![]() |
| Minh Lê bersama seorang teman di kamp pengungsi Galang saat Natal 1979. Mereka bernyanyi bersama di paduan suara kamp pengungsi |
Minh Lê, bersama ibunya dan dua saudara perempuannya, tiba di Kanada sebagai pengungsi dari Vietnam pada bulan Maret 1980. Mereka melarikan diri dari rezim komunis totaliter Vietnam dengan menggunakan perahu, dalam gelombang kedua eksodus pengungsi dari negara tersebut.
“Singkatnya, orang tua saya melarikan diri dari komunisme dari Vietnam Utara ke Vietnam Selatan pada tahun 1954. Saat itu Vietnam terpecah. Kakek-nenek saya dari kedua pihak keluarga membawa orang tua saya dari utara ke selatan. Kemudian kaum komunis mengambil alih Vietnam Selatan pada tahun 1975. Karena itu orang tua saya membawa saya menuju laut,” kata Lê dalam sebuah wawancara dengan Jesuit Refugee Service Canada.
Keempat perempuan tersebut termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai “manusia perahu” (boat people), sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tiga gelombang besar emigrasi dari wilayah Indochina antara tahun 1975 hingga 1990.
Pada gelombang pertama tahun 1975, sekitar 4.000 pengungsi Vietnam tiba di Montreal, Kanada.
Minh dan keluarganya merupakan bagian dari gelombang kedua. Pada tahun 1980 mereka disponsori oleh anggota Richelieu Club di Boucherville, sebuah kelompok sosial yang terdiri dari 25 anggota.
“Pada tahun 1979, para uskup di Quebec mengeluarkan seruan untuk mensponsori para pengungsi dari Vietnam. Perjalanan panjang mereka banyak diberitakan oleh media. Saya adalah anggota Richelieu Club di Boucherville, sebuah klub sosial yang memiliki misi filantropi. Kami memutuskan untuk ‘melakukan bagian kami’,” kata Jules Allard, salah satu anggota klub tersebut, dalam wawancara dengan Jesuit Refugee Service Canada.
![]() |
| Foto dari artikel surat kabar di La Seigneurie, 19 Maret 1980, halaman 7. |
Pada tahun yang sama, pemerintah Kanada juga memutuskan untuk menerima lebih banyak warga Vietnam dengan membentuk program sponsor pengungsi. Antara tahun 1979 hingga 1981, wilayah Quebec menerima sekitar 13.000 imigran.
Namun sebelum akhirnya tiba di Kanada, keluarga Minh telah beberapa kali mencoba melarikan diri dari Vietnam. Upaya-upaya yang gagal tersebut membawa konsekuensi yang sangat berat.
“Kami mencoba sekali pada bulan Juli 1977, tetapi itu ternyata sebuah jebakan. Seluruh keluarga kami dipenjara,” kata Lê.
Keluarga Minh harus melalui banyak penderitaan sebelum akhirnya tiba di Kanada. Selama dua tahun mereka hidup tanpa tempat tinggal tetap, kemudian kehilangan seluruh tabungan mereka dan terpaksa meminjam uang dari seorang sepupu.
“Kehidupan di bawah rezim itu sudah tidak lagi bisa disebut sebagai kehidupan,” kata Lê.
Bahkan, keluarga tersebut pernah menyamar sebagai warga negara Tiongkok ketika pemerintah Vietnam ingin mengusir semua warga keturunan Tiongkok dari negara itu. Dengan menggunakan dokumen palsu sebagai orang Tiongkok, ibu Minh, bersama tiga putrinya termasuk Minh, mencoba melarikan diri sekali lagi. Kali ini mereka berhasil.
“Akhirnya kami dapat berangkat pada bulan Juni 1979. Tujuh hari tujuh malam di laut, hanya air, langit, dan ikan-ikan yang melompat,” kenang Lê.
Perjalanan menuju Indonesia sangatlah berat. Para pengungsi di dalam perahu itu berhari-hari tanpa makanan atau air yang cukup, dan ruang di dalam perahu sangat sempit.
“Kami berada di sebuah perahu kecil dengan sekitar 400 orang. Bahkan tidak ada satu meter persegi untuk empat orang,” kata Lê.
Keluarga yang terdiri dari empat orang itu kemudian ditarik oleh kapal lain pada malam hari menuju ujung selatan Indonesia dan akhirnya mendarat di sebuah pulau kecil. Di sana mereka memulai perjalanan panjang selama sembilan bulan melalui berbagai kamp pengungsi. Akhirnya, pada bulan Desember 1979, mereka tiba di kamp transit Galang, tempat bantuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi diberikan kepada para pengungsi.
Sayangnya, seperti yang sering terjadi dalam situasi seperti itu, keluarga Minh beberapa kali harus terpisah. Ayah Minh lebih dahulu dipenjara di Vietnam, kemudian dikirim ke sebuah kamp konsentrasi selama dua tahun.
“Ia ditinggalkan sendirian, tanpa tempat berteduh, di Vietnam setelah kami pergi secara diam-diam,” kata Lê.
Ketika tiba saatnya meninggalkan kamp Galang, keluarga mereka kembali terpisah. Salah satu saudara perempuan Minh mengalami masalah pada catatan medisnya sehingga harus ditahan di kamp bersama ibunya. Sementara itu, Minh melanjutkan perjalanan bersama saudara perempuannya yang lain dengan kapal laut menuju Singapura. Setelah menginap satu malam di Singapura, mereka naik penerbangan langsung Air Canada menuju Edmonton.
“Itu adalah penerbangan khusus untuk mengangkut para manusia perahu dari Vietnam, kebanyakan berasal dari kamp pengungsi di Hong Kong,” kata Lê.
Dari bandara Edmonton, mereka kemudian diantar dengan bus menuju pangkalan militer CFB Griesbach.
Semua pengungsi yang baru tiba diberikan pakaian musim dingin yang baru. Setelah dua minggu tinggal dengan tempat tinggal dan makanan yang layak, keluarga mereka akhirnya dipersatukan kembali sebelum berangkat menuju Montreal. Mereka siap memulai kehidupan yang sama sekali baru.
Mereka meninggalkan Edmonton dan tiba di Montreal pada tanggal 10 Maret 1980. Pada saat yang sama, Minh juga berkesempatan bertemu kembali dengan saudara laki-lakinya yang sebelumnya telah tiba di Montreal dari kamp pengungsi Pulau Bidong di Malaysia.
Perjalanan panjang mereka hampir berakhir. Minh dan keluarganya kemudian dibawa ke Boucherville dan untuk sementara tinggal selama satu minggu di sebuah hotel kecil. Sementara itu, tempat tinggal permanen sedang dipersiapkan oleh para sponsor mereka, anggota Club Richelieu, di kawasan Plateau Mont-Royal.
Kini, setelah 45 tahun berlalu, Minh menjalani kehidupan yang tenang di Kanada bersama ibunya. Ia bekerja keras membangun kariernya dan sangat bersyukur atas semua yang telah dicapainya. Minh juga terlibat sebagai relawan di Jesuit Refugee Service, karena ia ingin membalas kebaikan yang pernah ia terima dengan cuma-cuma.
Ia juga kemudian mensponsori kedatangan ayahnya ke Kanada. Ayahnya akhirnya tiba lima tahun kemudian melalui jalur resmi. Ia meninggal dunia di Montreal pada tahun 2017.
Minh masih menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan keluarga Allard dan menganggap mereka sebagai orang tua angkatnya.
“Karena persahabatan, kami terus menjaga hubungan dengan mereka. Kami membangun ikatan yang kuat dan bahkan diundang ke pernikahan Minh. Mereka juga mengundang kami ke rumah mereka. Mereka sangat murah hati dan penuh rasa syukur,” kata Claire De Grandpré, istri Jules Allard.
“Ikatan ini memberi kami banyak hal: membuka pandangan kami tentang dunia, tentang perang, tentang negara mereka, serta membantu kami memahami reaksi orang-orang yang pernah mengalami semua itu.”
Diterjemahkan dari website Jesuit Refugee Service, Canada


