Di tengah sejarah panjang penderitaan, migrasi, dan pergulatan identitas, masyarakat Vietnam menemukan kekuatan spiritual yang mendalam melalui figur perempuan suci: Bunda Maria dalam tradisi Katolik dan Quan Âm (Dewi Welas Asih) dalam Buddhisme.
Sebuah kajian akademik yang diterbitkan dalam jurnal Buddhist-Christian Studies mengungkap bahwa kedua figur ini tidak hanya menjadi pusat devosi keagamaan, tetapi juga memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan spiritual, etika, dan budaya masyarakat Vietnam.
Di tengah sejarah panjang penderitaan, migrasi, dan pergulatan identitas, masyarakat Vietnam menemukan kekuatan spiritual yang mendalam melalui figur perempuan suci: Bunda Maria dalam tradisi Katolik dan Quan Âm (Dewi Welas Asih) dalam Buddhisme.
Sebuah kajian akademik yang diterbitkan dalam jurnal Buddhist-Christian Studies mengungkap bahwa kedua figur ini tidak hanya menjadi pusat devosi keagamaan, tetapi juga memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan spiritual, etika, dan budaya masyarakat Vietnam.
Akar Budaya: Pengaruh Tradisi Dewi Ibu
Kesamaan antara devosi kepada Maria dan Quan Âm tidak muncul begitu saja. Penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya dipengaruhi oleh tradisi asli Vietnam, yaitu kultus Dewi Ibu (Dao Mau).
Sejak zaman dahulu, masyarakat Vietnam telah menghormati berbagai figur feminin sebagai sumber kehidupan dan perlindungan, seperti “Ibu Langit”, “Ibu Laut”, dan “Ibu Gunung”. Tradisi ini kemudian memperkaya cara umat memandang Maria dan Quan Âm sebagai sosok keibuan yang penuh kasih.
Kesamaan antara devosi kepada Maria dan Quan Âm tidak muncul begitu saja. Penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya dipengaruhi oleh tradisi asli Vietnam, yaitu kultus Dewi Ibu (Dao Mau).
Sejak zaman dahulu, masyarakat Vietnam telah menghormati berbagai figur feminin sebagai sumber kehidupan dan perlindungan—seperti “Ibu Langit”, “Ibu Laut”, dan “Ibu Gunung”. Tradisi ini kemudian memperkaya cara umat memandang Maria dan Quan Âm sebagai sosok keibuan yang penuh kasih.
Akibatnya, praktik devosi seperti doa, ziarah, prosesi, hingga persembahan bunga memiliki kemiripan antara tradisi Katolik dan praktik keagamaan lokal Vietnam.
![]() |
| Patung Quan Âm Galang |
Devosi kepada Maria dalam Gereja Katolik Vietnam diwujudkan melalui berbagai bentuk, seperti: Ziarah ke tempat suci (misalnya La Vang), Doa Rosario bersama, Perayaan liturgi dan penghormatan komunitas.
Ribuan hingga jutaan umat berkumpul setiap tahun untuk berdoa kepada Maria, menjadikannya bukan hanya Bunda Gereja, tetapi juga Bunda bagi bangsa Vietnam.
Di sisi lain, umat Buddhis melakukan persembahan, doa, dan kunjungan ke pagoda untuk memohon belas kasih Quan Âm. Praktik ini sering diikuti dengan tindakan sosial, seperti berbagi kepada orang miskin sebagai wujud nyata nilai welas asih.
Walaupun berasal dari tradisi yang berbeda, Maria dan Quan Âm memiliki peran yang sangat mirip: Sumber pengharapan di tengah penderitaan, teladan hidup moral dan spiritual, simbol kasih, kesabaran, dan kerendahan hati Keduanya menjadi “jembatan spiritual” yang tidak hanya menguatkan individu, tetapi juga membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Sumber: https://www.jstor.org/stable/44632366


Komentar0