Pastor Dominici, seorang imam Yesuit asal Italia yang memiliki nama Vietnam Đỗ Minh Trí, telah meninggal dunia pada tanggal 3 Maret 2003. Peristiwa itu memang sudah lama berlalu, tetapi dalam ingatan kami beliau selalu menjadi seorang dermawan bagi para pengungsi Vietnam dan teladan yang layak ditiru. Dalam perjalanan kami baru-baru ini mengunjungi kembali kamp-kamp pengungsi, kami sering menyebut nama beliau. Ketika kembali ke Kanada, hati saya masih dipenuhi perasaan haru. Selama beberapa minggu terakhir saya membaca kembali hampir semua tulisan beliau. Saya membaca sambil menangis. Hari ini ketika menuliskan beberapa kenangan tentang beliau, saya masih sangat terharu.
Ketika Pastor Dominici baru berusia 8 tahun, ayahnya meninggal secara mendadak karena kecelakaan kerja. Ibunya harus bekerja keras sendirian untuk membesarkan tiga anak kecil, sekaligus berperan sebagai ayah dan ibu. Namun Dominici kecil tumbuh menjadi pribadi yang baik, masuk seminari dan akhirnya menjadi imam – seorang pelayan Tuhan dengan misi yang sangat khusus berkaitan dengan tanah air kami.
Sekitar tahun 1968, beliau meninggalkan Italia dan datang ke Vietnam. Selama dua tahun beliau belajar bahasa Vietnam, kemudian pergi ke Đà Lạt untuk mengajar Hukum Gereja (Canon Law) di Pontifical College hingga tahun 1975.
Setelah peristiwa 30 April 1975, beliau dipaksa meninggalkan Vietnam. Namun karena cintanya yang besar kepada orang Vietnam, beliau pergi ke kamp pengungsi Galang (Indonesia) untuk membantu para pengungsi Vietnam. Beliau sangat dicintai oleh banyak orang dan memiliki pengaruh besar dalam membangun kehidupan rohani serta moral para pengungsi pada masa itu.
Tuhan menganugerahkan kepadanya bakat bahasa yang luar biasa. Selain bahasa Vietnam, beliau juga belajar bahasa Indonesia, menulis dalam bahasa Prancis, berbicara dalam bahasa Inggris, dan sangat bijaksana dalam berkomunikasi.
Karena sering membela para pengungsi, Pastor Dominici akhirnya juga “diminta” meninggalkan kamp pengungsi di Indonesia. Karena itu pada tahun 1991–1993, beliau pergi ke berbagai tempat yang memiliki komunitas Vietnam seperti Amerika Serikat dan Kanada untuk memimpin retret rohani dan menjadi pembimbing spiritual bagi gerakan Đồng Hành. Kami juga pernah mengikuti retret bersama beliau di Toronto. Saya masih ingat kata-kata beliau saat menjelaskan bahwa Yesus sendiri pernah menjadi pengungsi ketika harus melarikan diri ke Mesir.
Galang – Gerbang Kebebasan
Kembali ke kisah di Galang, Indonesia. Pada masa itu Pastor Dominici menerbitkan majalah dua mingguan bernama “Tự Do” (Kebebasan) untuk menyediakan informasi sekaligus menjadi penghiburan rohani bagi para pengungsi.
Sedikit tentang Galang. Pulau kecil ini milik Indonesia dan sering disebut “Gerbang Kebebasan dan Kemanusiaan.” Saat itu bahkan beredar semacam pantun baru:
“Galang terkenal dengan kisah cinta,
Galang juga punya payung yang indah.”
Karena Galang berada dekat garis khatulistiwa dan sangat panas, siapa pun yang keluar dari barak – baik pria maupun wanita – biasanya membawa payung untuk melindungi diri dari matahari.
Saya dan suami saya juga bertemu dan saling mengenal di Galang, meskipun kisah kami tidak berakhir dengan putus cinta! Tiga tahun setelah meninggalkan kamp, kami menikah di California.
Sekitar tahun 1981–1982, Galang memiliki lebih dari 10.000 pengungsi. Jika menghitung total orang yang pernah tinggal di Indonesia dari tahun 1979 hingga 1996, jumlahnya mencapai sekitar 200.000 orang. Di Galang terdapat pasar, pagoda, gereja, pusat kegiatan, sekolah, dan berbagai fasilitas lain – seperti sebuah negara kecil.
Namun di bawah tekanan pemerintah Indonesia, Pastor Dominici akhirnya harus menghentikan tugasnya dan meninggalkan Galang. Karena itu majalah Tự Do berhenti terbit setelah lebih dari 100 edisi.
Saya masih ingat majalah tersebut berukuran 8.5 x 14 inci, dicetak hitam putih dengan teknik stencil di atas kertas putih tanpa warna. Perlu diketahui juga bahwa majalah itu diterbitkan dalam bahasa Vietnam, tetapi sebelum diterbitkan semua artikel harus diterjemahkan ke bahasa Inggris untuk disensor oleh pemerintah Indonesia.
Mungkin sekarang hanya sedikit orang yang masih menyimpan majalah tersebut. Ketika saya pindah ke negara tujuan, saya membawa beberapa edisi yang memuat tulisan dan gambar saya. Namun bertahun-tahun kemudian saat pindah rumah, saya justru membuangnya. Sekarang saya sangat menyesal. Semakin tua seseorang, semakin ia menghargai kenangan.
Untungnya ada orang yang mengumpulkan tulisan Pastor Dominici dan menerbitkannya dalam buku berjudul “Vietnam, Tanah Airku.” Kami juga menemukan buku “Menulis untuk Para Pengungsi Vietnam” setebal 140 halaman di internet. Selain itu ada buku “Mencari Saudara-Saudara” dan “Berlayar ke Laut”, yang sangat sarat dengan cinta bagi Vietnam.
Isi buku-buku tersebut adalah catatan nyata tentang kehidupan pengungsi, kerinduan akan tanah air, perjalanan mencari kebebasan, dan iman untuk membangun kembali kehidupan dan komunitas di tengah penderitaan pengasingan.
Seorang Pembela Pengungsi
Pastor Dominici dengan sepenuh hati mengumpulkan bantuan dari berbagai organisasi amal internasional dan para dermawan untuk membantu para pengungsi di kamp.
Secara spiritual, beliau juga berkali-kali membela pengungsi Vietnam ketika mereka diperlakukan tidak adil oleh polisi Indonesia. Beliau sering mengendarai Vespa dua roda, dan biasanya segera datang ke lokasi untuk membantu secara langsung.
Karena memahami bahwa para pengungsi sangat membutuhkan mengirim surat kepada keluarga, beliau mengizinkan mereka menggunakan nama dan alamatnya sendiri untuk mengirim surat. Jika surat itu menggunakan nama beliau, pihak Indonesia biasanya tidak berani membukanya atau mengambil uang yang ada di dalamnya. Bahkan jika uang tersebut hilang, beliau sering menggantinya dengan uang pribadinya sendiri.
Beliau juga mendorong berbagai organisasi untuk membuka kelas bahasa Inggris, pelatihan keterampilan kerja, serta memberikan panduan tentang bagaimana beradaptasi di negara ketiga. Beliau mengajak kaum muda Katolik bergabung dengan Kelompok Pemuda Katolik atau Gerakan Ekaristi Kaum Muda, dan sangat memperhatikan anak-anak berdarah campuran yang sering mengalami diskriminasi.
Kenangan Bersama
Pastor Dominici sangat dekat dengan kami. Saat itu teman-teman sering mengatakan bahwa suami saya, Duy, adalah anak kesayangan Pastor Dominici. Memang benar, karena Duy adalah ketua kelompok Pemuda Katolik dan sering terlibat dalam kegiatan sosial seperti memperbaiki jalan, membantu membangun kamar mandi yang lebih layak, mengadakan piknik dan pertunjukan seni.
Para orang tua di dewan paroki kadang tidak mendapat bantuan dana dari pastor. Tetapi jika Duy datang dengan rencana kegiatan untuk kaum muda, pastor langsung setuju.
Saya sendiri juga beruntung dapat bekerja di kantor majalah Tự Do di Galang dengan gaji bulanan yang cukup tinggi. Saya juga pernah memenangkan lomba puisi tahun 1981 dengan puisi berjudul “Air Mata Kasih.” Saya sangat senang, meskipun mungkin jumlah peserta lomba saat itu tidak banyak!
Sikap Hidup yang Menginspirasi
Ketika Pastor Dominici meninggal karena kanker usus besar, kami sudah menetap di Kanada. Kami mengadakan misa doa dan ucapan terima kasih untuk beliau di dua gereja besar Vietnam di Toronto. Banyak orang non-Katolik juga hadir dan sangat terharu.
Dalam salah satu tulisannya ketika mengetahui dirinya menderita kanker, beliau menulis dengan tenang:
“Jika sakit maka harus diobati.
Jika sembuh maka lanjut bekerja.
Jika meninggal maka kembali kepada Tuhan.”
Suatu sikap yang sangat berani dan realistis.
Beliau juga pernah berkata:
“Saya dapat menegaskan bahwa 13 tahun hidup di kamp pengungsi adalah 13 tahun paling bahagia dalam hidup saya.”
Walaupun memiliki bakat bahasa, beliau pernah berkata dengan bercanda:
“Bahasa Italia sangat mudah dipelajari, tetapi bahasa Vietnam membuat saya harus menumpahkan keringat dan air mata.”
Beliau juga pernah berkata dengan penuh kasih:
“Saya adalah orang Vietnam yang lahir di Italia.”
Atau:
“Assisi adalah kampung ayah saya, tetapi Bảo Lộc adalah tanah air saya.”
Warisan Iman dan Kemanusiaan
Secara keseluruhan, Pastor Dominici telah memainkan peran penting dalam mendampingi, mendidik, memberikan informasi, dan membela para pengungsi Vietnam pada masa-masa paling sulit dalam sejarah pengasingan mereka.
Tulisan-tulisan beliau menunjukkan pemahaman yang sangat mendalam tentang penderitaan hidup sebagai pengungsi. Beliau memuji keindahan, kejujuran, dan selalu mengingatkan orang untuk tetap memiliki harapan meskipun hidup jauh dari tanah air.
Bagi banyak orang, beliau adalah seorang dermawan yang dikirim Tuhan kepada bangsa Vietnam pada masa paling sulit dalam sejarah mereka.
Saat ini Pastor Dominici sedang dalam proses pengusulan untuk dinyatakan sebagai Beato (Beatifikasi) dalam Gereja Katolik. Proses ini membutuhkan waktu dan prosedur yang panjang. Namun meskipun gelar itu belum resmi diberikan, bagi banyak orang beliau sudah dianggap sebagai teladan besar yang mempersembahkan seluruh hidupnya dengan hati yang besar dan kerendahan hati.
Kami percaya nama dan kebaikan beliau akan selalu dikenang dan dihormati.
Bagi saya dan suami saya, beliau selalu kami ingat sebagai seorang ayah yang penuh kasih.
Semoga beliau terus mendoakan kami dan memberkati tanah air Vietnam.
Ketika mendengar kabar wafatnya beliau, saya sangat terharu dan menulis sebuah puisi untuk beliau.
— Nguyễn Ngọc Duy Hân
Sumber: https://duyhantrinhtayninh.blogspot.com/2025/07/tuong-nho-linh-muc-dominici.html

