Selamat Tapi Kami Diperas, Banyak yang Tewas di Kapal


Keluargaku hidup di Vietnam Selatan, di sebuah kota yang bernama Soc Trang. Ayahku adalah seorang tentara dan ibuku seorang perawat di sebuah rumah sakit di kota ini. Ketika Vietnam Utara menyerbu Vietnam Selatan, orang tuaku memutuskan untuk mencari kehidupan baru bagi keluarga. Karena bapakku adalah seorang tentara Vietnam Selatan, maka iapun dimasukkan ke penjara dengan tuduhan bahwa ia seorang agen CIA. Dan, karena ibuku adalah seorang perawat ia tidak dipenjara, namun ia dikirim ke medan peperangan untuk merawat tentara Vietnam · Utara yang terluka. Bapakku harus mengenyam hidup di balik jeruji besi selama tiga tahun. Dan, selama di penjara itu, ia dipukuli setiap waktu, maka ketika ia bebas ia pun memutuskan untuk lari.

Keluargaku tak bisa hidup di bawah rezim komunis. Tak ada rasa aman, tak ada makanan, dan tak ada perbekalan untuk menyambung hidup. Vietcong bisa membunuh hanya dalam hitungan detik, dan orang tuaku berpendapat bahwa satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah dengan cara mencari kehidupan baru.

Pada tanggal 30 Juni 1979, orang tuaku dengan tiga anaknya yang masih muda, dengan paman, bibi dan. keponakanku, mulai melarikan diri di kegelapan malam. Kami tidak membawa apa pun kecuali pakaian yang ditaruh di tas masing-masing. Setelah itu kami naik perahu yang berlabuh di Hoi Pjong, Ca Mau, dengan 368 orang lainnya, baik anak-anak maupun orang tua. Perahu yang kami pakai panjangnya 28 kaki dan memiliki dua lantai. Perahu ini tidak memiliki jendela, dan karena semua penumpangnya berjejalan, terasa seperti ikan sarden di kaleng. Tak ada ruang untuk bergerak dan tak ada udara untuk bernafas - namun hanya inilah cara yang bisa digunakan untuk lari secara sembunyi-sembunyi dari rezim Komunis Utara.

Kami harus berjubelan di perahu ini selama dua hari. Betul-betul tak ada makanan, tak ada air atau udara segar, dan tak ada ruang untuk bergerak. Kami buang air seni, muntah dan tidur di tempat kami berjubelan. Perahu ini kemudian berhenti di pengeboran minyak di daerah Thailand, di mana perahu kami diberi sedikit makanan dan air. Orang Thailand di pengeboran ini menyuruh kami segera berangkat ke arah Hong Kong, karena kelihatan hujan angin-yang keras akan segera turun. Benar, memang hujan angin yang datang begitu kerasnya hingga perahu kami terdorong ke arah perairan Malaysia menuju sebuah pantai bernama Trengganu. Ketika mencapai pulau itu, air di pantai sudah surut, dan terlalu dangkal untuk ukuran perahu kami. Jadi mereka harus terjun ke air yang dalamnya setinggi dada orang dewasa dan cepat-cepat berenang ke daratan.

Saudara laki-lakiku tak bisa berenang karena mereka masih terlalu muda, jadi bapakku harus membawa mereka satu persatu dari perahu ke daratan. Tapi, ketika polisi Malaysia mendapati perahu kaini berada di pantai, mereka segera mengusir kami. Dengan senjata yang diarahkan kepada kami, polisi-polisi itu memerintahkan yang berada di air untuk kembali ke perahu secepatnya, dan bagi yang sudah berada di daratan untuk segera membentuk empat barisan terpisah: laki -laki, perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan. Karena kami tidak tahu apa yang sebetulnya mereka inginkan, mereka mulai memukuli kami karena dianggap tidak mematuhi perintah mereka. Karena kapten kapal tahu bahwa bapakku bisa bicara bahasa Vietnam, China dan lnggris, ia memintanya .untuk menerjemahkan bagi kami. Lalu, polisi-polisi itu pun mulai menggunakan bapakku sebagai penerjemah. Jadi, bapakku dipisahkan dari keluarganya.

Setelah memerintahkan kami untuk membuat empat barisan, polisi-polisi itu membawa para perempuan dana anak-anak ke truk militer GMC milik mereka dan membawa kami ke perahu-perahu kecil mereka. Mereka mengatakan akan membawa kami ke kamp penampungan pengungsi, namun ternyata semua itu bohong saja. Ternyata mereka bermaksud membawa kami ke perahu-perahu kecil mereka untuk ditranster ke perahu kami yang lebih besar. Dan dari barisan penumpang perahu kami, polisi-polisi itu merampas semua barang-barang yang ada. Mereka memaksa kami untuk memberi mereka semua uang, bahkan perhiasan-perhiasan. Dan, kalau menolak, mereka tak segan-segan memberi kami bogem mentah. Tamparan dan pukulan juga menghujani kami kalau barisan tidak bergerak cukup cepat menuju perahu-perahu itu. Padahal, perahu-perahu Malaysia tersebut kecil-kecil, jadi, ada yang kecemplung ke air.

Setelah lepas dari perahu-perahu kecil, dan kembali ke perahu kami yang lebih besar, ibuku mulai menjadi sangat khawatir dan nervus. la sangat khawatir dengan nasib bapakku yang belum dilihatnya, padahal perahu sudah mulai berangkat. Saking stressnya ia jatuh dan pingsan. Melihat ibuku jatuh, sepupu kapten perahu segera berlari menolong ibuku untuk mengecek apa yang terjadi. Lalu, ayahku muncul. la satu-satunya penumpang yang terakhir naik ke perahu. Lalu ia mencoba menyadarkan ibuku, dan mendudukkannya. Kami pikir kejadian mengerikan yang kami alami baru saja berakhir, tetapi ternyata polisi-polisi Malaysia masuk ke perahu kami . la menyuruh bapakku untuk mengikuti mereka lagi, tapi ibuku menggeret bapakku. la tidak mau terpisah lagi. Maka, sepupu kapten kapal tersebut menyuruh bapakku mengikuti polisi-polisi itu, dan ia akan menangani ibuku. Lalu ia pergi untuk mengambil daun teh dan menyuruh ibuku untuk mengunyah daun itu dan ia juga memberi saudara. saudaraku air minum - sesuatu yang amat berarti.

Dua orang tentara Malaysa memaksa bapakku untuk menjadi penerjemah lagi. Mereka memaksa bapakku untuk berkata: berikan apapun kepada tentara ini supaya kamu terhindar dari pukulan mereka. Berikan perhiasanmu. Mereka juga menghardik: Dengan siapa kamu ke sini, siapa yang bersembunyi dengan kamu? Setelah mereka keliling perahu kami dan merampok barang-barang kami, kemudian mereka membiarkan bapakku pergi dan mereka pun kembali ke perahu mereka.

Kemudian, tentara Malaysia tersebut menarik perahu kami ke tengah lautan lagi dan memutus jangkar perahu, seraya menunjuk ke arah sebuah kamp pengungsian yang bernama Kamp pengungsi Bidong dan berteriak: "Cari sendiri! ".

Kami kemudin berlayar lagi selama sehari semalam penuh. Semua di perahu lemas, lemah dan sakit. Orang-orang mulai tak kuasa membuka mata mereka. Adikku (yang berusia kurang dari setahun pada waktu itu) begitu ringkihnya sehingga keluargaku khawatir ia tidak akan selamat. la menjadi lunglai dan tidak bergerak-gerak di dekapan ibuku. Orang-orang berkata ia sudah meninggal, dan meminta ibuku untuk membuangya ke laut, tapi ibuku tak mampu melakukan itu. la tetap bersikukuh, tak rela membiarkan seorang pun untuk menyentuhnya.

Pada malam itu kapten perahu melihat secercah cahaya di kejauhan . Jadi, karena ia merasa melihat secercah cahaya, maka ia berpikir pasti ada kehidupan di sana, jadi ia memutuskan untuk menjalankan perahunya ke sana. la mengikuti cahaya itu dan menemukan sebuah pulau tak berpenghuni. Dan, ketika kami mendarat, kami mencari cahaya tersebut, tapi tak kami temukan. Kapten bersumpah bahwa ia melihat cahaya, dan, katanya: "ltu tadi pasti sebuah keajaiban." Dan, kami pun akhirnya percaya bahwa ada semacam malaikat yang memandu kami ke tempat yang aman.

Ternyata pulau yang tak berpenghuni tadi berada di kawasan Indonesia. Setelah perahu bersandar di pantai itu, kami harus melangkahi mayat-mayat yang bergelimpangan untuk keluar dari perahu. Yang lainnya begitu lemah karena berhari-hari tidak makan dan minum (termasuk keluargaku) sehingga kami hampir tidak bisa berjalan atau harus merangkak.

Pagi harinya, nelayan yang melihat kami terdampar di pulau itu segera bergegas untuk memberitahu petugas yang berwenang. Dan, memang petugas datang dengan perahu yang jauh lebih besar dan menolong kami semua keluar dari pulau tersebut. Keajaban lagi. Ternyata perahu yang kami tumpangi selama ini, tadi malam terseret ombak dan kini tenggelam. Kemudian kami diminta untuk naik truk dan dibawa ke sebuah desa yang bernama Bai Gae. Kami diberi makan dan minum sederhana, tapi bagi kami yang telah terapung berhari-hari, santapan sederhana seperti itu sudah lebih dari cukup .

Pada tanggal 7 Juli. 1979 sejak seminggu setelah lari dari Vietnam dan sampai di desa Bai Gae, keluargaku membangun gubuk yang berukuran 12 kali delapan meter, dan kami, bersama dua keluarga lainnya dengan jumlah total sebelas orang tinggal di gubuk itu. Gubuk itu kami beli dari orang Indonesia dengan uang yang disembunyikan ibu dari rampokan petugas di Malaysia. la menyembunyikan uang tersebut dengan eara digulung dan dimasukkan ke kaos kaki adikku dan disembunyikannya.

Keluargaku tinggal di desa Bai Gae selama tiga bu Ian. Pemerintah Indonesia membantu kami dengan ransum berupa beras dan telur. Sebagai pelengkap, keluargaku membuat jaring untuk digunakan menangkap ikan untuk kami santap sebagai lauk, yang merupakan hal yang mewah pada waktu itu. Kami juga mandi di tempat kami menangkap ikan.

Setelah tiga bulan, pemerintah Indonesia memandang bahwa pulau tersebut terlalu kecil untuk dihuni begitu banyak orang, kemudian mereka mengirim kami ke bagian lain di Indonesia. Kami dikirim ke salah satu kamp pengungsian terbesar, yang bernama Kamp Pengungsi Galang di Indonesia. Kami tinggal di sebuah bangunan yang bernama barak yang berukuran enam puluh kaki dan memiliki empat blok. Selama di Galang, orang Vietnam saling membantu. Bapakku membantu orang lain membereskan baraknya dan ibuku mengurus anak-anaknya. Dan selama di Galang kami menunggu-nunggu untuk diwawanearai dan diberi sponsor ke luar negeri.

Ketika kami tiba di Pulau Galang terdapat kira-kira 5000 orang di kamp pengungsian ini, dan ketika kami meninggalkannya tiga bulan kemudian, jumlah ini menjadi berlipat ganda, menjadi lebih dari 30 ribu orang.

Sumber: Pulau Galang, Wajah Humanisme Indonesia