GpApGUAiBSYoTUr8GpAiTUdoTY==

Galang; Air Mata Tak Bersuara

Gereja Imakulata Galang

Ada senja-senja dengan angin tak bernama

Bertiup melewati kenangan… terasa perih hingga ke hati
Laut tetap sama — ombak menghantam pasir putih
Namun mereka yang dulu… kini tersesat di berbagai penjuru.

Galang oh… suatu masa kami pernah hidup di sana
Hidup dengan harapan yang tipis seperti embun
Malam-malam gelap kami saling berpelukan melewati badai
Mendengar raungan laut… seakan itu suara tanah air.

Ada air mata yang tak pernah bersuara
Jatuh diam-diam… asin membekas sepanjang hidup
Perahu kecil membawa begitu banyak takdir
Menukar satu kehidupan… demi dua kata: “masa depan”.

Siapa yang masih ingat barisan manusia yang sunyi
Menata hidup mereka… dalam bayang yang rapuh
Tangan saling menggenggam melewati lapar dan dingin
Mata memandang jauh… namun tak melihat fajar datang.

Galang itu—bukan sekadar tempat menunggu
Melainkan tempat di mana masa muda terkubur
Ada mereka yang pergi… dan tak pernah kembali
Menjadi awan… hanyut tanpa batas.

Aku masih bertanya—di malam panjang tanpa angin
Kapan bisa kembali ke tempat itu?
Atau semuanya kini hanya tinggal kenangan
Terukir di hati… menyakitkan entah sampai kapan…

Jika suatu hari… aku kembali melewati laut yang lama
Izinkan aku menunduk… menyebut nama “Galang”
Agar air mata jatuh sebagai ungkapan penyesalan
Atas sebuah masa… yang telah hilang… dan tak bisa kembali…



Type above and press Enter to search.