Ada senja-senja ketika kita terdiam di depan nisan
Mendengar laut berkisah tentang sebuah perpisahan panjang.
Setiap ombak terdengar seperti suara mereka yang telah pergi selamanya,
Memanggil tanah air dari kedalaman laut yang samar dan jauh.
Mereka pergi bukan karena ingin meninggalkan segalanya.
Bukan karena ingin meninggalkan rumah, deretan pohon pinang tua.
Bukan karena ingin meninggalkan suara ibu yang meninabobokan malam,
Atau ladang harum beraroma padi di bulan Maret.
Namun tanah air saat itu terlalu menyakitkan,
Sehingga air mata berubah menjadi jalan pelarian di lautan.
Perahu kecil rapuh seperti sehelai daun,
Sementara maut mengintai di tengah samudra luas.
Ada seorang ayah memeluk anak kecil di dadanya,
Menjadikan tubuhnya perisai menghadapi gelombang ganas.
Ada seorang ibu menahan lapar dari jatah makanan yang sedikit,
Agar anaknya masih memiliki tenaga menunggu hari esok.
Ada mereka yang tak pernah sampai ke tujuan.
Namanya masih dikenang, tetapi tubuhnya tenggelam di dasar laut.
Laut memeluk mereka dengan dingin yang sunyi,
Dan ombak selama ribuan tahun terus melantunkan doa bagi mereka.
Ada pula mereka yang, ketika akhirnya menginjak tanah kehidupan baru,
Berlutut mencium tanah Galang sambil menangis.
Menangis karena masih hidup…
Menangis karena begitu banyak yang telah tiada…
Menangis karena tahu bahwa mulai hari itu mereka mungkin tak akan pernah pulang lagi.
Malam di Galang tetap diterangi cahaya bulan di sepanjang tanggul,
Namun di mata mereka yang jauh dari tanah air, badai belum pernah reda.
Separuh jiwa tertinggal di sungai-sungai lama kampung halaman,
Separuh hidup mengembara di negeri yang asing.
Tahun demi tahun berlalu, rambut memutih tanpa terasa.
Anak cucu tumbuh dengan bahasa negeri lain.
Namun setiap kali terdengar lagu dan seruan dari tanah Vietnam,
Hati kembali perih seperti luka yang belum sembuh.
Karena ada hal-hal yang melampaui waktu:
Suara Ibu yang memanggil di malam pengasingan,
Bayangan tanah air miskin di masa lalu,
Yang mengikuti sepanjang hidup dalam setiap mimpi.
Jika suatu hari nanti aku kembali singgah ke Galang,
Izinkan aku menyalakan sebatang dupa kenangan.
Bagi mereka yang kini beristirahat di dasar laut,
Tanpa makam… tanpa nama yang dipanggil.
Izinkan aku menundukkan kepala bagi mereka yang hidup terombang-ambing,
Yang menukar masa muda dan nyawa mereka sendiri,
Agar generasi sesudahnya dapat memandang langit yang luas,
Dan hidup dengan bebas menentukan masa depannya sendiri.
Dan jika suatu hari ada yang bertanya:
“Apakah itu Galang?”
Jangan katakan bahwa itu hanya sebuah pulau.
Galang adalah air mata.
Galang adalah perpisahan.
Galang adalah makam tanpa jasad.
Galang adalah jeritan tertahan dari tanah air
Di dalam hati mereka yang hidup dalam pengasingan.
Galang adalah tanah air bagi mereka yang kehilangan tanah air.
Galang adalah satu babak luka dalam sejarah sebuah bangsa.
Dan Galang adalah nyala api suci yang tak pernah padam
Dalam ingatan orang-orang Vietnam yang jauh dari rumah…
Untuk selama-lamanya.
----
by Man Phuong
