Saya dan putra saya yang berusia delapan tahun diterima di Kamp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Indonesia pada tahun 1989. Kami meninggalkan kamp tersebut pada tahun 1993.
Kehidupan di kamp tidaklah mudah. Jumlah pengungsi sangat banyak, sementara persediaan kebutuhan hidup sangat terbatas. Setiap minggu, kami masing-masing hanya menerima beberapa kilogram beras, sembilan kaleng kecil ikan herring, sedikit minyak goreng, bumbu Maggie, kecap kedelai, kacang kedelai, dan kacang hijau. Hanya itu saja.
Menyadari bahwa saya dan anak saya mungkin harus tinggal cukup lama di “rumah sementara” ini, saya membeli sebuah kamera dengan uang yang dikirimkan oleh saudara laki-laki saya dari Vietnam. Dengan kamera itu saya mencari nafkah sebagai fotografer.
Setiap hari saya mengambil berbagai foto, mulai dari foto kartu identitas hingga dokumentasi berbagai kegiatan sesuai permintaan pelanggan. Para pelanggan biasanya ingin mengirimkan foto mereka kepada kerabat di Amerika Serikat, Kanada, Australia, atau bahkan di Vietnam, agar keluarga mereka mengetahui bahwa mereka masih hidup dan dalam keadaan baik di kamp pengungsi.
Sebagai seorang fotografer, tujuan saya bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk merekam pemandangan kamp dan berbagai peristiwa yang terjadi di “rumah sementara” ini, agar suatu hari dapat menjadi bagian dari sejarah para “manusia perahu” (boat people) Vietnam.
Setelah selesai memotret pelanggan, saya sering mendaki bukit-bukit di sekitar kamp untuk mencari tempat yang tepat guna memotret seluruh kawasan kamp pengungsi Vietnam, mulai dari Galang 1, Galang 2, hingga Galang 3. Dengan tekad yang kuat, saya juga sempat memotret beberapa peristiwa tragis yang terjadi di dalam kamp.
Kamp yang Semakin Penuh
Pada tahun 1991 hingga 1992 jumlah pengungsi di kamp meningkat hingga lebih dari dua puluh ribu orang.
UNHCR (Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi) berusaha mencegah semakin banyak pengungsi datang. Karena itu mereka mendorong para pengungsi untuk kembali ke Vietnam.
Beberapa orang yang tidak sanggup lagi menghadapi tekanan hidup di kamp akhirnya memutuskan pulang. Namun ada juga yang tetap bertahan dan berusaha menjelaskan keadaan mereka kepada UNHCR agar dapat diterima untuk menetap di negara ketiga.
Sayangnya, tidak semua permohonan diterima. Dan dari situ muncul beberapa peristiwa tragis.
Tragedi Pertama: Pembakaran Diri
Peristiwa tragis pertama terjadi pada tahun 1991, menimpa seorang wanita bernama Huong.
Ia telah dua kali ditolak permohonannya untuk menetap di negara ketiga, meskipun ia menjelaskan kepada UNHCR bahwa ia tidak dapat kembali ke Vietnam karena ayahnya adalah seorang mayor dalam Angkatan Bersenjata Republik Vietnam.
Dalam keputusasaan, ia membakar dirinya sendiri di kamar yang terkunci.
Ketika para penghuni barak berhasil mendobrak pintu untuk menolongnya, seluruh tubuhnya telah terbakar parah. Ia dibawa ke rumah sakit untuk dirawat.
Ketika saya mendengar kejadian itu, polisi sudah berjaga di rumah sakit. Tidak mudah untuk masuk dan memotret.
Saya menyembunyikan kamera di dalam kotak makan siang dan pergi ke rumah sakit. Ketika polisi bertanya, saya mengatakan bahwa saya ingin menjenguk seorang kerabat.
Setelah mencari selama hampir satu jam, akhirnya saya menemukan kamar Huong. Saya segera mengambil foto. Baru satu foto saya ambil ketika ia berkata dengan suara lemah:
“Panas… terlalu panas… saya tidak tahan… tolong jangan memotret lagi.”
Saya segera keluar dari kamar karena takut tertangkap polisi.
Beberapa jam kemudian ia dibawa dengan perahu ke kota Tanjung Pinang untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun ia meninggal sebelum sampai di sana. Jenazahnya kemudian dibawa kembali ke Galang untuk dimakamkan.
Setelah pemakaman, terjadi demonstrasi besar di kamp. Para pengungsi meminta UNHCR meninjau kembali kasus Huong dan mengizinkan mereka untuk ditempatkan di negara ketiga.
Tragedi Kedua: Gantung Diri
Namun proses penyaringan oleh UNHCR tetap berlanjut.
Suatu hari saya sedang dalam perjalanan untuk memotret seorang bayi berusia satu bulan. Ketika melewati Kuil Kim Quang, saya mendengar seseorang berteriak:
“Ada orang gantung diri!”
Saya segera berlari ke arah hutan kecil tempat kejadian itu.
Beberapa orang yang berada di sana memperingatkan saya agar tidak memotret karena polisi akan datang. Namun saya tetap ingin mendokumentasikan peristiwa itu.
Setelah mencari, akhirnya saya menemukan tubuh seorang pria yang tergantung di pohon.
Saya menahan tubuhnya agar tidak bergerak dan mengambil dua foto.
Tak lama kemudian polisi datang. Saya menyembunyikan kamera di belakang punggung saya dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Belakangan saya mengetahui bahwa pria tersebut adalah Nguyen Van Quang, seorang mantan penerjun payung dari Angkatan Bersenjata Republik Vietnam.
Ia juga telah dua kali menjelaskan keadaannya kepada UNHCR, tetapi tetap diputuskan harus kembali ke Vietnam.
Tragedi Ketiga: Aksi Bunuh Diri Bersama
Peristiwa ketiga terjadi pada bulan September 1992, ketika sebuah delegasi dari Jakarta datang mengunjungi kamp.
Salah satu anggota delegasi adalah seorang imam bernama Pastor Trung Minh Cao, yang mendampingi seorang duta Vatikan untuk Indonesia.
Suatu hari setelah misa, ketika saya sedang berbicara dengan Pastor Cao, tiba-tiba terdengar teriakan:
“Bunuh diri!”
Saya segera berlari menuruni bukit.
Di depan mata saya, seorang pria menusukkan pisau ke perutnya. Di dekatnya ada seorang pria lain yang sudah pingsan karena kehilangan banyak darah. Seorang lagi memegang surat yang berlumuran darah.
Ternyata mereka menulis surat kepada Paus dan berharap Gereja dapat membantu mereka memohon kepada UNHCR agar para pengungsi Vietnam diizinkan menetap di negara ketiga.
Saya merasa harus mendokumentasikan peristiwa ini. Namun wakil kepala kamp melihat saya dan berteriak:
“Tidak boleh foto!”
Walaupun demikian, saya sempat mengambil dua foto sebelum melarikan diri.
Saya menyembunyikan film kamera di bawah patung Bunda Maria di gereja, dengan bantuan seorang teman.
Ketika pejabat kamp memeriksa kamera saya, mereka hanya menemukan beberapa gulungan film lain dan tidak menemukan foto yang mereka cari.
Kesalahpahaman terhadap Kebijakan UNHCR
Melihat berbagai tragedi tersebut, orang mungkin berpikir bahwa UNHCR tidak berbelas kasih kepada para pengungsi Vietnam.
Namun sebenarnya sering terjadi kesalahpahaman.
Karena jumlah pengungsi terus bertambah dan kamp menjadi terlalu penuh, UNHCR berusaha menghentikan arus pengungsi baru dengan mendorong sebagian orang untuk kembali ke Vietnam.
Banyak orang Vietnam mengira bahwa jika mereka pernah menjadi tentara atau pejabat pemerintahan Vietnam Selatan, maka mereka otomatis akan diterima di negara ketiga.
Padahal UNHCR memperlakukan semua pengungsi dengan aturan yang sama.
Yang terpenting adalah membuktikan bahwa jika kembali ke Vietnam, mereka benar-benar akan mengalami penganiayaan, dipenjara, atau bahkan dibunuh oleh pemerintah komunis.
Jika hal itu dapat dibuktikan, maka mereka akan diakui sebagai pengungsi dan ditempatkan di negara ketiga.
Namun jika tidak ada ancaman penganiayaan, maka mereka akan diminta kembali ke Vietnam.
Akibatnya, beberapa mantan tentara bahkan perwira Republik Vietnam akhirnya dipulangkan secara paksa, sementara ada juga orang yang sebelumnya pernah menjadi kader komunis justru memperoleh kesempatan untuk menetap di negara lain.*
Diterjemahkan oleh AdExtraID dari web Vietnam Heritage Museum



