
Jembatan menuju Gereja Immakulata Galang Site II
Galang
terdengar seperti angin yang memanggil dari kejauhan,
seperti kenangan lama yang menyentuh hati
membuat mata tiba-tiba berkaca-kaca.
Dulu…
kami datang tanpa membawa apa pun selain kehilangan,
sebuah tanah air terbungkus di belakang
dalam deru ombak dan kata-kata yang tak sempat terucap.
Laut begitu luas —
menelan harapan sekaligus ketakutan,
ada tangan-tangan yang terlepas di tengah malam
tanpa sempat sekali pun memanggil nama.
Galang menyambut manusia
dengan tanah kering, terik matahari, dan tatapan sunyi,
tak ada yang bertanya siapa kehilangan apa,
karena di mata masing-masing…
terdapat kehampaan yang sama.
Gubuk-gubuk tipis seperti napas,
tak mampu sepenuhnya menahan hujan yang tiba-tiba,
namun cukup untuk menjaga
sesuatu… yang disebut harapan.
Ada malam-malam panjang tanpa tidur,
tangis anak-anak bercampur dengan suara ombak,
ada yang duduk menatap kegelapan
mencari kembali wajah yang telah tiada.
Dan ada pula pagi-pagi,
cahaya matahari jatuh dengan lembut,
menyentuh bahu para penyintas
seperti sebuah bisikan:
“Selama masih ada… berarti masih ada segalanya.”
Kami belajar untuk tersenyum
di tengah hari-hari tanpa kepastian esok,
belajar berbagi sepotong nasi
seperti membagi kembali bagian kemanusiaan yang tersisa di hati.
Galang bukan sekadar tempat,
melainkan sebuah ukiran yang sangat dalam dalam ingatan —
tempat air mata jatuh cukup untuk mengasin seumur hidup,
dan kasih… tumbuh dari dasar kehilangan terdalam.
Lalu suatu hari kami pergi,
masing-masing menuju arah dan langitnya sendiri,
namun ada hal-hal yang tak pernah benar-benar pergi —
yaitu hari-hari yang dijalani dengan sepenuh hati.
Kini…
ketika menyebut kembali nama Galang,
bukan untuk mengingat luka,
melainkan untuk menyadari betapa kuatnya kami dahulu.
Pernah menembus laut yang ganas,
pernah berdiri di ujung kehilangan,
namun tetap menyimpan dalam hati
sebutir benih kasih.
Galang…
bukan hanya tempat kami pernah hidup,
melainkan tempat yang mengajarkan kami
cara untuk terus hidup.
Dan meskipun waktu akan menghapus banyak hal,
meski rambut telah memutih, hati mulai lelah,
cukup dengan mengingat tempat itu —
hati tetap bergetar pelan…
seperti panggilan dari masa lalu:
“Kami pernah berada di sana…
dan kami tidak pernah runtuh.”
---
Oleh Manh Phuong
----
Teks asli: