Pelayanan Pastor Sugondo, SJ dalam Krisis Kemanusiaan Pengungsi Vietnam di Pulau Galang (1979–1996)




Krisis kemanusiaan yang melanda Asia Tenggara pada paruh kedua abad ke-20, khususnya fenomena "Manusia Perahu" (boat people) dari Vietnam, merupakan salah satu babak paling kelam sekaligus heroik dalam sejarah diplomasi dan kemanusiaan internasional. Di tengah gejolak tersebut, Pulau Galang yang terletak di Kepulauan Riau, Indonesia, muncul sebagai titik tumpu harapan bagi ratusan ribu jiwa yang melarikan diri dari ketidakpastian politik dan ekonomi pasca-Perang Vietnam.
1

Konteks Historis Eksodus Vietnam dan Urgensi Kemanusiaan Global

Akar dari penderitaan para pengungsi Vietnam bermula dari jatuhnya Saigon pada tanggal 30 April 1975, yang menandai berakhirnya Perang Vietnam dengan kemenangan pihak Utara. Peristiwa ini memicu perubahan drastis dalam struktur sosial-politik di Vietnam Selatan, yang menyebabkan banyak warga merasa terancam keselamatannya, terutama mereka yang memiliki keterkaitan dengan rezim lama atau penganut agama tertentu, termasuk umat Katolik yang khawatir akan persekusi ideologis.2 Tekanan politik, ancaman pengiriman ke kamp-kamp reedukasi, serta kemerosotan ekonomi yang parah mendorong sekitar 250.000 hingga 400.000 orang untuk meninggalkan tanah air mereka menggunakan perahu-perahu kecil yang seringkali tidak layak laut.1

Para pengungsi ini mengarungi Laut Cina Selatan dengan risiko yang sangat tinggi, termasuk badai besar, kelaparan, kekurangan air bersih, serta ancaman perompak yang kejam.1 Pendaratan pertama di Indonesia tercatat pada 22 Mei 1975 di Pulau Laut, Kepulauan Natuna Utara, di mana sebanyak 75 orang diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat.2 Namun, seiring dengan meningkatnya gelombang kedatangan pengungsi yang tidak terkendali, Pemerintah Indonesia menyadari perlunya sebuah solusi yang lebih terorganisir untuk menangani krisis ini tanpa mengganggu stabilitas nasional.8

 

Pemilihan Pulau Galang sebagai lokasi kamp pemrosesan pengungsi (Indochina Refugee Processing Center) dilakukan berdasarkan pertimbangan strategis. Pulau ini relatif terisolasi namun memiliki luas yang cukup untuk menampung puluhan ribu orang, serta secara geografis berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, yang mempermudah jalur logistik dan komunikasi internasional.8 Di bawah koordinasi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan pemerintah Indonesia melalui satuan tugas P3V, Pulau Galang kemudian bertransformasi dari sebuah pulau sunyi menjadi "kota pengungsian" yang lengkap dengan fasilitas sosial dan keagamaan.1

Serikat Yesus dan Misi Kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS)

Keterlibatan Pastor Sugondo, SJ di Pulau Galang berakar pada visi global Serikat Yesus yang dicanangkan oleh Pastor Jenderal Pedro Arrupe, SJ. Pada tahun 1980, tergerak oleh penderitaan mendalam para pengungsi Vietnam yang tewas di laut, Arrupe menyerukan kepada seluruh anggota Serikat Yesus untuk merespon krisis ini sebagai prioritas kerasulan.3 Inisiatif ini melahirkan Jesuit Refugee Service (JRS) pada 14 November 1980, sebuah organisasi yang misi utamanya adalah untuk "menyertai" para pengungsi dalam perjalanan iman dan penderitaan mereka.3

Bagi Serikat Yesus, melayani pengungsi bukan sekadar memberikan bantuan logistik, melainkan sebuah bentuk kehadiran Tuhan di tengah tragedi sejarah manusia.3 Prinsip pendampingan (accompaniment) menekankan bahwa para pastor, termasuk Pastor Sugondo, harus hidup bersama para pengungsi, merasakan kecemasan yang sama, dan memberikan harapan melalui kehadiran fisik dan spiritual.3 Dalam konteks JRS, pelayanan ini bersifat inklusif namun memiliki kedalaman spiritual yang berakar pada Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola, yang menekankan pada diskresi dan pelayanan yang lebih universal (magis).3

Pastor Sugondo, SJ, sebagai bagian dari Provinsi Indonesia Serikat Yesus, ditugaskan untuk mengelola aspek pastoral dan kesejahteraan sosial di Pulau Galang.5 Peran beliau sangat krusial mengingat komposisi pengungsi Vietnam yang banyak beragama Katolik, namun pelayanan beliau melampaui batas-batas sektarian, mencakup advokasi terhadap keadilan dan perlindungan martabat manusia bagi seluruh penghuni kamp.8

Pelayanan Pastoral dan Sosial Pastor Sugondo, SJ di Pulau Galang

Di Pulau Galang, Pastor Sugondo, SJ menetap dan melayani di Gereja Katolik Immaculate Conception Mary.10 Gereja ini bukan sekadar bangunan kayu untuk ibadah, melainkan menjadi pusat gravitasi emosional bagi para pengungsi yang kehilangan segalanya. Beliau menyadari bahwa para pengungsi menghadapi trauma psikologis yang sangat berat, atau yang secara medis dikenal sebagai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), akibat kekerasan yang mereka saksikan di tanah air dan penderitaan selama di laut.1

 

Fasilitas Pelayanan di Kamp Pulau Galang

Fungsi dan Kontribusi Jesuit

Gereja Immaculate Conception

Pusat spiritual, pemberian sakramen, dan bimbingan rohani.10

Pusat Pendidikan dan Bahasa

Pelatihan bahasa Inggris/Prancis untuk persiapan ke negara ketiga.8

Vocational Training Center

Memberikan keterampilan praktis seperti menjahit dan mekanik.8

Kantor Administrasi Sosial

Membantu koordinasi dengan UNHCR terkait status pengungsi.8

Fasilitas Kesehatan

Pendampingan psikologis dan perawatan bagi korban trauma.1

 

Dalam kesehariannya, Pastor Sugondo tidak hanya memimpin Misa dan memberikan sakramen, tetapi juga aktif dalam mengorganisir kegiatan pendidikan. Salah satu aspek terpenting dari kehidupan di kamp adalah persiapan untuk dikirim ke negara ketiga (resettlement) seperti Amerika Serikat, Kanada, atau Australia.1 Pastor Sugondo dan tim JRS memfasilitasi kelas-kelas bahasa dan pengenalan budaya Barat guna membantu pengungsi beradaptasi lebih cepat saat mereka meninggalkan kamp.8 Pendidikan ini juga mencakup bimbingan untuk mengembalikan kepercayaan diri para pengungsi yang telah hancur akibat status mereka sebagai orang terusir.8

Kehadiran sosok religius seperti Pastor Sugondo memberikan rasa aman dan penghargaan sebagai manusia seutuhnya.8 Di tengah keterbatasan jatah makanan dan air bersih yang dikelola secara periodik tiap lima hari untuk menghindari perebutan, peran imam adalah menjaga moralitas dan kedamaian di antara sesama pengungsi.8 Beliau menjadi pendengar yang setia bagi kisah-kisah tragis keluarga yang terpisah atau anak-anak yang menjadi yatim piatu di tengah laut.2

Dinamika Sosial dan Tantangan di Dalam Kamp

Pulau Galang, meskipun merupakan tempat perlindungan, tidak luput dari ketegangan internal. Dengan populasi yang pernah mencapai puluhan ribu jiwa dalam area yang terbatas, gesekan sosial seringkali tidak terhindarkan.2 Pastor Sugondo seringkali berperan sebagai mediator dalam perselisihan antar-pengungsi maupun antara pengungsi dengan otoritas keamanan kamp. Beliau mengedepankan nilai kemanusiaan di atas aturan birokrasi yang kaku.

Salah satu monumen yang menjadi saksi bisu dari sisi gelap kehidupan kamp adalah Humanity Statue atau Patung Kemanusiaan.10 Patung ini dibangun untuk mengenang Tinh Nhan, seorang perempuan pengungsi yang melakukan bunuh diri setelah mengalami kekerasan seksual dan ketidakadilan di dalam kamp.10 Peristiwa tragis seperti ini menjadi pengingat bagi Pastor Sugondo dan para relawan kemanusiaan bahwa perlindungan fisik saja tidak cukup; perlindungan terhadap martabat dan keselamatan jiwa juga merupakan prioritas utama. Pelayanan Jesuit di Galang mencakup advokasi agar kejadian serupa tidak terulang, serta memberikan perlindungan bagi mereka yang rentan terhadap korupsi dan eksploitasi di dalam sistem kamp.12

Selain itu, kehidupan di kamp juga ditandai dengan upaya para pengungsi untuk mempertahankan tradisi mereka. Pastor Sugondo mendukung perayaan-perayaan keagamaan dan budaya, seperti hari raya Tet (Tahun Baru Vietnam), yang menjadi momen penting bagi pengungsi untuk merasakan kedekatan dengan tanah air mereka meskipun secara fisik berada jauh di pengasingan.7 Melalui kegiatan ini, beliau membantu membangun komunitas yang solid di tengah ketidakpastian masa depan.



Krisis Screening 1990-an dan Respon Pastoral Pastor Sugondo

Memasuki era 1990-an, kebijakan internasional terhadap pengungsi Vietnam mengalami perubahan signifikan dengan diperkenalkannya Comprehensive Plan of Action (CPA). Kebijakan ini mewajibkan setiap pengungsi untuk melewati proses screening guna menentukan apakah mereka benar-benar pengungsi politik yang berhak atas suaka, atau sekadar migran ekonomi yang harus dipulangkan (repatriasi) ke Vietnam.9

Perubahan kebijakan ini menciptakan gelombang keputusasaan di Pulau Galang. Banyak pengungsi yang telah tinggal bertahun-tahun di kamp tiba-tiba dinyatakan tidak lolos screening dan diperintahkan untuk kembali ke rezim yang dahulu mereka hindari.9 Pada periode 1991–1992, situasi di kamp menjadi sangat mencekam. Terjadi berbagai aksi protes, pemogokan makan, hingga tindakan ekstrem seperti bunuh diri sebagai bentuk perlawanan terhadap repatriasi paksa.9

Dalam masa-masa kritis ini, Pastor Sugondo, SJ berada di garis depan untuk memberikan pendampingan spiritual kepada mereka yang putus asa. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana para pengungsi mencoba mencari bantuan dari otoritas agama tertinggi, termasuk mengirimkan surat-surat berdarah kepada Paus di Vatikan dengan harapan ada intervensi internasional.9 Para pastor Jesuit di Galang, seperti dicatat dalam sejarah JRS, tetap memilih untuk mendampingi para pengungsi ini hingga saat-saat terakhir, meskipun UNHCR mulai mendorong proses pemulangan sukarela.3

Keterlibatan Pastor Sugondo dalam masa transisi ini menunjukkan sisi lain dari biografi beliau: seorang pembela hak asasi manusia yang berani berdiri di tengah persimpangan antara kebijakan politik internasional dan penderitaan individu manusia. Beliau membantu para pengungsi untuk menerima kenyataan pahit tersebut dengan martabat, sembari terus berupaya mencari jalan keluar yang paling manusiawi bagi mereka yang benar-benar terancam jika kembali ke negara asal.

Spiritualitas Pelayanan di Galang

Keberhasilan pelayanan Pastor Sugondo di Pulau Galang tidak dapat dilepaskan dari tiga pilar utama JRS: Accompany, Serve, Advocate (Mendampingi, Melayani, Membela).3 Ketiga pilar ini saling berkelindan dalam setiap aspek tindakan beliau:

1.    Pendampingan (Accompaniment): Ini adalah kontribusi paling khas dari Serikat Yesus. Berbeda dengan organisasi bantuan yang datang dan pergi, Pastor Sugondo "hadir" secara permanen di kamp. Pendampingan ini memberikan pesan kuat bahwa para pengungsi tidak dilupakan oleh Tuhan maupun dunia luar.3 Kehadiran fisik seorang imam di barak-barak pengungsi adalah bentuk sakramen kehadiran yang memberikan ketenangan di tengah badai kehidupan.

2.    Pelayanan (Service): Pelayanan yang diberikan bersifat holistik, mencakup kebutuhan jasmani (pendidikan, keterampilan) dan rohani (liturgi, sakramen). Hal ini menunjukkan pemahaman bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa, di mana pemulihan trauma hanya bisa terjadi jika kedua aspek tersebut diperhatikan secara seimbang.1

3.    Advokasi (Advocacy): Dengan menjadi saksi mata atas ketidakadilan di dalam kamp dan proses screening, Pastor Sugondo dan JRS berperan menyuarakan hak-hak mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan (stateless). Mereka menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya dibatasi oleh kawat berduri kamp pengungsian.3

Kausalitas antara pelayanan rohani dan stabilitas kamp sangat jelas. Tanpa kehadiran tokoh-tokoh seperti Pastor Sugondo, tingkat depresi dan kekerasan di Pulau Galang kemungkinan besar akan jauh lebih tinggi. Beliau bertindak sebagai katup pengaman sosial yang menyalurkan rasa frustrasi pengungsi ke dalam kegiatan-kegiatan yang lebih positif dan meditatif.

Warisan dan Transformasi Pulau Galang Menjadi Situs Memori

Setelah kamp resmi ditutup pada tahun 1996, Pulau Galang tidak lagi menjadi tempat penampungan, namun warisan pelayanan Pastor Sugondo tetap hidup melalui artefak dan memori kolektif.1 Gereja Immaculate Conception Mary tetap berdiri dan kini menjadi salah satu objek wisata sejarah religi yang penting di Batam.10 Museum Galang menyimpan berbagai peninggalan seperti foto-foto, alat makan, buku-buku berbahasa Vietnam, hingga perahu asli yang digunakan pengungsi, yang semuanya menjadi bukti bisu atas perjuangan hidup-mati di masa lalu.10

Banyak mantan pengungsi yang kini telah sukses di negara ketiga, seperti Kanada atau Amerika Serikat, melakukan kunjungan kembali ke Pulau Galang untuk bernostalgia dan memberikan penghormatan kepada mereka yang pernah membantu mereka, termasuk para pastor Jesuit.10 Beberapa di antara mereka, seperti Dinh Thanh Son, bahkan terinspirasi oleh pelayanan di kamp sehingga memutuskan untuk mengikuti jejak menjadi imam Katolik di negara baru mereka.14 Ini adalah bukti nyata dari efek riak (ripple effect) dari pelayanan Pastor Sugondo: sebuah tindakan kasih di sebuah pulau terpencil mampu mengubah jalan hidup seseorang selamanya.

Transformasi Pulau Galang menjadi destinasi wisata sejarah juga membawa pesan penting bagi bangsa Indonesia tentang "Diplomasi Budaya" dan wajah humanisme Indonesia di mata dunia.2 Keberhasilan penanganan pengungsi Vietnam di Galang seringkali dikutip sebagai contoh sukses kerja sama antara pemerintah nasional dan organisasi internasional dalam menanggulangi bencana kemanusiaan global.2

Refleksi Atas Pengabdian Pastor Sugondo, SJ

Biografi Pastor Sugondo, SJ di Pulau Galang adalah narasi tentang iman yang diwujudkan dalam aksi nyata (faith in action). Beliau tidak hanya sekadar menjalankan tugas gerejani, melainkan menjadi simbol harapan bagi ribuan jiwa yang terombang-ambing oleh kejamnya sejarah. Melalui kacamata sejarah kemanusiaan, peran beliau di Galang menegaskan bahwa dalam situasi krisis yang paling ekstrem sekalipun, martabat manusia harus tetap menjadi prioritas tertinggi.

Pengalaman di Pulau Galang memberikan pelajaran berharga bagi dunia modern tentang cara menangani pengungsi dengan hati. Di tengah meningkatnya krisis pengungsi global saat ini, model pelayanan JRS yang diterapkan oleh Pastor Sugondo—yang mengutamakan pendampingan personal dan advokasi berbasis keadilan—tetap relevan untuk diadopsi. Pulau Galang, dengan Gereja Immaculate Conception dan monumen-monumennya, bukan sekadar situs wisata, melainkan monumen hidup tentang ketahanan jiwa manusia dan kekuatan cinta kasih yang melampaui sekat-sekat ideologi dan kewarganegaraan.2

Pastor Sugondo, SJ telah meninggalkan jejak kaki yang dalam di pasir Pulau Galang, sebuah jejak yang mengingatkan kita semua bahwa "menjadi pengungsi adalah sebuah pilihan yang diambil ketika tidak ada pilihan lain," dan dalam situasi tanpa pilihan tersebut, kehadiran seorang sahabat adalah segalanya.3 Pelayanan beliau adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah emas humanisme Indonesia yang diakui oleh masyarakat internasional dan akan terus dikenang oleh generasi mendatang sebagai salah satu bentuk pengabdian Jesuit yang paling murni.2

Daftar Pustaka

1.    (PDF) MENELUSURI JEJAK PENGUNGSI VIETNAM DI PULAU GALANG TENTANG SEJARAH, KONFLIK, DAN KENANGAN KELAM - ResearchGate, diakses Maret 7, 2026, https://www.researchgate.net/publication/401165588_MENELUSURI_JEJAK_PENGUNGSI_VIETNAM_DI_PULAU_GALANG_TENTANG_SEJARAH_KONFLIK_DAN_KENANGAN_KELAM

2.    Pulau Galang Wajah Humanisme Indonesia - Repositori Institusi Kemendikdasmen, diakses Maret 7, 2026, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/29188/2/PULAU%20GALANG%20WAJAH%20HUMANISME%20INDONESIA.pdf

3.    God in Exile - Jesuit Refugee Service (JRS), diakses Maret 7, 2026, https://jrs.net/wp-content/uploads/2022/07/GodinExile.pdf

4.    EVERYBODY'S CHALLENGE - Jesuit Refugee Service (JRS), diakses Maret 7, 2026, https://jrs.net/wp-content/uploads/2022/07/EverybodysChallenge.pdf

5.    indonesian-idf.txt - ResearchGate, diakses Maret 7, 2026, https://www.researchgate.net/profile/Bowo-Prasetyo/publication/273141354_indonesian-idf/data/54f9dbd10cf25371374ffccb/indonesian-idf.txt?origin=publication_list

6.    God continues to guide refugee years after He saved her family from dangers at sea - The Catholic Voice, diakses Maret 7, 2026, https://catholicvoiceomaha.com/witness/god-continues-to-guide-refugee-years-after-he-saved-her-family-from-dangers-at-sea/

7.    Vietnam-born priest offers to swap U.S. citizenship to allow refugee in - CatholicPhilly, diakses Maret 7, 2026, https://catholicphilly.com/2017/02/news/national-news/vietnam-born-priest-offers-to-swap-u-s-citizenship-to-allow-refugee-in/

8.    Tinjauan Historis Pengungsian Vietnam di Pulau Galang 1979-1996 - Takuana, diakses Maret 7, 2026, https://ejurnal.man4kotapekanbaru.sch.id/takuana/article/download/24/8/92

9.    Nguyen Van Tho - Vietnamese Heritage Museum, diakses Maret 7, 2026, https://vietnamesemuseum.org/details/nguyen-van-tho/

10.  Sisa Kisah Para Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam - tflpaper, diakses Maret 7, 2026, https://tflpaper.id/sisa-kisah-para-pengungsi-vietnam-di-pulau-galang-batam/

11.  Christmas Island, diakses Maret 7, 2026, https://www.jcapsj.org/sites/default/files/2011.11.christmas_island.pdf

12.  A Vietnamese Woman Flees Her Country's Totalitarian Communist Regime - JRS Canada, diakses Maret 7, 2026, https://canada.jrs.net/en/story/a-vietnamese-woman-flees-her-countrys-totalitarian-communist-regime/

13.  Enam Tahun Bertugas, Romo Dwi Pramodo Nikmati Keragaman di Kepri, diakses Maret 7, 2026, https://kepri.kemenag.go.id/page/det/enam-tahun-bertugas-romo-dwi-pramodo-nikmati-keragaman-di-kepri

14.  HOF051: Dinh Thanh Son | - The Canadian Southeast Asian Refugee Historical Research Project, diakses Maret 7, 2026, https://heartsoffreedom.org/hof051-dinh-thanh-son/