Kardinal Silvano M. Tomasi, C.S. dan Perannya dalam Krisis Pengungsi Indochina

Kardinal Silvano M Tomasi, CS

Fenomena perpindahan penduduk secara global sering kali dipandang hanya melalui lensa statistik ekonomi atau ancaman keamanan nasional. Namun, dalam lintasan sejarah diplomasi Takhta Suci, muncul seorang figur yang secara konsisten mengintegrasikan ketajaman sosiologis dengan mandat pastoral Gereja untuk memberikan perlindungan sistemik bagi martabat manusia. Kardinal Silvano Maria Tomasi, C.S., merupakan arsitek utama di balik transformasi pendekatan Gereja terhadap migrasi, beralih dari sekadar bantuan karitatif menjadi advokasi hak asasi manusia yang berakar pada data empiris dan hukum internasional.1 Sebagai seorang sosiolog, editor, diplomat, dan akhirnya pangeran Gereja, perjalanan hidup Tomasi mencerminkan evolusi respon global terhadap krisis kemanusiaan paling kompleks pada abad ke-20 dan ke-21, terutama dalam menangani tragedi eksodus Indochina yang melibatkan jutaan "manusia perahu".4

Silvano Maria Tomasi lahir pada 12 Oktober 1940 di Casoni di Mussolente, sebuah desa di wilayah utara Italia yang kental dengan tradisi Katolik.1 Tumbuh dalam atmosfer Italia pasca-Perang Dunia II, Tomasi bersama saudaranya, Lydio F. Tomasi, merasakan panggilan spiritual yang mendalam sejak usia dini. Keduanya memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Misionaris St. Charles Borromeo, yang lebih dikenal sebagai kaum Scalabrinian.2 Kongregasi ini, yang didirikan oleh Santo Giovanni Baptist Scalabrini pada tahun 1887, memiliki misi khusus yang sangat spesifik: melayani para migran dan pengungsi.2 

Pilihan vokasi ini menjadi penentu utama bagi seluruh karier Tomasi. Berbeda dengan banyak klerus pada generasinya yang berfokus pada pelayanan paroki tradisional, Tomasi mewarisi visi holistik sang pendiri yang menekankan bahwa pelayanan terhadap migran harus mencakup kolaborasi dengan otoritas sekuler dalam pengembangan kebijakan publik yang adil.2

Pada tahun 1960, ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Collegio Scalabrini-O'Brien di Italia sebelum berangkat ke New York untuk menyelesaikan studi teologis dan akademisnya.2 Tomasi ditahbiskan menjadi imam pada 31 Mei 1965 oleh Uskup Pembantu New York, Joseph Maria Pernicone.1 Ia kemudian memperdalam keterlibatannya dalam dunia akademis dengan mengambil studi sosiologi di Fordham University. Ia memperoleh gelar Master of Arts pada tahun 1967 dan mencapai puncaknya dengan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang sosiologi pada tahun 1972.1

Disertasi doktoralnya, yang berjudul Piety and Power: The Role of Italian Parishes in the New York Metropolitan Area, 1880-1930, memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana institusi keagamaan bertindak sebagai pusat integrasi sosial dan kekuatan politik bagi komunitas imigran.2 Karya ini mengukuhkan Tomasi sebagai pengamat ilmiah yang tajam terhadap dinamika etnis dan kekuasaan di Amerika Serikat, yang kelak menjadi modal penting dalam memimpin birokrasi Gereja yang menangani migrasi.2

Membangun Infrastruktur Migrasi

Selama dekade 1970-an, Silvano Tomasi tidak hanya belajar sebagai akademisi di City University of New York dan New School for Social Research, tetapi juga mulai membangun infrastruktur intelektual yang akan mengubah cara dunia mempelajari migrasi.1 Pada tahun 1964, ia menjadi salah satu pendiri Center for Migration Studies (CMS) di New York, sebuah wadah pemikir yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan data empiris mengenai migrasi internasional demi mendukung perlakuan yang adil bagi migran dan pengungsi.2

Di bawah kepemimpinan Tomasi sebagai Direktur Eksekutif pertama (1966-1983), CMS berkembang menjadi institusi global yang menjembatani kesenjangan antara teori sosiologis dan praktik pastoral.2 Salah satu kontribusi paling signifikan dari era ini adalah peluncuran International Migration Review (IMR), sebuah jurnal ilmiah interdisipliner yang segera diakui sebagai otoritas utama dalam bidang studi migrasi.2 IMR memberikan platform bagi sosiolog, ekonom, sejarawan, dan pakar hukum untuk menganalisis fenomena perpindahan penduduk melampaui batas-batas nasional.8

Peran Tomasi sebagai editor dan pemikir strategis di CMS memungkinkannya untuk mempengaruhi diskursus publik di Amerika Serikat. Pada tahun 1973, ia mengemukakan kepada New York Times bahwa imigran Italia yang miskin sering kali enggan memanfaatkan program bantuan pemerintah karena takut akan "penghinaan," sebuah observasi sosiologis yang menyoroti pentingnya martabat manusia dalam kebijakan kesejahteraan.1 Melalui CMS, ia juga mengorganisir konferensi tahunan "In Defense of the Alien" yang menjadi forum penting bagi advokasi hak-hak migran di hadapan pembuat kebijakan di Washington D.C..7

Respon terhadap Tragedi Manusia Perahu Indochina

Karier Tomasi mengambil langkah besar ke arah kebijakan praktis ketika ia diangkat sebagai Direktur Kantor Pelayanan Pastoral untuk Migran dan Pengungsi (Migration and Refugee Services/MRS) di Konferensi Waligereja Amerika Serikat (USCCB) pada tahun 1983, posisi yang ia emban hingga 1987.1 Pengangkatan ini menempatkannya tepat di tengah salah satu krisis kemanusiaan terbesar pada abad itu: eksodus pengungsi dari Indochina setelah berakhirnya Perang Vietnam pada tahun 1975.2

Krisis Indochina melahirkan fenomena "manusia perahu" (boat people), di mana jutaan orang dari Vietnam, Laos, dan Kamboja melarikan diri menggunakan kapal-kapal kecil yang tidak layak melaut, menghadapi risiko tenggelam, serangan bajak laut, dan penolakan di pelabuhan-pelabuhan suaka pertama di Asia Tenggara.4 Sebagai Direktur MRS, Tomasi memimpin upaya Gereja Katolik Amerika untuk memfasilitasi pemukiman kembali (resettlement) ribuan pengungsi ini di Amerika Serikat.2

Ia menggunakan latar belakang sosiologisnya untuk mengadvokasi integrasi yang bermartabat bagi komunitas Vietnam, Kamboja, dan Laos.2 Ia secara aktif mengunjungi komunitas-komunitas pengungsi yang baru tiba, mengidentifikasi kebutuhan spesifik mereka, dan mendorong pembentukan struktur kepemimpinan awam di dalam komunitas tersebut agar mereka tidak hanya menjadi objek bantuan, tetapi subjek dari masa depan mereka sendiri.2

Dalam periode ini, Tomasi menentang keras gerakan restriksionis yang mencoba membatasi jumlah pengungsi dengan dalih keamanan ekonomi atau pelestarian budaya.10 Ia berpendapat bahwa kekhawatiran tentang "diversifikasi budaya" sering kali merupakan kedok bagi prasangka rasial terhadap orang Asia dan Hispanik.10 Baginya, keberhasilan Amerika Serikat sebagai sebuah bangsa justru terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan kelompok-kelompok baru ini ke dalam struktur sosial dan keagamaan yang sudah ada, tanpa menghapus identitas asal mereka.10

Kontribusi Intelektual Terkait Studi Pengungsi

Salah satu kontribusi literasi paling valid dan berpengaruh dari Tomasi terkait pengungsi Vietnam terjadi pada tahun 1981. Bersama Barry Stein, ia menyunting edisi khusus jurnal International Migration Review yang berjudul "Refugees Today".8 Publikasi ini dianggap oleh komunitas akademis global sebagai dokumen pendiri bidang "Studi Pengungsi" (Refugee Studies).8

Dalam edisi tersebut, Tomasi dan Stein berargumen bahwa penanganan pengungsi harus beralih dari pendekatan ad hoc yang bersifat darurat menuju analisis sistemik yang mempertimbangkan pola konsistensi dalam pengalaman pengungsi.8 Mereka menekankan bahwa pengungsi Indochina bukan sekadar fenomena terisolasi, melainkan cerminan dari kegagalan tata kelola global dan ketegangan kedaulatan negara versus hak asasi manusia.8 Melalui publikasi ini, Tomasi memberikan kerangka intelektual bagi UNHCR dan organisasi internasional lainnya untuk memahami bahwa perlindungan pengungsi adalah kewajiban hukum internasional, bukan sekadar pilihan sukarela negara-negara donor.4

Edisi khusus ini juga menyoroti dilema "manusia perahu" Vietnam yang terjebak dalam limbo politik di kamp-kamp pengungsian di Asia Tenggara.4 Tomasi menyerukan perlunya "solusi jangka panjang" yang mencakup repatriasi sukarela, integrasi lokal di negara suaka pertama, atau pemukiman kembali di negara ketiga—tiga pilar yang kemudian menjadi standar operasional global dalam menangani krisis pengungsi.4

Kardinal Silvano M Tomasi di Galang Site II, Agustus 2025

Peran dalam Comprehensive Plan of Action (CPA) 1989 dan Evaluasinya

Keterlibatan Tomasi dalam krisis Indochina mencapai puncaknya pada tingkat diplomatik tertinggi melalui keterlibatannya dalam konferensi internasional yang menghasilkan Comprehensive Plan of Action (CPA) pada tahun 1989 di Jenewa.4 CPA adalah sebuah terobosan diplomatik yang dirancang untuk mengatasi arus pengungsi dari Vietnam, Laos, dan Kamboja yang terus berlanjut lebih dari satu dekade setelah berakhirnya konflik bersenjata.4

Sebagai wakil dari Takhta Suci, Tomasi memberikan kontribusi kritis dalam mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan CPA. Dalam dokumen reflektif yang diterbitkan pada tahun 1996, ia memberikan analisis tajam mengenai penutupan program tersebut.4 Ia mencatat bahwa lebih dari dua juta orang telah meninggalkan Indochina sejak tahun 1975, sebuah angka yang menunjukkan skala kegagalan komunitas internasional dalam mencegah penyebab awal arus pengungsi.4

Tomasi menekankan beberapa poin krusial dalam evaluasi CPA 1996 tersebut:

   Kepastian Status Kewarganegaraan: Ia menyoroti masalah ratusan orang di kamp-kamp yang terancam menjadi tanpa kewarganegaraan (stateless), terutama anak-anak. Ia mendesak agar hak atas kebangsaan, sebagaimana dijamin oleh Deklarasi Universal HAM, harus menjadi prioritas dalam menentukan solusi permanen bagi para penghuni kamp terakhir.4
Penolakan terhadap Koersi: Tomasi mengecam praktik pelecehan dan pencabutan layanan dasar secara sengaja di kamp-kamp untuk memaksa pengungsi kembali ke negara asal mereka. Ia menegaskan bahwa repatriasi harus selalu bersifat sukarela dan dilakukan dalam kondisi yang bermartabat.4
Reformasi Hukum Internasional: Berdasarkan pengalaman pengungsi Indochina, Tomasi menyerukan kepada komunitas internasional untuk meninjau kembali definisi "pengungsi" dalam instrumen PBB tahun 1951 dan 1967. Ia berargumen bahwa definisi tersebut harus diperluas untuk mencakup mereka yang melarikan diri dari kemiskinan ekstrem dan kegagalan struktural negara, bukan hanya penganiayaan politik langsung.4

Analisis Tomasi mengenai pengalaman Indochina menjadi dasar bagi posisinya di kemudian hari sebagai diplomat di PBB, di mana ia terus menekankan bahwa "perlindungan adalah komitmen etis" yang harus melampaui kepentingan politik negara.4

Sekretaris Dewan Migran dan Nuncio di Afrika

Reputasi Tomasi sebagai pakar migrasi terkemuka di Amerika Serikat menarik perhatian Vatikan. Pada 27 Juni 1989, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Sekretaris Dewan Kepausan untuk Pelayanan Pastoral bagi Migran dan Orang-orang yang Berpindah (Pontifical Council for the Pastoral Care of Migrants and Itinerant People).1 Jabatan ini mengharuskannya pindah ke Roma dan mengelola respon global Gereja terhadap migrasi dari pusat administrasi tertingginya.2

Selama masa jabatannya (1989-1996), Tomasi bekerja untuk menyatukan berbagai inisiatif Gereja di seluruh dunia ke dalam satu kerangka pastoral yang koheren. Ia menekankan bahwa migran tidak boleh dianggap sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai "protagonis" dalam pembangunan ekonomi dan dialog antarbudaya di negara tuan rumah.3 Ia juga mulai menyuarakan pentingnya "globalisasi solidaritas" sebagai tanggapan terhadap dampak negatif globalisasi ekonomi yang memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.3

Pada tahun 1996, Tomasi memasuki jajaran diplomatik senior Vatikan dengan pengangkatannya sebagai Uskup Agung Tituler Cercina dan Nuncio Apostolik untuk Ethiopia dan Eritrea, serta Delegasi Apostolik untuk Djibouti.1 Penahbisannya sebagai uskup pada 17 August 1996 oleh Kardinal Angelo Sodano menandai fase baru dalam kariernya sebagai negosiator perdamaian di lapangan.1

Tugasnya di Tanduk Afrika (Horn of Afrika) merupakan tantangan diplomatik yang luar biasa. Ia harus menavigasi konflik berdarah antara Ethiopia dan Eritrea (1998-2000) yang menyebabkan pengungsian massal di kedua belah pihak.5 Di wilayah ini, Tomasi melihat secara langsung bagaimana kemiskinan kronis dan konflik bersenjata menciptakan siklus pengungsian yang tidak berujung. Pengalamannya di Afrika memperdalam keyakinannya bahwa pencegahan konflik adalah elemen paling mendasar dari perlindungan pengungsi.4 Ia aktif dalam memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan mendesak kedua negara untuk mencari solusi politik daripada militer, konsisten dengan perannya sebagai pembangun jembatan antara komunitas yang bertikai.3

Pengamat Tetap Takhta Suci di PBB Jenewa

Tahun 2003,  ia diangkat sebagai Pengamat Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, sebuah posisi yang ia pegang hingga pensiun pada tahun 2016.1 Di Jenewa, ia mewakili kepentingan Takhta Suci di berbagai organisasi internasional, termasuk UNHCR, IOM, WTO, dan WHO.1

Selama 13 tahun di Jenewa, Tomasi menjadi salah satu suara paling konsisten dan dihormati dalam membela hak-hak migran dan pengungsi di panggung dunia.1 Ia menggunakan setiap sesi di Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk mengingatkan komunitas internasional bahwa migrasi adalah "tanda zaman" yang memerlukan respons kemanusiaan yang terkoordinasi, bukan sekadar kontrol perbatasan yang represif.3

Dalam pidatonya yang terkenal di hadapan UNHCR pada tahun 2010, Tomasi mengkritik kecenderungan negara-negara untuk melakukan "penahanan otomatis" terhadap pencari suaka dan pengungsi, yang ia sebut sebagai tindakan yang tidak pantas dan mendehumanisasi.13 Ia mendesak agar keselamatan, martabat manusia, dan hak asasi manusia selalu menjadi kombinasi utama dalam setiap kebijakan pengungsi.13 Tomasi juga sangat vokal mengenai nasib pengungsi Suriah, menyebut kekerasan jihadis sebagai "genosida" dan menuntut perlindungan khusus bagi anak-anak pengungsi yang tidak terdaftar dan berisiko menjadi tanpa kewarganegaraan—sebuah tema yang ia bawa sejak krisis Indochina.5

Ia juga mengadvokasi hak-hak pekerja migran melalui International Organization for Migration (IOM). Ia berpendapat bahwa remitansi yang dikirim oleh migran bukan sekadar aliran dana, melainkan ekspresi konkret dari pengorbanan migran untuk keluarga dan komunitas mereka di negara asal.9 Namun, ia juga memperingatkan tentang "biaya manusia" dari migrasi, di mana anak-anak di negara asal kehilangan kasih sayang orang tua demi kelangsungan ekonomi, sebuah analisis sosiologis yang sangat nuansed.9

Bidang Advokasi di PBB Jenewa

Posisi dan Kontribusi Utama

Hak Asasi Manusia

Menentang penahanan pencari suaka dan kebijakan penolakan paksa (pushback).13

Kesehatan Global

Mendorong akses universal terhadap obat-obatan esensial bagi pengungsi dan migran.1

Perdagangan (WTO)

Menuntut sistem perdagangan yang adil untuk mengurangi ketimpangan ekonomi pemicu migrasi paksa.1

Senjata Otonom

Menyerukan larangan terhadap sistem senjata otonom (robot pembunuh) yang melanggar hukum humaniter.5

Kontribusi Literasi Tentang Pengungsi

Sepanjang hidupnya, Kardinal Tomasi telah menghasilkan banyak literasi yang menjadi referensi standar dalam studi migrasi. Selain edisi khusus International Migration Review 1981 yang legendaris, ia juga menulis banyak buku dan artikel yang mendokumentasikan peran paroki-paroki Italia dalam sejarah Amerika serta ajaran sosial Gereja tentang pengungsi.1

Karyanya sering dikutip sebagai bukti bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat bekerja sama. Sebagai pendiri CMS, ia mewariskan sebuah institusi yang terus mengadvokasi kebijakan berbasis bukti.2 Dokumen-dokumen yang tersimpan dalam "Silvano M. Tomasi Papers" di CMS NY (CMS.126) memberikan bukti sejarah yang kaya mengenai bagaimana Gereja Katolik Amerika merespons tantangan pengungsi Vietnam dan Haiti pada tahun 1980-an, mencakup korespondensi organisasi, catatan hukum, dan publikasi ephemera yang mendokumentasikan perjuangan para migran di lapangan.2

Publikasi dan Kontribusi Literasi Kunci

Peran / Dampak

International Migration Review (1966-sekarang)

Jurnal ilmiah terkemuka dunia untuk studi migrasi internasional.1

"Refugees Today" (IMR Special Issue, 1981)

Dokumen pendiri bidang akademis Studi Pengungsi global.8

Piety and Power (1975)

Analisis sosiologis klasik tentang integrasi imigran Italia di New York.2

Evaluasi CPA Indochina (1996)

Refleksi kritis terhadap tata kelola krisis pengungsi di Asia Tenggara.4

Migrants and Refugees in the Teaching of John Paul II (1983)

Sintesis teologis tentang hak-hak migran dalam ajaran kepausan.20

Pendekatan Tomasi terhadap Martabat Manusia

Kardinal Silvano M Tomasi dan Paus Fransiskus

Inti dari seluruh karya Kardinal Silvano Tomasi adalah keyakinan filosofis bahwa migran bukanlah "masalah yang harus diselesaikan," melainkan manusia dengan aspirasi, tradisi, dan martabat yang utuh.
3 Ia sering menekankan bahwa jika kebijakan migrasi hanya berfokus pada fungsi layanan ekonomi tanpa mempertimbangkan dimensi manusia, maka kegagalan integrasi dan konflik sosial adalah hal yang dapat diprediksi.14

Ia membawa "pelajaran dari sejarah" pengungsi Vietnam untuk memperingatkan dunia tentang bahaya xenofobia dan nasionalisme sempit.3 Baginya, kemampuan sebuah masyarakat untuk menerima pendatang baru bukan hanya ujian bagi kebijakan pemerintah, tetapi ujian bagi kemanusiaan itu sendiri.3 Melalui keterlibatannya dalam krisis Indochina, Tomasi menunjukkan bahwa solusi kemanusiaan yang sukses membutuhkan tiga elemen: data yang valid, keberanian diplomatik, dan belas kasih yang tak tergoyahkan.4

Referensi:

1.    Silvano Maria Tomasi - Wikipedia, diakses Maret 20, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Silvano_Maria_Tomasi

2.    Silvano M. Tomasi Papers CMS.126 - Center for Migration Studies of New York, diakses Maret 20, 2026, https://cmsny.org/wp-content/uploads/2020/02/cms_126.pdf

3.    92nd Council Session of the International Organization for Migration - The Holy See, diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/secretariat_state/2006/documents/rc_seg-st_20061201_iom_en.html

4.    Comprehensive plan of action - International Conference on Indo-Chinese refugees - The Holy See, diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/migrants/documents/rc_pc_migrants_doc_19960305_cpa_en.html

5.    Cardinal Silvano Tomasi, C.S. - The College of Cardinals Report, diakses Maret 20, 2026, https://collegeofcardinalsreport.com/cardinals/silvano-tomasi/

6.    THE SCALABRINIANS IN NORTH AMERICA (1888 – 1988) by Alba Zizzamia Canter for Migration Studies 1989 - Scalabriniani, diakses Maret 20, 2026, https://www.scalabriniani.org/wp-content/uploads/2023/04/A-VISION-UNFOLDING.pdf

7.    IN NORTH AMERICA - Scalabriniani, diakses Maret 20, 2026, http://www.scalabriniani.org/wp-content/uploads/2020/12/Sussidi-8a-en.pdf

8.    Editorial Introduction - Oxford Academic - Oxford University Press, diakses Maret 20, 2026, https://academic.oup.com/jrs/article-pdf/11/4/350/6938413/11-4-350-s.pdf

9.    Statement of the Holy See to the U.N. in Geneva at the 2014 International Dialogue on Migration of the International Organization for Migration "Migration and Families" - Bollettino Sala Stampa, diakses Maret 20, 2026, https://press.vatican.va/content/salastampa/it/bollettino/pubblico/2014/10/13/0753/01606.html

10.  DOCUMENT RESUME ED 287 761 SO 018 34f AUTHOR Melville, Keith, Ed. TITLE Immigration: What We Promised, Where To Draw the Line. N - ERIC, diakses Maret 20, 2026, https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED287761.pdf

11.  ; A LESSON FROM HISTORY: THE INTEGRATION OF IMMIGRANTS IN THE PASTORAL PRACTICE OF THE CHURCH IN THE UNITED STATES Occasional Pa, diakses Maret 20, 2026, https://cmsny.org/wp-content/uploads/2017/03/Tomasi-A-Lesson-from-History.pdf

12.  CRITERION - † Archdiocese of Indianapolis, diakses Maret 20, 2026, https://www.archindy.org/criterion/files/1986/pdfs/19860110.pdf

13.  Statement by H.E. Msgr. Silvano M. Tomasi at the 48th Meeting of the Standing Committee of the Executive Committee of the UNHCR (Geneva, 22 June 2010) - The Holy See, diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/secretariat_state/2010/documents/rc_seg-st_20100622_unhcr_en.html

14.  90th Session of the Council of the International Organization for Migration (IOM) - The Holy See, diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/secretariat_state/2005/documents/rc_seg-st_20051202_tomasi-iom_en.html

15.  Cardinal Silvano M. Tomasi, C.S - Missio Invest, diakses Maret 20, 2026, https://missioinvest.org/it/missio-team/cardinal-silvano-m-tomasi-c-s/

16.  Address by Most Reverend Silvano Tomasi at the Diaspora Ministerial Forum and International Dialogue on Migration: 18, diakses Maret 20, 2026, https://www.iom.int/resources/statement-he-archbishop-silvano-m-tomasi-permanent-observer-holy-see-united-nations-and-other-international-organizations-geneva

17.  Statement of the Holy See to the U.N. at the 28th Session of the Human Rights Council: Item 4 - Report of the Independent International Commission of Inquiry on the Syrian Arab Republic (Geneva, 17 March 2015) - Bollettino Sala Stampa, diakses Maret 20, 2026, https://press.vatican.va/content/salastampa/it/bollettino/pubblico/2015/03/27/0222/00497.html

18.  Silvano Maria Tomasi - Berkley Center - Georgetown University, diakses Maret 20, 2026, https://berkleycenter.georgetown.edu/people/silvano-maria-tomasi

19.  The Church, Migration, and Global (In)Difference (Pathways for Ecumenical and Interreligious Dialogue) 3030542254, 9783030542252 - DOKUMEN.PUB, diakses Maret 20, 2026, https://dokumen.pub/the-church-migration-and-global-indifference-pathways-for-ecumenical-and-interreligious-dialogue-3030542254-9783030542252.html

20.  "Welcoming the Stranger": A dialogue between Scriptural understandings of and Catholic Church policies towards migrant - ResearchOnline@ND, diakses Maret 20, 2026, https://researchonline.nd.edu.au/cgi/viewcontent.cgi?article=1046&context=theses