“Yesus berkata:
Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu, katakanlah:
Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
(Lukas 17:10)
Saya masih ingat dengan jelas suatu hari pada bulan Februari 1980. Setelah satu bulan tidak berada di sana, saya kembali ke kamp Kuku. Ketika memasuki kapel beratap jerami itu dan berlutut di depan tabernakel, saya tiba-tiba merasakan kehadiran yang kudus—kehadiran Gereja di dalam kamp pengungsi itu.
Saya memang sempat pergi, tetapi Dia—Yesus—tetap tinggal bersama mereka.
Yesus, dalam Sakramen Ekaristi, adalah kehadiran Cinta di tengah para pengungsi. Ia telah datang kepada mereka dalam masa pengasingan. Ia pernah bersama mereka di Vietnam, dan kini Ia hadir bersama mereka di kamp ini, di dalam kapel kecil yang sederhana dan rapuh di sebuah pulau terpencil di tengah Laut Cina Selatan yang luas.
Pengalaman rohani itu pula yang saya bagikan kepada Pastor Gildo Dominici SJ pada tanggal 10 Juli 1980, ketika saya berlutut di kapel tersebut. Atap jerami kapel itu sudah berlubang di beberapa bagian. Air hujan menetes ke dalam ruangan, menyirami rumput liar yang tumbuh di lantai. Angin laut bertiup melalui celah-celah dinding bambu yang sudah usang.
Sebagian besar pengungsi yang datang lebih awal telah dipindahkan ke kamp Galang, sehingga kamp Kuku mulai tampak sepi dan terbengkalai. Di lereng bukit yang landai terdapat beberapa kuburan para pengungsi yang meninggal karena penyakit.
Salah satunya adalah makam seorang gadis kecil berusia sebelas tahun yang meninggal dalam pelukan saya karena kelelahan. Seolah-olah langit pun ikut berduka; hujan turun deras, menyamarkan air mata sang ibu yang berjalan dengan langkah terhuyung-huyung karena kesedihan.
“Yesus telah tinggal bersama mereka”—mereka yang telah meninggal, mereka yang masih tersesat di pulau yang sepi, dan kami yang malang yang baru saja terdampar di sini setelah kehilangan delapan nyawa di laut.
Tragedi di Laut
Di antara kami terdapat seorang dokter gigi yang begitu trauma hingga kehilangan akal sehat. Ia melompat ke laut untuk bunuh diri—untuk kedua kalinya—setelah sebelumnya berhasil kami selamatkan.
Perwakilan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) yang bertugas di sana—seorang Indonesia yang fasih berbahasa Vietnam karena pernah bekerja di Vietnam—setelah mendengar kesaksian dari kedua pihak (pemilik kapal dan para penumpang), akhirnya memutuskan agar keluarga chị Hạnh dan seorang keponakannya yang selamat dipindahkan lebih dahulu ke kamp Galang untuk mendapatkan perawatan dan dukungan mental.
Sebulan kemudian, kami yang tersisa dari perjalanan laut yang tragis itu juga dipindahkan dari pulau Kuku ke sebuah pulau yang dikenal sebagai “Gerbang Kebebasan dan Kemanusiaan”—Pulau Galang.
Ketika kami tiba, seluruh kamp Galang seperti terguncang oleh kisah tragedi kami.
Di pasar, di kedai kopi, di rumah makan, bahkan di barak-barak pengungsi, orang-orang membicarakan peristiwa itu. Mereka juga membaca sebuah artikel di majalah Tự Do, yang menceritakan tragedi keluarga chị Hạnh dan kekejaman pemilik kapal.
Karena kurangnya persiapan, persediaan makanan di kapal hanya terdiri dari dua tong nasi ketan, satu kaleng susu bubuk lima kilogram, dan dua setengah jeriken air.
Para penumpang dibagi menjadi dua kelas:
kelas “atas” (keluarga pemilik kapal) dan kelas “bawah”.
Keluarga pemilik kapal tinggal di kabin dan mendapat perlakuan istimewa. Sementara yang lain—termasuk keluarga chị Hạnh—harus tinggal di ruang sempit di bawah kapal.
Air minum dibagikan dengan prioritas untuk keluarga pemilik kapal, lalu anak-anak dan perempuan. Karena penyalahgunaan, jatah air yang sedikit untuk keluarga chị Hạnh dirampas. Akibatnya, enam anggota keluarganya meninggal karena kehausan.
Dalam penderitaan yang luar biasa, mereka memohon setetes air—tetapi permohonan itu ditolak.
Akhirnya mereka meninggal.
Upaya Perdamaian
Kemurkaan para pengungsi di Pulau Galang hampir meledak. Banyak orang ingin menghukum para pemilik kapal.
Saya sendiri berada dalam dilema batin yang berat. Sebagai salah satu korban yang berada di “kelas bawah”, saya tentu bersimpati kepada chị Hạnh. Namun saya juga menjadi saksi langsung dari seluruh kejadian itu.
Saya tidak dapat membiarkan kebencian terus berkembang.
Keesokan paginya setelah misa, saya berbicara dengan chị Hạnh. Ia masih diliputi kesedihan dan kemarahan. Saya membacakan Doa Perdamaian Santo Fransiskus dari Assisi kepadanya:
“Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu.
Di mana ada kebencian, biarlah aku menaburkan cinta…”
Namun luka hatinya begitu dalam sehingga ia belum mampu menerima kata-kata pengampunan.
Kehadiran Pastor Gildo Dominici
Situasi semakin tegang dan bisa berubah menjadi kekerasan kapan saja. Karena itu saya meminta bertemu dengan Pastor Gildo Dominici SJ, pastor paroki di Pulau Galang.
Itulah pertama kalinya saya bertemu dengannya.
Ia bertubuh sedang, berwajah tenang dengan mata yang lembut di balik kacamata. Senyumnya selalu tampak tipis di bibirnya. Ia gesit dan penuh semangat.
Walaupun berasal dari Italia, ia berbicara dan menulis bahasa Vietnam dengan sangat fasih—sesuatu yang jarang dimiliki orang asing.
Ia hanya tinggal sekitar tujuh tahun di Vietnam, tetapi dalam waktu singkat itu ia telah menjalin ikatan yang sangat dalam dengan bangsa Vietnam.
Rekonsiliasi yang Mengharukan
Dua hari kemudian, Pastor Dominici mengunjungi para pemilik kapal. Ia hanya berbicara dengan lembut, menanyakan keadaan mereka dan kesulitan hidup di kamp.
Namun setelah ia pergi, para pemilik kapal tiba-tiba meminta agar ia menjadi penengah untuk bertemu dengan chị Hạnh.
Pada hari Minggu berikutnya diadakan misa arwah bagi para korban di gereja Galang, dipimpin oleh Pastor Dominici. Banyak pengungsi hadir.
Semua orang terharu ketika melihat chị Hạnh, setelah menangis lama di bangku doa, bangkit dan berjalan menuju altar lalu berjabat tangan dengan pihak pemilik kapal.
Akhirnya chị Hạnh memilih cinta daripada kebencian, pengampunan daripada dendam.
Peristiwa itu sekali lagi menunjukkan bahwa Pulau Galang bukan hanya Gerbang Kebebasan, tetapi juga Gerbang Kemanusiaan.
Di pulau itu, berbagai agama hidup berdampingan:
ada kuil Buddha, tempat ibadah Cao Đài, gereja Protestan, dan gereja Katolik.
Semua itu menunjukkan upaya bersama untuk memenuhi kebutuhan rohani para pengungsi Vietnam.
Pastor yang Selalu Berkeliling di Kamp
Pastor Dominici jarang berada di kantor. Ia sering mengendarai Vespa berkeliling pulau:
mengunjungi barak-barak pengungsimemberi semangat kepada redaksi majalah Tự Do
mengunjungi pusat pelatihan kerja
menyelesaikan konflik antar pengungsi
mencegah kekerasan.
Hal yang paling ia benci adalah kekerasan.
Perpisahan
Ketika saya meninggalkan Pulau Galang menuju Singapura untuk terbang ke negara baru, Pastor Dominici memberi saya satu-satunya buku Misa dalam bahasa Prancis yang ia miliki.
Di halaman pertama ia menulis:
“Siapa yang berada dalam Kristus adalah ciptaan baru.
Yang lama sudah berlalu; lihatlah, yang baru telah datang.”
(2 Korintus 5:17)
Ia menambahkan:
“Kepada sahabatku Lê Tấn Lộc, semoga buku kecil ini menjadi sarana untuk bersatu dengan Allah—Allah yang telah menjadi gairah hidupmu.”
Pertemuan Kembali
Sebelas tahun kemudian, kami bertemu kembali di Kanada pada misa Natal.
Ia masih mengingat saya.
Kami berbicara panjang tentang nasib para pengungsi Vietnam di berbagai kamp di Indonesia, Filipina, Thailand, dan tempat lainnya. Ia sering membela hak-hak para pengungsi, bahkan berani mengungkapkan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di kamp-kamp tersebut.
Karena keberaniannya itu, ia bahkan beberapa kali dilarang kembali ke beberapa negara.
Namun ia tetap melayani para pengungsi Vietnam di berbagai tempat di dunia.
Cinta Seorang Imam kepada Vietnam
Pastor Dominici pernah menulis:
“Saya sangat mencintai bangsa Vietnam dan mengagumi mereka.
Saya menganggap diri saya, setidaknya sedikit, sebagai orang Vietnam.”
Ia juga berkata:
“Ada Vietnam yang lebih besar dari sekadar wilayah geografis.
Itu adalah budaya Vietnam, jiwa Vietnam, semangat Vietnam.
Dan itulah tanah air saya.”
Saya menutup buku itu dengan perasaan haru.
Bagi saya, Pastor Gildo Dominici – Đỗ Minh Trí – adalah seorang sahabat sejati bangsa Vietnam, seorang imam yang mengabdikan hidupnya bagi para pengungsi yang mencari kebebasan.
Saya yakin suatu hari nanti Vietnam akan membuka tangannya untuk menyambut seorang “warga Vietnam berdarah Italia” ini.
Pastor Đỗ Minh Trí.
— Lê Tấn Lộc
Sumber : https://letanloc.blogspot.com/2008/05/chn-dung-mt-linh-mc.html![]() |
| Pastor Gildo Dominici SJ bersama Pastor Rolf Reichenbach, SS.CC |

