![]() |
| Tiga ssuster, dari kelompok sembilan orang dari ordo Lovers of the Holy Cross, memperbarui kaul mereka di Paroki Martir Vietnam di Arlington pada 11 Agustus 2019. (NTC/Ben Torres) |
Evangelisasi bagi Generasi Baru
Memastikan kaum muda memahami dan tetap setia kepada Kristus merupakan tantangan bagi semua orang tua maupun Gereja pada umumnya. Komunitas Vietnam pun tidak terkecuali.
Sementara generasi awal pengungsi Vietnam semakin diteguhkan imannya melalui perjuangan besar mereka untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari penindasan, banyak anak dan cucu mereka tidak mengalami pengalaman yang sama.
Di Vietnamese Martyrs Parish, dua suster dari tarekat Lovers of the Holy Cross menjalankan misi untuk membawa kaum muda Vietnam semakin dekat kepada Kristus. Suster Theresa Tran melayani sebagai direktur pembinaan iman dan katekese di paroki tersebut, sementara Suster Maria Chu bertugas sebagai direktur pendidikan agama. Kedua suster itu melayani lebih dari 1.600 keluarga.
Baik Sr. Theresa maupun Sr. Maria lahir di Vietnam setelah pengambilalihan kekuasaan oleh komunis, bergabung dengan tarekat religius mereka di Vietnam, dan masing-masing memperoleh gelar sarjana serta magister di Amerika Serikat. Pada tahun 2017, tarekat mereka menugaskan mereka untuk melayani di Vietnamese Martyrs Parish.
Kedua suster ini berada di antara dua generasi: generasi yang berjuang untuk bebas dari penindasan agama dan generasi muda yang berusaha hidup di antara dua budaya—Vietnam dan Amerika. Yang menyatukan semuanya adalah iman kepada Yesus Kristus.
“Bagi generasi yang lebih tua,” kata Sr. Theresa, “semakin mereka menderita, semakin mereka tetap setia kepada Tuhan. Penderitaan membuat mereka lebih kuat dan mendorong mereka mempertahankan iman serta percaya kepada Tuhan. Ketika mereka datang ke Amerika Serikat, mereka terus membangun relasi dengan Tuhan dan semakin bertumbuh dalam hubungan mereka dengan Yesus Kristus.”
Dalam budaya Vietnam, jelas Sr. Theresa, keluarga makan bersama, berdoa bersama, dan memelihara hubungan yang kuat dengan Tuhan.
“Yang secara tradisional menjaga keluarga tetap bersatu adalah iman Katolik mereka yang kuat,” kata Sr. Theresa.
Menurutnya, para orang tua dan kakek-nenek dari Vietnam selalu ingin mempertahankan tradisi itu di Amerika Serikat.
“Mereka mendorong anak-anak mereka untuk hidup kudus, menjadi pribadi yang baik, dan setia kepada Gereja. Mereka ingin anak-anak mereka terlibat dalam kehidupan Gereja.”
Bagi para remaja, menghormati tradisi-tradisi tersebut terkadang menjadi tantangan, kata Sr. Theresa. Karena itu penting untuk mendengarkan kaum muda dan menciptakan program-program yang membuat mereka tetap terhubung dengan orang tua dan Gereja. Semakin dini anak-anak dilibatkan bersama keluarga mereka di paroki, semakin baik, tambahnya.
“Karena itu kami melakukan yang terbaik untuk membantu mereka menjadi umat Katolik yang setia,” kata Sr. Theresa. “Itulah tugas kami, tanggung jawab kami.”
Sr. Maria setuju dan berharap semua umat Katolik mengikuti teladan para Martir Vietnam. Beberapa kelompok martir ini mengalami penganiayaan dan dibunuh di Vietnam karena mempertahankan iman Katolik mereka pada tahun 1798 hingga 1861.
Nama paroki di Arlington, tempat para suster Lovers of the Holy Cross melayani, diberikan untuk menghormati para martir tersebut.
“Mereka hidup bagi Tuhan dan mereka mati bagi Tuhan,” kata Sr. Maria, “dan sekarang mereka mengajarkan kepada kita bagaimana menghidupi iman kepada Tuhan.”
Sejarah Panjang di Keuskupan Fort Worth
Romo Nguyen menyampaikan pandangan yang sama tentang para Martir Vietnam dan teladan yang mereka berikan bagi umat beriman sesudah mereka.
“Di Vietnam, iman kami lahir dari penganiayaan… Darah para martir Vietnam memberi kami kemampuan untuk berintegrasi, terhubung, hidup, dan bertahan melalui iman kami.”
Upaya penuh iman dari masyarakat keturunan Vietnam ini telah berlangsung hampir sepanjang 50 tahun keberadaan Keuskupan Fort Worth di Texas Utara. Pada saat yang sama, komunitas Katolik Vietnam memainkan peranan penting dalam pertumbuhan pesat keuskupan tersebut.
“Kami selalu bersyukur kepada komunitas Amerika yang menerima kami dan mengundang kami menjadi bagian dari keuskupan,” kata Romo Nguyen.
“Ketika komunitas Amerika menerima kami, hal itu memungkinkan umat Vietnam berkumpul untuk merayakan Ekaristi Kudus,” lanjutnya. “Dan dari Ekaristi itulah kami mampu membangun Gereja, dan Gereja telah memberikan Ekaristi kepada kami.”
“Itulah sebabnya hari ini komunitas Vietnam di keuskupan ini menjadi sangat kuat.”

