Wawancara dengan Istri Duta Besar Belanda di Pulau Galang


Ibu Bùi Tuyết Hồng, istri Duta Besar Belanda untuk Indonesia, mengunjungi para pengungsi Vietnam yang sedang tinggal sementara di Pulau Galang, Indonesia, pada tanggal 22 dan 23 November 1986.

Dalam kunjungan ini, Ibu Bùi Tuyết Hồng mengunjungi serta memberikan hadiah kepada anak-anak dan para pengungsi yang tidak memiliki keluarga di luar negeri sehingga harus tinggal lebih lama di kamp pengungsian. Ia juga mengadakan pertemuan dengan para mantan tentara dan pegawai negeri yang berada di pulau tersebut.

Selain itu, beliau juga mengunjungi pemakaman Galang untuk menyalakan dupa dan berdoa bagi para pengungsi yang telah meninggal di pulau itu, serta membantu perwakilan kamp dalam upaya memperbaiki dan merawat makam-makam tersebut.

Pada Minggu pagi, 23 November, istri duta besar tersebut berbicara dengan umat Katolik di Gereja Santo Yosef, Galang I, mengamati kegiatan pramuka, serta membagikan pakaian kepada anak-anak miskin.

Pada kesempatan ini, Ibu Bùi Tuyết Hồng berkenan memberikan wawancara singkat kepada kami.


Wawancara

Bùi Văn Phú:
Dapatkah Ibu menjelaskan tujuan kunjungan kali ini?

Bùi Tuyết Hồng:
Kunjungan ini sebenarnya merupakan kunjungan rutin. Dalam beberapa bulan terakhir saya tidak dapat datang mengunjungi saudara-saudara pengungsi karena harus pulang ke Belanda dan juga karena kondisi kesehatan. Hari ini saya datang, dan bulan depan saya juga berencana datang kembali mengunjungi mereka.


– Dibandingkan dengan kunjungan sebelumnya, apakah Ibu melihat perubahan dalam kehidupan di kamp?

Pertama-tama saya melihat bahwa kehidupan para pengungsi sekarang lebih stabil dan tidak terlalu banyak gejolak. Anak-anak khususnya terlihat lebih baik, tidak lagi tampak lesu seperti pada kunjungan sebelumnya. Mereka tampak lebih rapi, lebih sehat, dan mendapat perawatan yang lebih baik.


– Menurut informasi yang Ibu ketahui, bagaimana masa depan Pulau Galang setelah tahun ini?

Perwakilan baru dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) memberi tahu saya bahwa dana sebesar 100 juta Rupiah akan digunakan untuk memperbaiki barak-barak tempat tinggal para pengungsi. Hal ini menunjukkan bahwa kamp tersebut belum akan ditutup dalam waktu dekat.


– Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah orang yang tiba di kamp pengungsi di Asia Tenggara telah berkurang. Apakah ini berarti masalah pengungsi Vietnam akan segera berakhir?

Sekarang kita harus melihat kenyataan di Vietnam. Jika rakyat memiliki tanah dan cukup makanan, mereka tentu akan tinggal di negara mereka. Namun ketika kehidupan di Vietnam tidak memiliki masa depan, orang-orang akan terus berusaha pergi.

Vietnam saat ini memiliki banyak hutang kepada Uni Soviet dan negara-negara lain. Jika ada kelebihan dana, itu digunakan untuk membiayai tentara di Kamboja. Perekonomian dan perdagangan Vietnam saat ini hampir tidak berjalan.

Pemerintah di Hanoi mengatakan bahwa negara mereka telah merdeka selama tiga atau empat puluh tahun, tetapi kenyataannya Vietnam justru mundur selama tiga atau empat puluh tahun terakhir. Kehidupan di dalam negeri ditutup-tutupi. Rakyat hidup di bawah tekanan dan tidak melihat masa depan, sehingga mereka memilih untuk melarikan diri.


– Bagaimana kebijakan negara-negara bebas terhadap para pengungsi saat ini?

Negara-negara Barat sebenarnya sudah sangat lelah dengan masalah pengungsi Indochina. Tidak banyak yang masih benar-benar memperhatikannya.

Pergi ke negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, atau Belanda sekarang semakin sulit. Hanya Amerika Serikat yang masih menerima cukup banyak pengungsi karena hubungan sejarah mereka dengan Vietnam sebelumnya. Namun tidak semua orang dapat diterima oleh Amerika jika tidak memenuhi syarat tertentu.

Masalah ini memang sangat rumit.


– Khusus mengenai pemerintah Belanda, apakah ada perubahan dalam kebijakan menerima pengungsi?

Tidak ada perubahan. Belanda tetap memprioritaskan penyatuan keluarga, misalnya antara suami dan istri, atau antara orang tua dan anak-anak yang masih kecil atau belum menikah.

Sedangkan untuk kasus lain seperti saudara kandung, kemungkinan untuk diterima sangat kecil.


– Menurut Ibu, apa cara terbaik bagi orang Vietnam di luar negeri untuk membantu mereka yang masih berada di kamp pengungsian?

Menurut saya, cara terbaik adalah mengadakan penggalangan dana, kemudian mengirim delegasi untuk datang mengunjungi serta memberikan bantuan langsung kepada para pengungsi.


– Namun kami mendengar bahwa sering kali sangat sulit mendapatkan izin untuk masuk ke kamp pengungsi.

Saya akan membantu agar delegasi yang ingin datang dapat memperoleh izin masuk ke kamp. Misalnya, Asosiasi Dokter Vietnam di Texas akan datang bersama saya untuk mengunjungi para pengungsi di Galang dan Thailand pada akhir tahun ini.


– Terima kasih atas waktu yang Ibu berikan untuk wawancara ini.

[Galang, Indonesia – 22 November 1986]


Sumber: https://buivanphu.wordpress.com/1986/11/22/ph%E1%BB%8Fng-v%E1%BA%A5n-phu-nhan-d%E1%BA%A1i-s%E1%BB%A9-hoa-lan-t%E1%BA%A1i-indonesia/