Krisis kemanusiaan yang melanda Asia Tenggara pada paruh kedua abad ke-20, khususnya fenomena "Manusia Perahu" (boat people) dari Vietnam, merupakan salah satu babak paling kelam sekaligus heroik dalam sejarah diplomasi dan kemanusiaan internasional. Di tengah gejolak tersebut, Pulau Galang yang terletak di Kepulauan Riau, Indonesia, muncul sebagai titik tumpu harapan bagi ratusan ribu jiwa yang melarikan diri dari ketidakpastian politik dan ekonomi pasca-Perang Vietnam.1
Konteks
Historis Eksodus Vietnam dan Urgensi Kemanusiaan Global
Akar dari penderitaan para
pengungsi Vietnam bermula dari jatuhnya Saigon pada tanggal 30 April 1975, yang
menandai berakhirnya Perang Vietnam dengan kemenangan pihak Utara. Peristiwa
ini memicu perubahan drastis dalam struktur sosial-politik di Vietnam Selatan,
yang menyebabkan banyak warga merasa terancam keselamatannya, terutama mereka
yang memiliki keterkaitan dengan rezim lama atau penganut agama tertentu,
termasuk umat Katolik yang khawatir akan persekusi ideologis.2 Tekanan politik, ancaman
pengiriman ke kamp-kamp reedukasi, serta kemerosotan ekonomi yang parah
mendorong sekitar 250.000 hingga 400.000 orang untuk meninggalkan tanah air
mereka menggunakan perahu-perahu kecil yang seringkali tidak layak laut.1
Para pengungsi ini mengarungi
Laut Cina Selatan dengan risiko yang sangat tinggi, termasuk badai besar,
kelaparan, kekurangan air bersih, serta ancaman perompak yang kejam.1 Pendaratan pertama di
Indonesia tercatat pada 22 Mei 1975 di Pulau Laut, Kepulauan Natuna Utara, di
mana sebanyak 75 orang diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat.2 Namun, seiring dengan
meningkatnya gelombang kedatangan pengungsi yang tidak terkendali, Pemerintah
Indonesia menyadari perlunya sebuah solusi yang lebih terorganisir untuk
menangani krisis ini tanpa mengganggu stabilitas nasional.8
Pemilihan Pulau Galang
sebagai lokasi kamp pemrosesan pengungsi (Indochina Refugee Processing Center)
dilakukan berdasarkan pertimbangan strategis. Pulau ini relatif terisolasi
namun memiliki luas yang cukup untuk menampung puluhan ribu orang, serta secara
geografis berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, yang mempermudah jalur
logistik dan komunikasi internasional.8 Di bawah koordinasi United
Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan pemerintah Indonesia melalui
satuan tugas P3V, Pulau Galang kemudian bertransformasi dari sebuah pulau sunyi
menjadi "kota pengungsian" yang lengkap dengan fasilitas sosial dan
keagamaan.1
Serikat Yesus
dan Misi Kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS)
Keterlibatan Pastor Sugondo,
SJ di Pulau Galang berakar pada visi global Serikat Yesus yang dicanangkan oleh
Pastor Jenderal Pedro Arrupe, SJ. Pada tahun 1980, tergerak oleh penderitaan
mendalam para pengungsi Vietnam yang tewas di laut, Arrupe menyerukan kepada
seluruh anggota Serikat Yesus untuk merespon krisis ini sebagai prioritas
kerasulan.3 Inisiatif ini melahirkan Jesuit Refugee Service (JRS) pada 14
November 1980, sebuah organisasi yang misi utamanya adalah untuk
"menyertai" para pengungsi dalam perjalanan iman dan penderitaan
mereka.3
Bagi Serikat Yesus, melayani
pengungsi bukan sekadar memberikan bantuan logistik, melainkan sebuah bentuk
kehadiran Tuhan di tengah tragedi sejarah manusia.3 Prinsip pendampingan
(accompaniment) menekankan bahwa para pastor, termasuk Pastor Sugondo, harus
hidup bersama para pengungsi, merasakan kecemasan yang sama, dan memberikan
harapan melalui kehadiran fisik dan spiritual.3 Dalam konteks JRS, pelayanan
ini bersifat inklusif namun memiliki kedalaman spiritual yang berakar pada
Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola, yang menekankan pada diskresi dan
pelayanan yang lebih universal (magis).3
Pastor Sugondo, SJ, sebagai
bagian dari Provinsi Indonesia Serikat Yesus, ditugaskan untuk mengelola aspek
pastoral dan kesejahteraan sosial di Pulau Galang.5 Peran beliau sangat krusial
mengingat komposisi pengungsi Vietnam yang banyak beragama Katolik, namun
pelayanan beliau melampaui batas-batas sektarian, mencakup advokasi terhadap
keadilan dan perlindungan martabat manusia bagi seluruh penghuni kamp.8
Pelayanan
Pastoral dan Sosial Pastor Sugondo, SJ di Pulau Galang
Di Pulau Galang, Pastor
Sugondo, SJ menetap dan melayani di Gereja Katolik Immaculate Conception
Mary.10 Gereja ini bukan sekadar bangunan kayu untuk ibadah, melainkan
menjadi pusat gravitasi emosional bagi para pengungsi yang kehilangan
segalanya. Beliau menyadari bahwa para pengungsi menghadapi trauma psikologis
yang sangat berat, atau yang secara medis dikenal sebagai Post-Traumatic
Stress Disorder (PTSD), akibat kekerasan yang mereka saksikan di tanah air
dan penderitaan selama di laut.1
|
Fasilitas
Pelayanan di Kamp Pulau Galang |
Fungsi dan
Kontribusi Jesuit |
|
Gereja
Immaculate Conception |
Pusat
spiritual, pemberian sakramen, dan bimbingan rohani.10 |
|
Pusat
Pendidikan dan Bahasa |
Pelatihan
bahasa Inggris/Prancis untuk persiapan ke negara ketiga.8 |
|
Vocational
Training Center |
Memberikan
keterampilan praktis seperti menjahit dan mekanik.8 |
|
Kantor
Administrasi Sosial |
Membantu
koordinasi dengan UNHCR terkait status pengungsi.8 |
|
Fasilitas
Kesehatan |
Pendampingan
psikologis dan perawatan bagi korban trauma.1 |
Dalam kesehariannya, Pastor
Sugondo tidak hanya memimpin Misa dan memberikan sakramen, tetapi juga aktif
dalam mengorganisir kegiatan pendidikan. Salah satu aspek terpenting dari
kehidupan di kamp adalah persiapan untuk dikirim ke negara ketiga (resettlement)
seperti Amerika Serikat, Kanada, atau Australia.1 Pastor Sugondo dan tim JRS
memfasilitasi kelas-kelas bahasa dan pengenalan budaya Barat guna membantu
pengungsi beradaptasi lebih cepat saat mereka meninggalkan kamp.8 Pendidikan ini juga mencakup
bimbingan untuk mengembalikan kepercayaan diri para pengungsi yang telah hancur
akibat status mereka sebagai orang terusir.8
Kehadiran sosok religius
seperti Pastor Sugondo memberikan rasa aman dan penghargaan sebagai manusia
seutuhnya.8 Di tengah keterbatasan jatah makanan dan air bersih yang
dikelola secara periodik tiap lima hari untuk menghindari perebutan, peran imam
adalah menjaga moralitas dan kedamaian di antara sesama pengungsi.8 Beliau menjadi pendengar
yang setia bagi kisah-kisah tragis keluarga yang terpisah atau anak-anak yang
menjadi yatim piatu di tengah laut.2
Dinamika Sosial
dan Tantangan di Dalam Kamp
Pulau Galang, meskipun
merupakan tempat perlindungan, tidak luput dari ketegangan internal. Dengan
populasi yang pernah mencapai puluhan ribu jiwa dalam area yang terbatas,
gesekan sosial seringkali tidak terhindarkan.2 Pastor Sugondo seringkali
berperan sebagai mediator dalam perselisihan antar-pengungsi maupun antara
pengungsi dengan otoritas keamanan kamp. Beliau mengedepankan nilai kemanusiaan
di atas aturan birokrasi yang kaku.
Salah satu monumen yang
menjadi saksi bisu dari sisi gelap kehidupan kamp adalah Humanity Statue
atau Patung Kemanusiaan.10 Patung ini dibangun untuk
mengenang Tinh Nhan, seorang perempuan pengungsi yang melakukan bunuh diri
setelah mengalami kekerasan seksual dan ketidakadilan di dalam kamp.10 Peristiwa tragis seperti ini
menjadi pengingat bagi Pastor Sugondo dan para relawan kemanusiaan bahwa
perlindungan fisik saja tidak cukup; perlindungan terhadap martabat dan
keselamatan jiwa juga merupakan prioritas utama. Pelayanan Jesuit di Galang
mencakup advokasi agar kejadian serupa tidak terulang, serta memberikan
perlindungan bagi mereka yang rentan terhadap korupsi dan eksploitasi di dalam
sistem kamp.12
Selain itu, kehidupan di kamp
juga ditandai dengan upaya para pengungsi untuk mempertahankan tradisi mereka.
Pastor Sugondo mendukung perayaan-perayaan keagamaan dan budaya, seperti hari
raya Tet (Tahun Baru Vietnam), yang menjadi momen penting bagi pengungsi untuk
merasakan kedekatan dengan tanah air mereka meskipun secara fisik berada jauh
di pengasingan.7 Melalui kegiatan ini, beliau membantu membangun komunitas yang
solid di tengah ketidakpastian masa depan.
Krisis
Screening 1990-an dan Respon Pastoral Pastor Sugondo
Memasuki era 1990-an,
kebijakan internasional terhadap pengungsi Vietnam mengalami perubahan
signifikan dengan diperkenalkannya Comprehensive Plan of Action (CPA).
Kebijakan ini mewajibkan setiap pengungsi untuk melewati proses screening
guna menentukan apakah mereka benar-benar pengungsi politik yang berhak atas
suaka, atau sekadar migran ekonomi yang harus dipulangkan (repatriasi) ke
Vietnam.9
Perubahan kebijakan ini
menciptakan gelombang keputusasaan di Pulau Galang. Banyak pengungsi yang telah
tinggal bertahun-tahun di kamp tiba-tiba dinyatakan tidak lolos screening
dan diperintahkan untuk kembali ke rezim yang dahulu mereka hindari.9 Pada periode 1991–1992,
situasi di kamp menjadi sangat mencekam. Terjadi berbagai aksi protes,
pemogokan makan, hingga tindakan ekstrem seperti bunuh diri sebagai bentuk
perlawanan terhadap repatriasi paksa.9
Dalam masa-masa kritis ini,
Pastor Sugondo, SJ berada di garis depan untuk memberikan pendampingan
spiritual kepada mereka yang putus asa. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana
para pengungsi mencoba mencari bantuan dari otoritas agama tertinggi, termasuk
mengirimkan surat-surat berdarah kepada Paus di Vatikan dengan harapan ada
intervensi internasional.9 Para pastor Jesuit di
Galang, seperti dicatat dalam sejarah JRS, tetap memilih untuk mendampingi para
pengungsi ini hingga saat-saat terakhir, meskipun UNHCR mulai mendorong proses
pemulangan sukarela.3
Keterlibatan Pastor Sugondo
dalam masa transisi ini menunjukkan sisi lain dari biografi beliau: seorang
pembela hak asasi manusia yang berani berdiri di tengah persimpangan antara
kebijakan politik internasional dan penderitaan individu manusia. Beliau membantu
para pengungsi untuk menerima kenyataan pahit tersebut dengan martabat, sembari
terus berupaya mencari jalan keluar yang paling manusiawi bagi mereka yang
benar-benar terancam jika kembali ke negara asal.
Spiritualitas
Pelayanan di Galang
Keberhasilan pelayanan Pastor
Sugondo di Pulau Galang tidak dapat dilepaskan dari tiga pilar utama JRS: Accompany,
Serve, Advocate (Mendampingi, Melayani, Membela).3 Ketiga pilar ini saling
berkelindan dalam setiap aspek tindakan beliau:
1.
Pendampingan (Accompaniment): Ini adalah kontribusi paling khas dari Serikat Yesus. Berbeda
dengan organisasi bantuan yang datang dan pergi, Pastor Sugondo
"hadir" secara permanen di kamp. Pendampingan ini memberikan pesan
kuat bahwa para pengungsi tidak dilupakan oleh Tuhan maupun dunia luar.3 Kehadiran fisik seorang imam
di barak-barak pengungsi adalah bentuk sakramen kehadiran yang memberikan
ketenangan di tengah badai kehidupan.
2.
Pelayanan (Service): Pelayanan yang diberikan bersifat holistik, mencakup kebutuhan
jasmani (pendidikan, keterampilan) dan rohani (liturgi, sakramen). Hal ini
menunjukkan pemahaman bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa, di
mana pemulihan trauma hanya bisa terjadi jika kedua aspek tersebut diperhatikan
secara seimbang.1
3.
Advokasi (Advocacy): Dengan menjadi saksi mata atas ketidakadilan di dalam kamp dan
proses screening, Pastor Sugondo dan JRS berperan menyuarakan hak-hak
mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan (stateless). Mereka menjadi
penyambung lidah bagi mereka yang suaranya dibatasi oleh kawat berduri kamp
pengungsian.3
Kausalitas
antara pelayanan rohani dan stabilitas kamp sangat jelas. Tanpa kehadiran
tokoh-tokoh seperti Pastor Sugondo, tingkat depresi dan kekerasan di Pulau
Galang kemungkinan besar akan jauh lebih tinggi. Beliau bertindak sebagai katup
pengaman sosial yang menyalurkan rasa frustrasi pengungsi ke dalam
kegiatan-kegiatan yang lebih positif dan meditatif.
Warisan dan
Transformasi Pulau Galang Menjadi Situs Memori
Setelah kamp resmi ditutup
pada tahun 1996, Pulau Galang tidak lagi menjadi tempat penampungan, namun
warisan pelayanan Pastor Sugondo tetap hidup melalui artefak dan memori
kolektif.1 Gereja Immaculate
Conception Mary tetap berdiri dan kini menjadi salah satu objek wisata
sejarah religi yang penting di Batam.10 Museum Galang menyimpan
berbagai peninggalan seperti foto-foto, alat makan, buku-buku berbahasa
Vietnam, hingga perahu asli yang digunakan pengungsi, yang semuanya menjadi
bukti bisu atas perjuangan hidup-mati di masa lalu.10
Banyak mantan pengungsi yang
kini telah sukses di negara ketiga, seperti Kanada atau Amerika Serikat,
melakukan kunjungan kembali ke Pulau Galang untuk bernostalgia dan memberikan
penghormatan kepada mereka yang pernah membantu mereka, termasuk para pastor
Jesuit.10 Beberapa di antara mereka, seperti Dinh Thanh Son, bahkan
terinspirasi oleh pelayanan di kamp sehingga memutuskan untuk mengikuti jejak
menjadi imam Katolik di negara baru mereka.14 Ini adalah bukti nyata dari
efek riak (ripple effect) dari pelayanan Pastor Sugondo: sebuah tindakan
kasih di sebuah pulau terpencil mampu mengubah jalan hidup seseorang selamanya.
Transformasi Pulau Galang
menjadi destinasi wisata sejarah juga membawa pesan penting bagi bangsa
Indonesia tentang "Diplomasi Budaya" dan wajah humanisme Indonesia di
mata dunia.2 Keberhasilan penanganan pengungsi Vietnam di Galang seringkali
dikutip sebagai contoh sukses kerja sama antara pemerintah nasional dan
organisasi internasional dalam menanggulangi bencana kemanusiaan global.2
Refleksi Atas
Pengabdian Pastor Sugondo, SJ
Biografi Pastor Sugondo, SJ
di Pulau Galang adalah narasi tentang iman yang diwujudkan dalam aksi nyata
(faith in action). Beliau tidak hanya sekadar menjalankan tugas gerejani,
melainkan menjadi simbol harapan bagi ribuan jiwa yang terombang-ambing oleh
kejamnya sejarah. Melalui kacamata sejarah kemanusiaan, peran beliau di Galang
menegaskan bahwa dalam situasi krisis yang paling ekstrem sekalipun, martabat
manusia harus tetap menjadi prioritas tertinggi.
Pengalaman di Pulau Galang
memberikan pelajaran berharga bagi dunia modern tentang cara menangani
pengungsi dengan hati. Di tengah meningkatnya krisis pengungsi global saat ini,
model pelayanan JRS yang diterapkan oleh Pastor Sugondo—yang mengutamakan pendampingan
personal dan advokasi berbasis keadilan—tetap relevan untuk diadopsi. Pulau
Galang, dengan Gereja Immaculate Conception dan monumen-monumennya, bukan
sekadar situs wisata, melainkan monumen hidup tentang ketahanan jiwa manusia
dan kekuatan cinta kasih yang melampaui sekat-sekat ideologi dan
kewarganegaraan.2
Pastor Sugondo, SJ telah
meninggalkan jejak kaki yang dalam di pasir Pulau Galang, sebuah jejak yang
mengingatkan kita semua bahwa "menjadi pengungsi adalah sebuah pilihan
yang diambil ketika tidak ada pilihan lain," dan dalam situasi tanpa pilihan
tersebut, kehadiran seorang sahabat adalah segalanya.3 Pelayanan beliau adalah
bagian tak terpisahkan dari sejarah emas humanisme Indonesia yang diakui oleh
masyarakat internasional dan akan terus dikenang oleh generasi mendatang
sebagai salah satu bentuk pengabdian Jesuit yang paling murni.2
Daftar Pustaka
1.
(PDF)
MENELUSURI JEJAK PENGUNGSI VIETNAM DI PULAU GALANG TENTANG SEJARAH, KONFLIK,
DAN KENANGAN KELAM - ResearchGate, diakses Maret 7, 2026, https://www.researchgate.net/publication/401165588_MENELUSURI_JEJAK_PENGUNGSI_VIETNAM_DI_PULAU_GALANG_TENTANG_SEJARAH_KONFLIK_DAN_KENANGAN_KELAM
2.
Pulau
Galang Wajah Humanisme Indonesia - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses
Maret 7, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/29188/2/PULAU%20GALANG%20WAJAH%20HUMANISME%20INDONESIA.pdf
3.
God
in Exile - Jesuit Refugee Service (JRS), diakses Maret 7, 2026, https://jrs.net/wp-content/uploads/2022/07/GodinExile.pdf
4.
EVERYBODY'S
CHALLENGE - Jesuit Refugee Service (JRS), diakses Maret 7, 2026, https://jrs.net/wp-content/uploads/2022/07/EverybodysChallenge.pdf
5.
indonesian-idf.txt
- ResearchGate, diakses Maret 7, 2026, https://www.researchgate.net/profile/Bowo-Prasetyo/publication/273141354_indonesian-idf/data/54f9dbd10cf25371374ffccb/indonesian-idf.txt?origin=publication_list
6.
God
continues to guide refugee years after He saved her family from dangers at sea
- The Catholic Voice, diakses Maret 7, 2026, https://catholicvoiceomaha.com/witness/god-continues-to-guide-refugee-years-after-he-saved-her-family-from-dangers-at-sea/
7.
Vietnam-born
priest offers to swap U.S. citizenship to allow refugee in - CatholicPhilly,
diakses Maret 7, 2026, https://catholicphilly.com/2017/02/news/national-news/vietnam-born-priest-offers-to-swap-u-s-citizenship-to-allow-refugee-in/
8.
Tinjauan
Historis Pengungsian Vietnam di Pulau Galang 1979-1996 - Takuana, diakses Maret
7, 2026, https://ejurnal.man4kotapekanbaru.sch.id/takuana/article/download/24/8/92
9.
Nguyen
Van Tho - Vietnamese Heritage Museum, diakses Maret 7, 2026, https://vietnamesemuseum.org/details/nguyen-van-tho/
10.
Sisa
Kisah Para Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam - tflpaper, diakses Maret
7, 2026, https://tflpaper.id/sisa-kisah-para-pengungsi-vietnam-di-pulau-galang-batam/
11.
Christmas
Island, diakses Maret 7, 2026, https://www.jcapsj.org/sites/default/files/2011.11.christmas_island.pdf
12.
A
Vietnamese Woman Flees Her Country's Totalitarian Communist Regime - JRS
Canada, diakses Maret 7, 2026, https://canada.jrs.net/en/story/a-vietnamese-woman-flees-her-countrys-totalitarian-communist-regime/
13.
Enam
Tahun Bertugas, Romo Dwi Pramodo Nikmati Keragaman di Kepri, diakses Maret 7,
2026, https://kepri.kemenag.go.id/page/det/enam-tahun-bertugas-romo-dwi-pramodo-nikmati-keragaman-di-kepri
14.
HOF051:
Dinh Thanh Son | - The Canadian Southeast Asian Refugee Historical Research
Project, diakses Maret 7, 2026, https://heartsoffreedom.org/hof051-dinh-thanh-son/

