![]() |
| Adegan Kelahiran Yesus di Gereja Galang oleh Pengungsi Vietnam |
Pulau Galang di Kepulauan Riau, Indonesia, pernah menjadi tempat persinggahan ribuan pengungsi Vietnam, yang dikenal sebagai boat people setelah mereka melarikan diri dari tanah airnya pada 1975 hingga awal tahun 1990an. Di pulau kecil ini, di tengah kehidupan yang serba terbatas, para pengungsi tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menjaga iman dan harapan mereka.
Salah satu kenangan yang paling kuat adalah perayaan Natal di Pulau Galang sebagaimana diceritakan oleh Bùi Văn Phú.
Menjelang Natal, setiap sore dari pengeras suara gereja terdengar lagu-lagu Natal yang akrab bagi para pengungsi. Suara para penyanyi Vietnam seperti Khánh Ly, Thanh Lan, Sỹ Phú, dan Lệ Thu menggema di seluruh pulau, membawa kenangan akan kampung halaman yang telah mereka tinggalkan jauh di seberang laut.
Di tengah kehidupan sebagai pengungsi, musik dan lagu-lagu itu menjadi penghiburan yang mendalam, seakan menghubungkan mereka kembali dengan tanah air yang mereka rindukan.
Pada malam Natal, halaman Gereja Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Galang (Gereja Maria Immakulata) dipenuhi umat. Banyak orang berdiri atau duduk di halaman karena gereja tidak cukup menampung seluruh umat yang hadir.
Koridor depan gereja bahkan diubah menjadi panggung. Anak-anak dari kelompok Thiếu Nhi Thánh Thể (anak-anak Ekaristi), kaum muda Katolik, dan paduan suara menampilkan berbagai kegiatan: menyanyikan lagu Natal, memainkan drama kelahiran Yesus, dan berbagai pertunjukan sederhana untuk menyambut kelahiran Kanak-kanak Yesus.
Suasana malam itu mengingatkan para pengungsi pada kehidupan paroki di tanah air mereka. Walaupun berada jauh dari Vietnam, suasana Natal di Galang terasa sangat mirip dengan perayaan Natal di kampung halaman sebelum tahun 1975.
Lampu-lampu dan bintang Natal berkilau di sekitar gereja. Gua Natal dan palungan sederhana dipersiapkan dengan penuh cinta. Lagu-lagu pujian dan bunyi alat musik memenuhi udara malam di pulau itu.
Di tengah semua itu, banyak pengungsi merasakan kerinduan yang mendalam akan rumah dan keluarga mereka.
![]() |
| Umat (para pengungsi Vietnam) memenuhi halaman depan Gereja Galang |
Misa Natal di Pulau Galang dipimpin oleh para imam yang melayani para pengungsi, yaitu Romo Hùng dan Romo Padmo. Dalam salah satu khotbah Natal, Romo Padmo mengingatkan umat akan makna kata “pengungsi” dalam terang Injil.
Mereka mengingatkan bahwa Keluarga Nazaret juga pernah menjadi pengungsi, ketika Yosef dan Maria harus membawa bayi Yesus melarikan diri dari tanah Israel menuju Mesir untuk menghindari ancaman Raja Herodes.
Kisah Injil itu menjadi sumber penghiburan bagi para boat people di Galang. Mereka merasa bahwa penderitaan dan perjalanan mereka juga dipahami oleh Tuhan, yang sendiri pernah mengalami hidup sebagai pengungsi.
Dalam doa-doa malam Natal itu, para pengungsi memohon: kebebasan bagi tanah air Vietnam, perdamaian bagi dunia, keselamatan bagi keluarga yang masih tinggal di tanah air, serta harapan agar suatu hari mereka dapat menemukan tempat tinggal yang baru dan aman.
Walaupun hidup jauh dari kampung halaman dan dalam keadaan penuh ketidakpastian, para pengungsi tetap merayakan Natal dengan iman yang teguh. Mereka bernyanyi bersama, memanjatkan doa, dan merayakan kelahiran Kristus dengan hati yang penuh harapan.
Perayaan Natal di Pulau Galang menjadi bukti bahwa iman mampu memberi kekuatan bahkan di tengah penderitaan dan pengungsian.
Bagi banyak orang Vietnam yang pernah tinggal di Galang, kenangan Natal di pulau ini tetap hidup dalam ingatan mereka, sebagai malam penuh doa, air mata, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
![]() |
| Kehadiran "Santa Claus" membawa kegembiraan bagi anak-anak pengungsi Vietnam di Galang |
![]() |
| Dekorasi Natal di lokasi Galang Site I (Gereja Katolik St. Yoseph) |
Sumber: https://buivanphu.wordpress.com/2011/12/27/giang-sinh-%e1%bb%9f-n%c6%a1i-xa-nha/



