GpApGUAiBSYoTUr8GpAiTUdoTY==

Laksamana Muda (Pur) Kunto Wibisono, Mantan Ketua P3V Galang

Laksamana Muda Kunto Wibisono (kiri)

Pada awalnya, yang ada hanyalah tanah dengan hutan. Semua dikelilingi dengan sungai dan lautan. ltulah Pulau Galang yang pada awal tahun delapan puluhan menjadi perhatian dunia ketika terjadi eksodus besar-besaran dalam sejarah moderen Asia Tenggara. Pulau yang termasuk berukuran sedang ini nampaknya memiliki takdir sendiri ketika ia ditetapkan menjadi tempat penampungan sementara ribuan manusia perahu.

Laksamana Muda Kunto Wibisono, yang pada saat itu menjabat Pangdaeral 11, ditunjuk menjadi Ketua Tim Penanggulangan dan Pengelolaan Pengungsi Vietnam (P3V) Daerah. Dengan demikian ia pula yang menjadi salah satu orang yang merintis pembukaan dan pembangunan fisik kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Tempat yang dulunya hanya semak belukar dan bekas perkebunan kemudian digarap dan ditata dan semua dikomandoi oleh Kunto Wibisono menjadi sebuah "kota kecil tersendiri" dalam tempo enam bulan.

Pak Kunto, sebutan akrab pria yang masih tegap dan gagah ini, yang pada 23 Oktober 2010 diwawancarai di kediamannya di Jakarta, mengenang bagaimana berat tugas yang diembannya, ketika ia harus melakukan penelitian tentang pulau-pulau yang layak dijadikan penampungan sementara di antara puluhan pulau lainnya yang tersebar di Kepulauan Bintan, selagi arus deras manusia perahu Vietnam memuncak. Terpatri dalam ingatannya pesan Presiden Soeharto tentang tempat yang strategis untuk menampung para pengungsi, bahwa biaya proses penampungan pengungsi tidak dikeluarkan dari pemerintah Indonesia dan bahwa suatu saat penampungan ini ditutup, tak seorang pengungsi pun yang boleh tinggal di sana. Para pengungsi harus diperlakukan secara manusiawi (sila kedua Pancasila).

Di sisi lain, penanganan manusia perahu Vietnam ini sekaligus upaya untuk menetralisasi tanggapan negatif dunia internasional terhadap kebijakan dan tindakan Indonesia di Timar Timur. Timbulnya pengungsi Vietnam adalah akibat kekalahan Vietnam Selatan dan Amerika Serikat dalam peperangan di Vietnam dan bahwa masalah pengungsi Vietnam adalah masalah internasional yang melibatkan beberapa negara Asia Tenggara, sehingga wajarlah kalau PBB cq. UNHCR harus menanggung beban biayanya dan bukan negara ASEAN. UNHCR didesak untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini dan Amerika Serikat dalam perkembangan selanjutnya bersedia menampung sejumlah pengungsi di negaranya.

Dalam upaya mencari dan memilih pulau yang cocok, kemudahan menyalurkan pengungsi dijadikan pertimbangan utama. Dengan demikian kepulauan Natuna dan Anambas tidak ikut dipertimbangkan karenajauh dan tidak mudah dicapai. Setelah beberapa pulau sekitar pulau Bintan dievaluasi, disimpulkan bahwa pulau Galang adalah pilihan terbaik untuk membangun penampungan dan penyaluran pengungsi Vietnam ke negara ketiga karena letaknya dekat dan mudah mencapai Singapura sehingga memudahkan penyaluran pengungsi ke negara ketiga. Pulau ini terletak tidak jauh dari pulau Bintan sehingga mudah dijangkau dari Tanjung Pinang. Hal ini memudahkan pemberian dukungan logistik pengungsi penghuni kamp Pulau Galang.

Pulau Galang cukup memadai untuk dibanguni kamp penampungan bagi 10.000 pengungsi. Karena pulau ini pernah dijadikan kebun nenas milik PT Mantrust dan usaha ini gagal, maka perusahaan meninggalkan lahan terbuka yang sangat luas, sehingga dapat digunakan langsung untuk dijadikan kamp penampungan pengungsi. Pulau ini berpenduduk sedikit sehingga mudah mengisolasi para pengungsi.

Kini, setelah lebih dua puluh tahun penutupan Pulau Galang, Pak Kunto masih memajang foto kenangkenangan tatkala ia bertugas di pulau tersebut. Manis dan getirnya masih terasa di batinnya, ketika ia merintis bukan hanya sekedar menjalankan tugas prajurit tetapi juga melakukan kerja kemanusiaan di kepulauan Riau. Terima kasih Pak Kunto.

Sumber: Pulau Galang, Wajah Humanisme Indonesia

Komentar0

Type above and press Enter to search.