![]() |
| Kantor Majalah Tu Do di Pulau Galang (Site I) |
Romo Gildo Dominici, yang memiliki nama Vietnam Đỗ Minh Trí, seorang imam dari Serikat Yesus (Jesuit), sekaligus dermawan bagi para pengungsi Vietnam yang melarikan diri lewat laut, telah meninggal dunia. Siapa pun yang pernah hidup di kamp-kamp pengungsian di Asia Tenggara, khususnya di kamp Galang, Indonesia, pasti mengenal beliau.
Pada akhir tahun 1970-an, gelombang pengungsi perahu meningkat pesat, dengan puluhan ribu orang meninggalkan tanah air setiap bulan. Banyak di antara mereka tidak pernah sampai ke daratan. Mereka yang beruntung selamat kemudian ditempatkan di kamp-kamp pengungsian di Thailand, Malaysia, Hong Kong, Filipina, atau Indonesia. Galang, sebuah pulau kecil di antara sekitar 17 ribu pulau di Indonesia, digunakan sebagai tempat penampungan para pengungsi ini. Pada puncaknya, sekitar tahun 1979–1982, jumlah penghuni di Galang pernah mencapai 15.000 orang yang menunggu untuk ditempatkan di negara ketiga.
Pada akhir tahun 1979, Romo Dominici tiba di Galang untuk melayani kebutuhan pastoral umat Katolik di kamp tersebut. Namun, melihat kekurangan dan penderitaan yang dialami para pengungsi secara umum, beliau tidak hanya membantu umat Katolik, tetapi juga memperjuangkan kebutuhan sosial, budaya, dan pendidikan bagi semua orang di kamp.
Berbagai pusat kegiatan di kamp untuk anak-anak, kaum muda, dan perempuan terbentuk sebagian berkat upaya beliau dalam bekerja sama dengan badan pengungsi dan pemerintah setempat. Ia juga mendirikan majalah dwibulanan “Tự Do” sebagai santapan rohani yang memberikan informasi kepada para pengungsi tentang kehidupan di kamp, dunia luar, serta kehidupan di negara tujuan mereka.
Pada April 1980, majalah “Tự Do” terbit edisi pertamanya dan terus berlanjut selama enam tahun berikutnya. Pada awalnya terbit setiap dua minggu, kemudian semakin jarang, dengan ketebalan antara 50 hingga 80 halaman dan dicetak sekitar 500 eksemplar setiap terbit. Majalah ini mendapat kontribusi dari banyak penulis, termasuk sejumlah seniman dan budayawan terkenal yang pernah singgah di Galang seperti Hoàng Minh Thúy, Đỗ Thái Nhiên, pelukis Vị Ý, Phan Tấn Hải, dan Việt Tỉnh.
Ketika jumlah pengungsi di Galang mulai berkurang, dan pemerintah Amerika Serikat menghentikan penggunaan Galang sebagai pusat pelatihan bahasa Inggris serta orientasi budaya sebelum para pengungsi berangkat ke Amerika, majalah “Tự Do” pun berhenti terbit pada akhir tahun 1986, dengan edisi terakhir bernomor 116.
![]() |
| Pastor Gildo Dominici SJ |
Romo Dominici secara rutin menulis dalam setiap edisi majalah tersebut. Tulisan-tulisannya tidak semata-mata berfokus pada pewartaan Injil, tetapi lebih banyak membahas budaya, sejarah, dan tradisi Vietnam; juga nilai-nilai Barat, serta perbandingan antara kelebihan dan kekurangan budaya Timur dan Barat, agar para pengungsi siap secara mental menghadapi kehidupan baru dan pilihan yang harus mereka ambil.
Tulisan-tulisan beliau kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Việt Nam Quê Hương Tôi, pertama kali diterbitkan di kamp Galang pada tahun 1984, kemudian dicetak ulang di kamp Bataan (Filipina) tahun 1987, dan pada tahun 1990 diterbitkan kembali di Amerika Serikat.
Dalam kata pengantar buku tersebut, Trần Đại Độ—seorang pengungsi yang pernah tinggal di Galang—menulis bahwa setelah melalui 40 tahun perang, diikuti oleh rezim yang tidak manusiawi dengan penuh kebencian, kekerasan, dan kemiskinan, Romo Dominici melihat kebutuhan mendesak untuk membangun kembali jiwa para pengungsi yang hancur oleh kehilangan dan penderitaan. Ia melakukannya dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan abadi umat manusia: kasih, kemanusiaan, kebebasan, keadilan, demokrasi, serta nilai-nilai sejati dari budaya dan tradisi Vietnam.
“Vietnam adalah tanah airku, meskipun aku tidak dilahirkan di sana. Aku hanya tinggal di sana selama tujuh tahun… Tanah air itu bukanlah pegunungan yang hijau atau sungai-sungai yang indah seperti Sungai Mekong. Bukan pula hutan atau ladang yang subur… Tetapi ada Vietnam lain yang lebih luas—itulah Budaya Vietnam, Jiwa Vietnam, dan Tradisi Spiritual Vietnam. Itulah tanah airku yang sesungguhnya.”
Karena kecintaannya yang mendalam terhadap budaya dan tradisi Vietnam, hidup Romo Dominici terikat erat dengan bangsa Vietnam selama lebih dari tiga dekade. Khotbah-khotbahnya di gereja, pembinaan bagi kaum muda dalam retret dan pertemuan, serta tulisan-tulisannya di majalah “Tự Do” menjadi sumber kekuatan, penghiburan, sekaligus inspirasi bagi para pengungsi dalam menghadapi masa depan.
![]() |
| Staf redaksi surat kabar Tu Do (Kemerdekaan) menerbitkan surat kabar di kamp pengungsi Galang, Indonesia (Foto: Bui Van Phu) |
Siapa pun yang pernah mendengar atau membaca karya-karyanya dalam situasi pengungsian pasti masih menyimpan kenangan tentang gembala yang baik ini.
Romo Dominici lahir pada tahun 1935 di Assisi, Italia. Ia ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1960, dan pada tahun 1964 bergabung dengan Serikat Yesus dengan keinginan menjadi misionaris di luar negeri. Tahun 1967 ia datang ke Vietnam dan belajar bahasa Vietnam di pusat Đắc Lộ, Saigon. Kemudian ia mengajar di seminari Simon-Hòa di Đà Lạt sambil memperdalam bahasa Vietnam. Pada tahun 1970 ia menyelesaikan disertasi doktor dalam hukum kanonik di Roma, lalu kembali ke Vietnam mengajar di Institut Kepausan Đà Lạt hingga April 1975.
Pada tahun 1977, ia kembali ke Asia Tenggara dan bekerja di Jakarta, Indonesia. Sejak Agustus 1979, ia ditugaskan ke kamp Galang. Tahun 1985 ia berpindah ke kamp Bataan di Filipina, kemudian ke Thailand, tetap melayani para pengungsi hingga tahun 1990.
![]() |
| Sampul Majalah Tu Do edisi 68 dan 111 yang diterbitkan di kamp pengungsi Galang, Indonesia (Foto: Bui Van Phu) |
Pada hari Minggu, 2 Maret 2003, Tuhan memanggilnya pulang. Pada hari Rabu Abu, umat Katolik percaya bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu, sementara jiwa bersifat kekal. Semoga jiwa Romo Dominici beristirahat dalam damai bersama Tuhan selamanya.
(Penulis Bùi Văn Phú pernah bekerja di kamp-kamp pengungsian Asia Tenggara pada tahun 1980-an)
By Bùi Văn Phú, sumber: https://vietnamweek.net/cha-dominici-tu-tro-bui-lai-ve-voi-bui-tro/



