Stane Salobir, ia adalah seorang insinyur asal Jerman yang bekerja untuk UNHCR di berbagai kamp pengungsi di seluruh dunia. Saya bertemu Stane pada tahun 1990 di kamp pengungsi, ketika ia ditugaskan sebagai kepala bagian teknik di Galang, Indonesia.
Sebelum bertemu Stane, saya memiliki pandangan umum tentang orang Jerman: kaku, seperti mesin, sangat presisi, keras, dan kurang perasaan (mungkin dipengaruhi oleh gambaran dari Perang Dunia II). Namun, dengan Stane, semua prasangka itu runtuh.
Ia adalah pribadi yang tenang, tajam, cerdas, humoris, dan mencintai seni. Ia memiliki inisiatif untuk membuka program bagi para pengungsi agar dapat berkarya dan mengadakan pameran lukisan mereka di dalam kamp. Siapa pun yang mendaftar di bagian teknik akan diberikan perlengkapan melukis: cat, bingkai, kanvas, dan lainnya. Lukisan-lukisan tersebut kemudian dijual kepada staf internasional di kamp, sehingga membantu para pengungsi memperoleh tambahan penghasilan.
Dalam pekerjaan, ia menuntut ketelitian dan ketepatan hingga detail terkecil. Namun, ia juga fleksibel, mendorong kreativitas stafnya, selalu terbuka terhadap hal-hal baru—selama tujuan dapat tercapai dengan waktu dan biaya seminimal mungkin.
Ia memperlakukan saya sebagai rekan kerja, bukan sebagai pengungsi yang sekadar membantu.
Pada tahun 1992, UNHCR ingin membangun sebuah kawasan hunian bagi para pengungsi yang ingin kembali ke tanah air di Tanjung Pinang (sekitar satu jam dengan speedboat dari Galang). Alih-alih menyewa arsitek lokal, ia meyakinkan UNHCR dan pemerintah setempat untuk mengizinkan saya dan Hùng—seorang teman (kami sama-sama belajar arsitektur di Saigon)—untuk pergi ke Tanjung Pinang selama satu minggu guna melakukan pengukuran, survei lapangan, dan merancang proyek tersebut.
Berkat itu, saya bisa keluar dari kamp pengungsi dan tinggal di kota Tanjung Pinang seperti orang bebas. UNHCR menyewa hotel untuk kami dan memberikan biaya makan harian. Transportasi juga disediakan dengan kendaraan UN.
Setiap pagi kami diantar sarapan, lalu ke lokasi proyek untuk mengukur dan menggambar. Setelah selesai kerja, kami diantar kembali ke hotel.
Malam pertama di hotel, saya bahkan harus tidur di lantai karena tidak terbiasa tidur di kasur! Setelah tiga hari, saya malah mulai ingin kembali ke Galang.
Pada malam terakhir di Tanjung Pinang, Stane mengundang saya makan malam di rumahnya. Itu adalah pertama kalinya saya menikmati makan malam keluarga sejak saya meninggalkan tanah air.
Ada banyak hal yang tidak pernah ia katakan secara langsung, tetapi saya mengetahuinya dari berbagai sumber di bagian teknik.
Ia pernah membantu mengajukan banding (appeal) atas kasus saya ketika saya dinyatakan “screened out”. Dan kemudian, menjelang wawancara saya dengan JVA, ia juga membantu dengan berbicara kepada hakim dalam delegasi Amerika mengenai kasus saya.
Ia juga seorang yang sangat halus perasaannya.
Ia memahami kehidupan kekurangan para pengungsi. Sesekali ia mengirimkan hadiah kecil untuk saya—kadang berupa kue, buku sketsa, cat lukis dari Singapura, atau uang tunai dengan catatan kecil.
Terkadang, istrinya, Cecilia, datang ke kamp membawa pakaian dan meminta saya membagikannya kepada orang-orang di barak.
Menjelang saya meninggalkan Galang untuk pergi ke Amerika Serikat, ia bahkan mengirimkan sebotol Johnnie Walker Black Label sebagai hadiah perpisahan (sesuatu yang sebenarnya dilarang di dalam kamp).
Ia juga menyiapkan surat rekomendasi untuk saya, yang bisa digunakan sebagai referensi dalam resume saya kelak.
Pagi ini, Cecilia memberi kabar bahwa Stane baru saja didiagnosis menderita leukemia. Saat ini ia sedang menjalani kemoterapi dan sudah dirawat di rumah sakit selama satu minggu.
---






