Masa Kecil dan Awal Keberangkatan
Bayangkan jika Anda hidup di tengah berkecamuknya perang. Bagaimana Anda menilai kualitas hidup Anda dibandingkan dengan apa yang Anda miliki saat ini? Apakah Anda akan mampu bertahan hidup? Inilah kenyataan hidup ayah saya, Tuan Ton, yang lahir di tengah peperangan—sebuah konflik antara dua kubu dalam satu negara yang seharusnya tidak pernah terjadi. Ia telah melewati semua pengalaman pahit itu.
Tuan adalah putra dari seorang tentara yang berjuang untuk tentara Vietnam Selatan selama Perang Vietnam. Perang tersebut berakhir dengan kekalahan pihak Selatan dan bangkitnya rezim komunis di Vietnam. Sebagai anak keenam dari keluarga pekerja dengan 13 bersaudara, Tuan tumbuh besar tanpa mengenal apa pun selain perang. Ia tinggal di kota Trà Vinh, Provinsi Trà Vinh, di wilayah Delta Mekong, Vietnam Selatan. Di sana ia bersekolah dan melakukan pekerjaan serabutan untuk membantu mencari uang.
Tahun 1984 menjadi titik balik dalam hidup Tuan. Sepuluh tahun setelah jatuhnya Saigon ke tangan pasukan komunis, Tuan yang saat itu berusia 14 tahun, bersama kakak perempuan dan adik laki-lakinya, dinaikkan ke atas perahu. Mereka memulai perjalanan berbahaya, meninggalkan rumah dan keluarga demi melarikan diri dari penindasan yang dialami oleh mereka yang menentang rezim komunis.
Kamp Pulau Tarempa
Setelah berlayar selama tiga hari berturut-turut di laut lepas, perahu Tuan akhirnya mendekati sebuah pulau di kejauhan. Daratan itu adalah Pulau Tarempa, satu dari empat pulau di Kepulauan Anambas. Dari jauh, pulau itu tampak seperti surga hijau yang rimbun, namun Tuan dan para pengungsi lainnya tidak menyadari bahwa keindahan seringkali hanya tampak di permukaan. Saat perahu terus hanyut mendekati pulau, mereka dihadang oleh petugas kemanusiaan yang menggunakan rakit, berteriak meminta perahu Tuan berhenti.
"Mereka berteriak dan melambaikan tangan, dan kami segera menyadari alasannya. Saat perahu kami mendekat, bebatuan tajam tersembunyi di bawah permukaan air. Perahu kami bisa saja tenggelam jika kami terus melaju," kenang Tuan.
Para petugas menghampiri dan memandu perahu Tuan menuju zona aman melewati "ladang ranjau" berupa batu-batu yang tersebar di dasar laut. Begitu sampai di darat, 50 pengungsi bergegas turun. "Kami merasa sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki di tanah lagi," kata Tuan.
Para pengungsi dibawa ke kamp yang terletak di area terpencil di pulau tersebut. Kondisinya relatif bersih dibandingkan apa yang mereka alami di laut. Tuan menggambarkan fasilitas tempat tinggal mereka saat itu hanya berupa "selembar alas di atas tanah datar dengan atap di atasnya." Tuan menghabiskan beberapa hari menjelajahi kamp, namun keamanan sangat ketat sehingga ia tidak bisa keluar dari area tersebut. Setelah tiga hari proses pendataan oleh organisasi kemanusiaan, sebuah kapal besar tiba untuk membawa mereka ke tujuan berikutnya.
Kamp Pengungsi Sedanau
Setelah berlayar selama tiga jam, Tuan tiba di Kamp Pengungsi Sedanau di Kepulauan Natuna, bagian dari Kepulauan Riau, Indonesia. Saat turun dari kapal, mereka disambut oleh pemandangan yang digambarkan sebagai "kota terapung di atas air."
Kota Sedanau terdiri dari rumah-rumah dan toko-toko kayu di atas tiang pancang yang dihubungkan oleh jalan setapak kayu (pelantar) di atas laut biru yang jernih. Tuan mengingat deretan toko warna-warni yang menjual barang-barang di sepanjang dermaga.
Para pengungsi tinggal membaur dengan penduduk setempat dan menerima tunjangan harian beberapa dolar dari layanan kemanusiaan untuk membeli makanan. Setelah seminggu, mereka harus melanjutkan perjalanan. Itu adalah momen yang mengharukan bagi Tuan. "Rasanya sedih karena penduduk di Sedanau sangat baik kepada kami di masa-masa sulit."
Kamp Pengungsi Kuku
Setelah menempuh enam jam perjalanan dengan kapal besi besar, kelompok Tuan tiba di Kamp Pengungsi Kuku yang tersohor di Kepulauan Anambas. Kamp ini dikenal karena kekejamannya: makanan terbatas, bantuan medis minim, dan tindakan kasar dari oknum militer.
Kondisi di Pulau Kuku sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di tenda tentara tanpa penutup, tidur di atas alas tipis di tanah yang tidak rata, dan akses air bersih sangat jarang. Selama dua minggu di sana, Tuan menghadapi tantangan berat, terutama ketika adik laki-lakinya menderita demam parah. Dengan minimnya obat-obatan, nyawa adiknya terancam. Banyak pengungsi sebelumnya yang jatuh sakit dan tidak pernah berhasil meninggalkan pulau tersebut hidup-hidup.
Di sela-sela tugas harian membersihkan toilet yang diperintahkan penjaga, Tuan dan kakaknya bergantian merawat adik mereka. Mereka menduga demam itu disebabkan oleh nyamuk dan lingkungan yang kotor. Mereka mencari obat ke seluruh kamp yang sesak dan menukarkan apa pun yang mereka miliki demi makanan. "Kami mendengar banyak cerita tentang orang yang meninggal karena sakit di sini," ujar Tuan dengan cemas.
Keajaiban datang pada hari ketiga saat kiriman obat baru tiba melalui kapal kemanusiaan. Setelah seminggu pengobatan, adiknya berhasil pulih sepenuhnya. Tak lama kemudian, kelompok mereka dipanggil untuk dipindahkan ke kamp lain.
Kamp Pengungsi Galang
Tuan tiba di Galang, pusat pengungsian utama di Indonesia bagi warga Vietnam (sering disebut manusia perahu). Terletak di Kepulauan Riau, kamp ini telah menampung hingga 250.000 pengungsi.
Kamp ini dibagi menjadi dua bagian: Galang 1 untuk pengungsi yang baru tiba dan menunggu proses pendataan, serta Galang 2 untuk mereka yang siap diberangkatkan ke negara ketiga. Fasilitas di sini jauh lebih baik. "Barak tempat kami tinggal memiliki tempat tidur yang layak, atap, dan pintu yang bisa ditutup," kata Tuan.
Tuan menghabiskan delapan bulan di Galang. Setelah dua bulan, ia dan saudara-saudaranya dipindahkan ke Galang 2 setelah mendapat sponsor dari paman mereka yang tinggal di Australia. Selama menunggu keberangkatan, Tuan mengikuti kursus bahasa Inggris dan pengenalan budaya.
Pada 29 Mei 1985, saat sedang berjalan pulang dari kelas bahasa Inggris, nama Tuan dan saudara-saudaranya dipanggil melalui pengeras suara. Mereka diminta datang ke kantor administrasi. "Kami terkejut saat petugas memberi tahu bahwa kami akan segera menetap di Australia."
Kamp Hawkins Road
Sebelum menuju Australia, mereka singgah selama tiga hari di Kamp Hawkins Road, Singapura. Kamp ini adalah bekas barak tentara Inggris yang dikelola oleh UNHCR. Meskipun hanya sebentar, Tuan mengenang keramahan penduduk setempat yang sering menyumbangkan makanan dan barang—sebuah kemurahan hati yang jarang mereka temui selama perjalanan.
Tiba di Australia
Tuan dan saudara-saudaranya mendarat di Bandara Darwin pada 18 Juni 1985. Inilah awal kehidupan baru mereka—bebas dari diskriminasi dan penganiayaan. Setelah tiga bulan tinggal di Darwin dan bersekolah, mereka akhirnya pindah ke Melbourne untuk menyusul paman mereka, memulai babak baru sebagai warga negara Australia.*
Sumber: https://vietnamesemuseum.org/details/tuan-ton-the-story-of-a-young-vietnamese-man-searching-for-a-better-life/
