refuge.journals.yorku.ca/index.php/refuge/article/download/21748/20418

7.      Indochina refugee crisis - Wikipedia, diakses Maret 9, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Indochina_refugee_crisis

8.      Tinjauan Historis Pengungsian Vietnam di Pulau Galang 1979-1996 - Takuana, diakses Maret 9, 2026, https://ejurnal.man4kotapekanbaru.sch.id/takuana/article/download/24/8/92

9.      The Comprehensive Plan of Action for Indochinese Refugees, 1989–1997: Sharing the Burden and Passing the Buck - Oxford Academic, diakses Maret 9, 2026, https://academic.oup.com/jrs/article-pdf/17/3/319/4471494/170319.pdf

10. Sejarah Pulau Galang buat Tampung Pengungsi Gaza - CNN Indonesia, diakses Maret 9, 2026, https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250808184823-106-1260460/sejarah-pulau-galang-buat-tampung-pengungsi-gaza

11. Sejarah UNHCR | UNHCR Indonesia, diakses Maret 9, 2026, https://www.unhcr.org/id/who-we-are/sejarah-unhcr

12. Pulau Galang - Refugee Camps - Vietnamese Heritage Museum, diakses Maret 9, 2026, https://vietnamesemuseum.org/our-roots/refugee-camps/indonesia/pulau-galang/

13. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perang Vietnam pecah setelah ditandatanganinya Persetujuan Jenewa tanggal 21 Juli 19 - E-Journal Universitas Atma Jaya Yogyakarta, diakses Maret 9, 2026, http://e-journal.uajy.ac.id/7285/2/HK110638.pdf

14. Jalan-Jalan Ke Kampung Vietnam Pulau Galang - Djkn.kemenkeu.go.id, diakses Maret 9, 2026, https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-rsk/baca-artikel/16052/Jalan-Jalan-Ke-Kampung-Vietnam-Pulau-Galang.html

15. Menilik Eks Kamp Vietnam Bakal Lokasi Penampungan Pengungsi ..., diakses Maret 9, 2026, https://www.voaindonesia.com/a/menilik-eks-kamp-vietnam-bakal-lokasi-penampungan-pengungsi-rohingya/7414471.html

16. Kilas Balik Pulau Galang Jadi Tempat Penampungan Pengungsi Vietnam - Tempo.co, diakses Maret 9, 2026, https://www.tempo.co/politik/kilas-balik-pulau-galang-jadi-tempat-penampungan-pengungsi-vietnam--140662

17. Pulau Galang Wajah Humanisme Indonesia - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses Maret 9, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/29188/2/PULAU%20GALANG%20WAJAH%20HUMANISME%20INDONESIA.pdf

18. FOTO BERITA: Gereja Santa Maria Imakulata Galang, Gereja Para Pengungsi Vietnam | Mirifica News, diakses Maret 9, 2026, https://www.mirifica.net/foto-berita-gereja-santa-maria-imakulata-galang-gereja-para-pengungsi-vietnam/

19. keping kenangan pulau galang – tindak tanduk arsitek, diakses Maret 9, 2026, https://tindaktandukarsitek.com/2016/01/31/keping-kenangan-pulau-galang/

20. Wisata Sejarah ke Pulau Galang - Republika.id, diakses Maret 9, 2026, https://www.republika.id/posts/57704/wisata-sejarah-ke-pulau-galang

21. Pulau Galang Jadi Lokasi Pengobatan Warga Gaza oleh Presiden Prabowo, Ini Sejarah & Kisah Mistis - YouTube, diakses Maret 9, 2026, https://www.youtube.com/watch?v=pPWBfxc8kqs

22. Selain Keindahannya, Pulau Galang Juga Menyimpan Kampung Vietnam yang Penuh dengan Sejarah - Superlive.id, diakses Maret 9, 2026, https://superlive.id/superadventure/artikel/wilderness/selain-keindahannya-pulau-galang-juga-menyimpan-kampung-vietnam-yang-penuh-dengan-sejarah

23. UNITED NATIONS TRANSITIONAL AUTHORITY IN CAMBODIA (UNTAC) - Background (Summary), diakses Maret 9, 2026, https://peacekeeping.un.org/mission/past/untacbackgr1.html

24. Galang Refugee Camp - Wikipedia, diakses Maret 9, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Galang_Refugee_Camp

25. kamp sinam pulau galang : potensi wisata sejarah yang terabaikan - Repositori, diakses Maret 9, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23834/1/KAMP%20SINAM%20PULAU%20GALANG_POTENSI%20WISATA%20SEJARAH%20YANG%20TERABAIKAN.pdf

26. Sejarah Camp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam - Serumpun Radio, diakses Maret 9, 2026, https://www.serumpunradio.com/2012/08/sejarah-camp-pengungsi-vietnam-di-pulau.html

27. Sejarah Pulau Galang yang Diusulkan Wapres untuk Menampung Pengungsi Rohingya, diakses Maret 9, 2026, https://www.youtube.com/watch?v=lmoA8C6VC08

28. Sejarah Pulau Galang: Dari Tampung Pengungsi Vietnam hingga Warga Gaza - detikcom, diakses Maret 9, 2026, https://www.detik.com/sumut/berita/d-8050803/sejarah-pulau-galang-dari-tampung-pengungsi-vietnam-hingga-warga-gaza