Bekerja bersama para pengungsi Vietnam di kamp Galang, Indonesia, adalah salah satu pengalaman paling berkesan dalam 16 tahun karier saya bersama UNHCR. Dari tahun 1991 hingga 1993, saya menjabat sebagai Technical Officer, bertanggung jawab atas pemeliharaan dan operasional infrastruktur kamp Galang setiap hari. Pada saat itu, terdapat lebih dari 15.000 pengungsi yang tinggal di Site 1 dan Site 2.
Selama berada di Galang, saya mengenal para pengungsi Vietnam dengan cukup baik. Saya sangat menikmati bekerja bersama mereka yang bertugas di Technical Office serta sejumlah besar staf pendukung. Para pengungsi ini cerdas, kreatif, dan yang paling penting, pekerja keras. Keadaan tragis yang mereka alami, penderitaan yang mereka tanggung, kinerja individu mereka, serta dukungan dari organisasi seperti UNHCR dan otoritas kamp, semuanya layak untuk dicatat.
Ketahanan mereka dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik membuat mereka tetap bertahan, meskipun dalam kondisi yang sangat sulit. Saya memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap ketabahan mereka.
Saat saya berada di Galang, itu adalah masa yang sangat sulit bagi banyak orang karena adanya proses screening. Sebagian besar pengungsi harus membuktikan bahwa mereka benar-benar layak disebut sebagai pengungsi. Jika tidak, mereka akan dipulangkan kembali ke Vietnam. Banyak dari mereka telah tinggal di kamp Galang hingga enam tahun, namun akhirnya tetap dipulangkan. Tragisnya, hal ini sering berujung pada keputusan sebagian pengungsi untuk mengakhiri hidup mereka daripada kembali. Banyak dari mereka masih muda. Bahkan, Technical Office mengelola bengkel pertukangan yang digunakan untuk membuat peti mati.
Secara umum, para pengungsi memiliki banyak waktu luang. Hampir tidak ada kegiatan yang bisa mengisi pikiran mereka, sementara kecemasan tentang masa depan terus menghantui. Mereka hanya duduk, menunggu, dan khawatir. Tekanan psikologis sangat terasa. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan kegiatan yang dapat mengalihkan pikiran mereka, terutama bagi para pengungsi muda.
Salah satu upaya yang cukup berhasil adalah mencari dan melibatkan para seniman. Saya menyukai seni, dan setelah diberi tahu oleh staf bahwa ada seniman profesional di antara para pengungsi, saya memutuskan untuk mencoba. Saya menyebarkan informasi bahwa saya mencari seniman. Tak lama kemudian, banyak yang datang menemui saya, dari yang muda hingga yang tua.
Dari mereka, saya membentuk sebuah tim yang terdiri dari tujuh seniman paling menjanjikan. Saya menyediakan perlengkapan seni serta referensi berupa buku dan poster karya para maestro, dan mereka mulai melukis sebagai bagian dari rutinitas harian mereka. Mereka terlibat dalam proses kreatif dan menikmati pekerjaan tersebut. Sebuah pameran seni pun diadakan di Galang, yang juga dikunjungi oleh berbagai delegasi. Beberapa lukisan berhasil terjual, dan hasilnya diberikan kepada para seniman.
Salah satu di antara mereka adalah An Nguyen, yang kini tinggal di Australia Barat. Saya tidak akan pernah melupakan pertemuan pertama kami. Seorang temannya membawanya kepada saya. Ia masih berusia dua puluhan dan sangat pemalu. Kami berbicara melalui seorang penerjemah. Ia mengatakan bahwa ia belum pernah melukis sebelumnya, tetapi di dalam hatinya ia yakin bahwa ia bisa melukis.
Kata-katanya sangat menyentuh saya. Saya memberinya sebuah kanvas kecil berbingkai ukuran A4, beberapa kuas, cat minyak, dan salinan karya Salvador Dali berjudul Woman with a Head of Roses. Saya memintanya kembali dalam satu minggu untuk menunjukkan hasil lukisannya.
Tujuh hari kemudian, An datang ke Technical Office sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. Saya tidak akan pernah melupakan ekspresi wajahnya—campuran antara gugup dan antusias. Saya memintanya menunjukkan apa yang ia bawa. Ia sempat ragu sejenak, lalu mengeluarkan sebuah lukisan kecil—lukisan yang sempurna dan indah.
Ya, lukisan pertamanya benar-benar mengejutkan saya. Sangat presisi, warna yang tepat, dan dilukis dengan sangat baik.
Sejak saat itu, An jatuh cinta pada dunia lukis. Ia melukis siang dan malam dengan penuh semangat. Saya sesekali mengunjunginya di Site 1, tempat ia tinggal di sebuah gubuk kecil. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter, yang ia tempati bersama istrinya, ibu mertua, dan saudara iparnya. Saat melukis, ia duduk di lantai, di ruang sempit di antara dua tempat tidur. Pada malam hari, ia menggunakan lilin dan lampu minyak kecil sebagai penerangan, ditemani ratusan nyamuk yang berterbangan. An menghasilkan serangkaian lukisan yang sangat indah, meniru karya-karya terbaik Salvador Dali.
Setahun setelah saya meninggalkan Galang, An dan keluarganya diterima untuk menetap di Australia Barat. Saat ia tiba, ia menghubungi saya, dan sejak itu kami sesekali bertemu. Saya masih menyimpan lukisan-lukisan yang ia buat di Galang, dan ketika saya menunjukkannya kembali kepadanya, saya melihat betapa berharganya karya-karya itu baginya. Saya pun memutuskan untuk mengembalikannya semua.
Ia sangat terharu dan emosional saat menerimanya kembali. Lukisan-lukisan itu bukan sekadar karya seni, melainkan kenangan hidup dari masa yang sulit dalam hidupnya. Lukisan-lukisan itu seharusnya tetap bersamanya, agar suatu hari anak-anaknya dapat memahami perjalanan hidup ayah mereka. Itu adalah bukti nyata perjuangan dan penderitaan di kamp pengungsian yang tidak boleh dilupakan.
Bertemu dengan para pengungsi Vietnam di Galang adalah pengalaman yang sangat istimewa. Masa saya di sana sebagai Technical Officer UNHCR penuh dengan kenangan. Dapat dikatakan bahwa saya dan para pengungsi Vietnam yang pekerja keras di Galang telah membangun banyak hubungan yang indah, yang memberi kontribusi besar bagi kesejahteraan komunitas kamp dan staf UNHCR.
Saya bersyukur atas dukungan mereka dan merasa terhormat bisa mengenal orang-orang seperti An.
Stane Salobir
Kisah ini dikutip dari buku Boat People: Personal Stories from the Vietnamese Exodus 1975–1996, disunting oleh Carina Hoang.
