![]() |
| Pastor Gildo Dominici SJ (kanan) saat mendampingi Mgr. Rolf Reichenbach dalam Perayaan di Kamp. Pengungsian Galang |
Oleh Pastor JBT Phạm Quốc Hưng, CSsR
Kabar bahwa Pastor Gildo Dominici SJ wafat pada hari Senin, 3 Maret 2003 setelah lama menderita sakit, membuat saya teringat begitu banyak kenangan indah tentang imam yang ramah dan terhormat ini.
Pastor Dominici adalah imam pertama yang saya temui setelah saya melarikan diri dari Vietnam dan tiba di kamp pengungsi Pulau Galang pada bulan Juli 1981, setelah lebih dari satu bulan berada di Pulau Kuku. Begitu tiba di kamp Galang, saya membaca sebuah papan bertuliskan:
“Galang — Gerbang Kebebasan dan Kemanusiaan.”
Setelah lebih dari 13 bulan tinggal di Galang, saya menyadari bahwa sebagai imam yang melayani para pengungsi di kamp tersebut, Pastor Dominici telah menjadi simbol bagi cita-cita mencintai kebebasan dan mempromosikan kemanusiaan yang dipenuhi kasih Kristiani bagi semua pengungsi Vietnam, tanpa memandang agama.
Sejak pertama kali mengikuti Misa yang beliau rayakan di gereja kamp Galang, saya langsung merasa hormat, bersyukur, dan mengagumi beliau karena ia mampu merayakan Misa dalam bahasa Vietnam dan menyampaikan khotbah yang singkat namun penuh kasih kepada Tuhan dan sesama.
Kemudian saya mengetahui bahwa beliau lahir di Italia pada tahun 1935, ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1960 dalam Serikat Yesus, dan pernah menjadi profesor di **Pontifical College of Da Lat di Vietnam. Karena itu beliau sangat fasih berbahasa Vietnam.
Setelah peristiwa **Fall of Saigon pada 30 April 1975, beliau diusir dari Vietnam. Namun cinta mendalamnya terhadap bangsa Vietnam terus ia bawa sepanjang hidupnya. Oleh karena itu ia mencari kesempatan untuk kembali melayani orang-orang Vietnam dengan menjadi pastor bagi para pengungsi di kamp Galang.
Pelayanan bagi Para Pengungsi
Kasih Pastor Dominici kepada para pengungsi Vietnam membuatnya dengan tekun menggalang dana dari berbagai organisasi amal internasional dan para dermawan di seluruh dunia untuk membantu kehidupan para pengungsi di kamp.
Sebagai pastor kamp pengungsi, ia berkali-kali dengan berani membela para pengungsi Vietnam ketika mereka diperlakukan tidak adil oleh polisi Indonesia.
Agar surat dan uang kiriman dari keluarga di luar negeri tidak hilang, Pastor Dominici bahkan mengizinkan para pengungsi menggunakan nama dan alamatnya sebagai alamat korespondensi mereka.
Selain itu, beliau juga sangat peduli pada kehidupan budaya dan spiritual para pengungsi. Ia mengeluarkan dana sendiri untuk mendirikan majalah dua mingguan “Tự Do” (Kebebasan) yang bertujuan membangun semangat para pengungsi.
Kasihnya terhadap tanah air dan bangsa Vietnam terlihat jelas dalam khotbah-khotbah serta tulisan-tulisannya di majalah tersebut. Tulisan-tulisan itu kemudian diterbitkan kembali dalam buku berjudul “Việt Nam – Quê Hương Tôi” (Vietnam – Tanah Airku).
Mengajarkan Harga Diri Bangsa
Lebih dari siapa pun, Pastor Dominici membantu saya memiliki rasa bangga yang sejati sebagai orang Vietnam melalui kehidupan dan ajarannya yang penuh kasih.
Hal yang paling sering ia tekankan kepada para pengungsi Vietnam adalah: Para pengungsi harus memiliki harga diri dan kebanggaan nasional, Mereka tidak boleh bersikap seperti pengemis jika mampu berdiri sendiri, Mereka harus hidup dengan layak karena kebebasan mereka telah dibayar dengan harga yang sangat mahal, Mereka harus saling mengasihi dan bersatu.
Menurut Pastor Dominici, peristiwa tahun 1975 yang menyebabkan orang Vietnam tersebar di berbagai negara justru merupakan rahmat besar.
Ia berkata bahwa sejak peristiwa itu “orang Vietnam telah berbunga di seluruh dunia.”
Maksudnya adalah bahwa orang Vietnam akan menyebarkan semangat bangsa Vietnam — semangat mencintai Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan — di mana pun mereka tinggal sehingga dunia mengenal dan mencintai tanah air, manusia, dan budaya Vietnam.
Mengikuti teladan Paul the Apostle yang “menjadi segala sesuatu bagi semua orang”, Pastor Dominici benar-benar menjadi orang Vietnam bagi orang Vietnam agar mereka dapat menemukan jalan kembali kepada Tuhan.
Spiritualitas Hidupnya
Hal yang paling menjadi kerinduan Pastor Dominici adalah mewartakan Injil Kristus kepada semua orang.
Spiritualitas yang paling mempengaruhi hidupnya adalah spiritualitas persatuan dari Focolare Movement yang didirikan oleh Chiara Lubich.
Ia sering menekankan bahwa Kristus harus menjadi pusat mutlak kehidupan orang beriman.
Ia juga terus mengajak umat Katolik untuk: rajin membaca dan merenungkan Kitab Suci, mendengarkan Sabda Tuhan, dan menghidupi Sabda tersebut dalam kehidupan sehari-hari
Menurutnya, dunia saat ini tidak terlalu membutuhkan lebih banyak imam atau biarawan, tetapi lebih membutuhkan orang-orang kudus, orang-orang yang menjadi “Kristus yang lain”.
Yang terpenting dalam hidup bukanlah keberhasilan dalam studi, pekerjaan, status, atau hubungan, tetapi keberhasilan dalam kasih dan persatuan.
Kenangan Pribadi
Pada bulan September 1982 saya meninggalkan Galang untuk menetap di Amerika Serikat. Namun gambar imam yang suci dan penuh sukacita ini selalu tersimpan dalam hati saya. Setiap hari saya tetap mendoakan beliau sebagai salah satu orang yang sangat berjasa dalam hidup saya.
Ketika ia tidak lagi menjadi pastor kamp pengungsi, Pastor Dominici tetap melayani komunitas Katolik Vietnam di luar negeri melalui retret dan latihan rohani.
Saya berkesempatan bertemu kembali dengannya pada tahun 1985 ketika ia memimpin retret di komunitas Katolik Vietnam di Oklahoma City.
Setelah saya ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1994, saya kembali bertemu beliau dalam pertemuan kelompok spiritualitas Focolare.
Sekitar tahun 1997, saya diminta membantu mendengarkan pengakuan dosa dan ikut merayakan Misa bersama Pastor Dominici ketika ia memimpin retret di Orange County.
Ketika saya bertanya kepadanya:
“Apakah Pastor membutuhkan sesuatu?”
Ia tersenyum dan menjawab:
“... hanya membutuhkan kekudusan.”
Jawaban sederhana itu menunjukkan kerinduan mendalamnya untuk menjadi kudus.
Pesan Terakhir
Ketika saya mendengar kabar wafatnya, saya teringat pada sebuah artikel yang ia tulis beberapa tahun sebelumnya dalam majalah Đồng Hành milik Gerakan Latihan Rohani Vietnam.
Saat itu kesehatannya sudah mulai memburuk dan ia tidak lagi dapat bepergian untuk berkhotbah seperti dahulu.
Dari pengalaman sakit tersebut ia berkata bahwa ia menemukan kekuatan dan sukacita dalam Kristus dengan berusaha hidup menurut moto:
“Hiduplah saat ini dengan kasih yang terbesar.”
(Live the present moment with maximum of love.)
Saya merasa itulah pesan terakhir yang ingin ia tinggalkan bagi saya dan semua orang yang pernah mengenalnya.
Moto itu mengingatkan saya pada doa dan puisi seorang siswi yang pernah menulis:
“Yesus, aku hanya memiliki hari ini untuk mengasihi-Mu.”
Doa
Ya Tuhan Yesus yang terkasih, bersama Bunda Maria dan Santo Yosef aku mengasihi Engkau, aku memuji Engkau, dan aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mempertemukanku dengan Pastor Dominici pada awal hidupku sebagai pengungsi.
Melalui beliau aku belajar: mencintai Tuhan, bangga menjadi orang Vietnam, hidup dalam kasih dan persatuan
Semoga aku selalu mengingat ajaran dan teladan sucinya, terutama berusaha meneladaninya untuk hidup pada saat ini dengan kasih yang terbesar kepada Tuhan, kepada Bunda Maria, kepada Gereja, dan kepada semua orang.
Amin.
(19 Maret 2003)
Sumber: https://thanhlinh.net/vi/chi-co-hom-nay
