![]() |
| Kardinal Silvano M Tomasi, CS |
Silvano Maria Tomasi lahir pada 12 Oktober 1940 di Casoni di Mussolente, sebuah desa di wilayah utara Italia yang kental dengan tradisi Katolik.1 Tumbuh dalam atmosfer Italia pasca-Perang Dunia II, Tomasi bersama saudaranya, Lydio F. Tomasi, merasakan panggilan spiritual yang mendalam sejak usia dini. Keduanya memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Misionaris St. Charles Borromeo, yang lebih dikenal sebagai kaum Scalabrinian.2 Kongregasi ini, yang didirikan oleh Santo Giovanni Baptist Scalabrini pada tahun 1887, memiliki misi khusus yang sangat spesifik: melayani para migran dan pengungsi.2
Pilihan vokasi ini menjadi penentu utama bagi seluruh karier Tomasi. Berbeda dengan banyak klerus pada generasinya yang berfokus pada pelayanan paroki tradisional, Tomasi mewarisi visi holistik sang pendiri yang menekankan bahwa pelayanan terhadap migran harus mencakup kolaborasi dengan otoritas sekuler dalam pengembangan kebijakan publik yang adil.2
Pada tahun 1960, ia
menyelesaikan pendidikan sarjananya di Collegio Scalabrini-O'Brien di Italia
sebelum berangkat ke New York untuk menyelesaikan studi teologis dan
akademisnya.2 Tomasi ditahbiskan menjadi imam pada 31 Mei 1965 oleh Uskup
Pembantu New York, Joseph Maria Pernicone.1 Ia kemudian memperdalam keterlibatannya
dalam dunia akademis dengan mengambil studi sosiologi di Fordham University. Ia
memperoleh gelar Master of Arts pada tahun 1967 dan mencapai puncaknya dengan
gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang sosiologi pada tahun 1972.1
Disertasi doktoralnya, yang
berjudul Piety and Power: The Role of Italian Parishes in the New York
Metropolitan Area, 1880-1930, memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana
institusi keagamaan bertindak sebagai pusat integrasi sosial dan kekuatan
politik bagi komunitas imigran.2 Karya ini mengukuhkan Tomasi
sebagai pengamat ilmiah yang tajam terhadap dinamika etnis dan kekuasaan di
Amerika Serikat, yang kelak menjadi modal penting dalam memimpin birokrasi
Gereja yang menangani migrasi.2
Membangun Infrastruktur Migrasi
Selama dekade 1970-an,
Silvano Tomasi tidak hanya belajar sebagai akademisi di City University of New
York dan New School for Social Research, tetapi juga mulai membangun
infrastruktur intelektual yang akan mengubah cara dunia mempelajari migrasi.1 Pada tahun 1964, ia menjadi
salah satu pendiri Center for Migration Studies (CMS) di New York, sebuah wadah
pemikir yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan data empiris
mengenai migrasi internasional demi mendukung perlakuan yang adil bagi migran dan
pengungsi.2
Di bawah kepemimpinan Tomasi
sebagai Direktur Eksekutif pertama (1966-1983), CMS berkembang menjadi
institusi global yang menjembatani kesenjangan antara teori sosiologis dan
praktik pastoral.2 Salah satu kontribusi paling signifikan dari era ini adalah
peluncuran International Migration Review (IMR), sebuah jurnal ilmiah
interdisipliner yang segera diakui sebagai otoritas utama dalam bidang studi
migrasi.2 IMR memberikan
platform bagi sosiolog, ekonom, sejarawan, dan pakar hukum untuk menganalisis
fenomena perpindahan penduduk melampaui batas-batas nasional.8
Peran Tomasi sebagai editor
dan pemikir strategis di CMS memungkinkannya untuk mempengaruhi diskursus publik
di Amerika Serikat. Pada tahun 1973, ia mengemukakan kepada New York Times
bahwa imigran Italia yang miskin sering kali enggan memanfaatkan program
bantuan pemerintah karena takut akan "penghinaan," sebuah observasi
sosiologis yang menyoroti pentingnya martabat manusia dalam kebijakan
kesejahteraan.1 Melalui CMS, ia juga mengorganisir konferensi tahunan "In
Defense of the Alien" yang menjadi forum penting bagi advokasi hak-hak
migran di hadapan pembuat kebijakan di Washington D.C..7
Respon terhadap Tragedi Manusia Perahu Indochina
Karier Tomasi mengambil
langkah besar ke arah kebijakan praktis ketika ia diangkat sebagai Direktur
Kantor Pelayanan Pastoral untuk Migran dan Pengungsi (Migration and Refugee
Services/MRS) di Konferensi Waligereja Amerika Serikat (USCCB) pada tahun 1983,
posisi yang ia emban hingga 1987.1 Pengangkatan ini
menempatkannya tepat di tengah salah satu krisis kemanusiaan terbesar pada abad
itu: eksodus pengungsi dari Indochina setelah berakhirnya Perang Vietnam pada
tahun 1975.2
Krisis Indochina melahirkan
fenomena "manusia perahu" (boat people), di mana jutaan orang dari
Vietnam, Laos, dan Kamboja melarikan diri menggunakan kapal-kapal kecil yang
tidak layak melaut, menghadapi risiko tenggelam, serangan bajak laut, dan
penolakan di pelabuhan-pelabuhan suaka pertama di Asia Tenggara.4 Sebagai Direktur MRS, Tomasi
memimpin upaya Gereja Katolik Amerika untuk memfasilitasi pemukiman kembali
(resettlement) ribuan pengungsi ini di Amerika Serikat.2
Ia menggunakan latar belakang sosiologisnya untuk mengadvokasi integrasi yang bermartabat bagi komunitas Vietnam, Kamboja, dan Laos.2 Ia secara aktif mengunjungi komunitas-komunitas pengungsi yang baru tiba, mengidentifikasi kebutuhan spesifik mereka, dan mendorong pembentukan struktur kepemimpinan awam di dalam komunitas tersebut agar mereka tidak hanya menjadi objek bantuan, tetapi subjek dari masa depan mereka sendiri.2
Dalam periode ini, Tomasi
menentang keras gerakan restriksionis yang mencoba membatasi jumlah pengungsi
dengan dalih keamanan ekonomi atau pelestarian budaya.10 Ia berpendapat bahwa
kekhawatiran tentang "diversifikasi budaya" sering kali merupakan
kedok bagi prasangka rasial terhadap orang Asia dan Hispanik.10 Baginya, keberhasilan
Amerika Serikat sebagai sebuah bangsa justru terletak pada kemampuannya untuk
mengintegrasikan kelompok-kelompok baru ini ke dalam struktur sosial dan
keagamaan yang sudah ada, tanpa menghapus identitas asal mereka.10
Kontribusi Intelektual Terkait Studi Pengungsi
Salah satu kontribusi
literasi paling valid dan berpengaruh dari Tomasi terkait pengungsi Vietnam
terjadi pada tahun 1981. Bersama Barry Stein, ia menyunting edisi khusus jurnal
International Migration Review yang berjudul "Refugees Today".8 Publikasi ini dianggap oleh
komunitas akademis global sebagai dokumen pendiri bidang "Studi
Pengungsi" (Refugee Studies).8
Dalam edisi tersebut, Tomasi
dan Stein berargumen bahwa penanganan pengungsi harus beralih dari pendekatan ad
hoc yang bersifat darurat menuju analisis sistemik yang mempertimbangkan
pola konsistensi dalam pengalaman pengungsi.8 Mereka menekankan bahwa
pengungsi Indochina bukan sekadar fenomena terisolasi, melainkan cerminan dari
kegagalan tata kelola global dan ketegangan kedaulatan negara versus hak asasi
manusia.8 Melalui
publikasi ini, Tomasi memberikan kerangka intelektual bagi UNHCR dan organisasi
internasional lainnya untuk memahami bahwa perlindungan pengungsi adalah
kewajiban hukum internasional, bukan sekadar pilihan sukarela negara-negara
donor.4
Edisi khusus ini juga
menyoroti dilema "manusia perahu" Vietnam yang terjebak dalam limbo
politik di kamp-kamp pengungsian di Asia Tenggara.4 Tomasi menyerukan perlunya
"solusi jangka panjang" yang mencakup repatriasi sukarela, integrasi
lokal di negara suaka pertama, atau pemukiman kembali di negara ketiga—tiga
pilar yang kemudian menjadi standar operasional global dalam menangani krisis
pengungsi.4
![]() |
| Kardinal Silvano M Tomasi di Galang Site II, Agustus 2025 |
Peran dalam Comprehensive Plan of Action (CPA) 1989 dan Evaluasinya
Keterlibatan Tomasi dalam
krisis Indochina mencapai puncaknya pada tingkat diplomatik tertinggi melalui
keterlibatannya dalam konferensi internasional yang menghasilkan Comprehensive
Plan of Action (CPA) pada tahun 1989 di Jenewa.4 CPA adalah sebuah terobosan
diplomatik yang dirancang untuk mengatasi arus pengungsi dari Vietnam, Laos,
dan Kamboja yang terus berlanjut lebih dari satu dekade setelah berakhirnya
konflik bersenjata.4
Sebagai wakil dari Takhta
Suci, Tomasi memberikan kontribusi kritis dalam mengevaluasi keberhasilan dan
kegagalan CPA. Dalam dokumen reflektif yang diterbitkan pada tahun 1996, ia
memberikan analisis tajam mengenai penutupan program tersebut.4 Ia mencatat bahwa lebih dari
dua juta orang telah meninggalkan Indochina sejak tahun 1975, sebuah angka yang
menunjukkan skala kegagalan komunitas internasional dalam mencegah penyebab
awal arus pengungsi.4
Tomasi menekankan beberapa
poin krusial dalam evaluasi CPA 1996 tersebut:
Kepastian Status Kewarganegaraan: Ia menyoroti masalah
ratusan orang di kamp-kamp yang terancam menjadi tanpa kewarganegaraan (stateless),
terutama anak-anak. Ia mendesak agar hak atas kebangsaan, sebagaimana dijamin
oleh Deklarasi Universal HAM, harus menjadi prioritas dalam menentukan solusi
permanen bagi para penghuni kamp terakhir.4
Penolakan terhadap Koersi: Tomasi mengecam praktik pelecehan dan pencabutan layanan dasar
secara sengaja di kamp-kamp untuk memaksa pengungsi kembali ke negara asal
mereka. Ia menegaskan bahwa repatriasi harus selalu bersifat sukarela dan
dilakukan dalam kondisi yang bermartabat.4
Reformasi Hukum Internasional: Berdasarkan pengalaman pengungsi Indochina, Tomasi menyerukan
kepada komunitas internasional untuk meninjau kembali definisi
"pengungsi" dalam instrumen PBB tahun 1951 dan 1967. Ia berargumen
bahwa definisi tersebut harus diperluas untuk mencakup mereka yang melarikan
diri dari kemiskinan ekstrem dan kegagalan struktural negara, bukan hanya
penganiayaan politik langsung.4
Analisis Tomasi
mengenai pengalaman Indochina menjadi dasar bagi posisinya di kemudian hari
sebagai diplomat di PBB, di mana ia terus menekankan bahwa "perlindungan
adalah komitmen etis" yang harus melampaui kepentingan politik negara.4
Sekretaris Dewan Migran dan Nuncio di Afrika
Reputasi Tomasi sebagai pakar
migrasi terkemuka di Amerika Serikat menarik perhatian Vatikan. Pada 27 Juni
1989, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Sekretaris Dewan Kepausan
untuk Pelayanan Pastoral bagi Migran dan Orang-orang yang Berpindah (Pontifical
Council for the Pastoral Care of Migrants and Itinerant People).1 Jabatan ini mengharuskannya
pindah ke Roma dan mengelola respon global Gereja terhadap migrasi dari pusat
administrasi tertingginya.2
Selama masa jabatannya
(1989-1996), Tomasi bekerja untuk menyatukan berbagai inisiatif Gereja di
seluruh dunia ke dalam satu kerangka pastoral yang koheren. Ia menekankan bahwa
migran tidak boleh dianggap sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai "protagonis"
dalam pembangunan ekonomi dan dialog antarbudaya di negara tuan rumah.3 Ia juga mulai menyuarakan
pentingnya "globalisasi solidaritas" sebagai tanggapan terhadap
dampak negatif globalisasi ekonomi yang memaksa jutaan orang meninggalkan rumah
mereka.3
Pada tahun 1996, Tomasi
memasuki jajaran diplomatik senior Vatikan dengan pengangkatannya sebagai Uskup
Agung Tituler Cercina dan Nuncio Apostolik untuk Ethiopia dan Eritrea, serta
Delegasi Apostolik untuk Djibouti.1 Penahbisannya sebagai uskup
pada 17 August 1996 oleh Kardinal Angelo Sodano menandai fase baru dalam
kariernya sebagai negosiator perdamaian di lapangan.1
Tugasnya di Tanduk Afrika (Horn of Afrika) merupakan tantangan diplomatik yang luar biasa. Ia harus menavigasi konflik
berdarah antara Ethiopia dan Eritrea (1998-2000) yang menyebabkan pengungsian
massal di kedua belah pihak.5 Di wilayah ini, Tomasi
melihat secara langsung bagaimana kemiskinan kronis dan konflik bersenjata
menciptakan siklus pengungsian yang tidak berujung. Pengalamannya di Afrika
memperdalam keyakinannya bahwa pencegahan konflik adalah elemen paling mendasar
dari perlindungan pengungsi.4 Ia aktif dalam memfasilitasi
bantuan kemanusiaan dan mendesak kedua negara untuk mencari solusi politik
daripada militer, konsisten dengan perannya sebagai pembangun jembatan antara
komunitas yang bertikai.3
Pengamat Tetap Takhta Suci di PBB Jenewa
Tahun 2003, ia
diangkat sebagai Pengamat Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di
Jenewa, sebuah posisi yang ia pegang hingga pensiun pada tahun 2016.1 Di Jenewa, ia mewakili
kepentingan Takhta Suci di berbagai organisasi internasional, termasuk UNHCR,
IOM, WTO, dan WHO.1
Selama 13 tahun di Jenewa,
Tomasi menjadi salah satu suara paling konsisten dan dihormati dalam membela
hak-hak migran dan pengungsi di panggung dunia.1 Ia menggunakan setiap sesi
di Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk mengingatkan komunitas internasional bahwa
migrasi adalah "tanda zaman" yang memerlukan respons kemanusiaan yang
terkoordinasi, bukan sekadar kontrol perbatasan yang represif.3
Dalam pidatonya yang terkenal
di hadapan UNHCR pada tahun 2010, Tomasi mengkritik kecenderungan negara-negara
untuk melakukan "penahanan otomatis" terhadap pencari suaka dan
pengungsi, yang ia sebut sebagai tindakan yang tidak pantas dan mendehumanisasi.13 Ia mendesak agar
keselamatan, martabat manusia, dan hak asasi manusia selalu menjadi kombinasi
utama dalam setiap kebijakan pengungsi.13 Tomasi juga sangat vokal
mengenai nasib pengungsi Suriah, menyebut kekerasan jihadis sebagai
"genosida" dan menuntut perlindungan khusus bagi anak-anak pengungsi
yang tidak terdaftar dan berisiko menjadi tanpa kewarganegaraan—sebuah tema
yang ia bawa sejak krisis Indochina.5
Ia juga mengadvokasi hak-hak
pekerja migran melalui International Organization for Migration (IOM). Ia
berpendapat bahwa remitansi yang dikirim oleh migran bukan sekadar aliran dana,
melainkan ekspresi konkret dari pengorbanan migran untuk keluarga dan komunitas
mereka di negara asal.9 Namun, ia juga
memperingatkan tentang "biaya manusia" dari migrasi, di mana
anak-anak di negara asal kehilangan kasih sayang orang tua demi kelangsungan
ekonomi, sebuah analisis sosiologis yang sangat nuansed.9
|
Bidang
Advokasi di PBB Jenewa |
Posisi dan
Kontribusi Utama |
|
Hak Asasi
Manusia |
Menentang
penahanan pencari suaka dan kebijakan penolakan paksa (pushback).13 |
|
Kesehatan
Global |
Mendorong
akses universal terhadap obat-obatan esensial bagi pengungsi dan migran.1 |
|
Perdagangan
(WTO) |
Menuntut
sistem perdagangan yang adil untuk mengurangi ketimpangan ekonomi pemicu
migrasi paksa.1 |
|
Senjata
Otonom |
Menyerukan
larangan terhadap sistem senjata otonom (robot pembunuh) yang melanggar hukum
humaniter.5 |
Kontribusi Literasi Tentang Pengungsi
Sepanjang hidupnya, Kardinal
Tomasi telah menghasilkan banyak literasi yang menjadi referensi standar dalam
studi migrasi. Selain edisi khusus International Migration Review 1981
yang legendaris, ia juga menulis banyak buku dan artikel yang mendokumentasikan
peran paroki-paroki Italia dalam sejarah Amerika serta ajaran sosial Gereja
tentang pengungsi.1
Karyanya sering dikutip
sebagai bukti bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat bekerja sama. Sebagai
pendiri CMS, ia mewariskan sebuah institusi yang terus mengadvokasi kebijakan
berbasis bukti.2 Dokumen-dokumen yang tersimpan dalam "Silvano M. Tomasi
Papers" di CMS NY (CMS.126) memberikan bukti sejarah yang kaya mengenai
bagaimana Gereja Katolik Amerika merespons tantangan pengungsi Vietnam dan
Haiti pada tahun 1980-an, mencakup korespondensi organisasi, catatan hukum, dan
publikasi ephemera yang mendokumentasikan perjuangan para migran di lapangan.2
|
Publikasi dan
Kontribusi Literasi Kunci |
Peran /
Dampak |
|
International
Migration Review
(1966-sekarang) |
Jurnal ilmiah
terkemuka dunia untuk studi migrasi internasional.1 |
|
"Refugees
Today" (IMR Special Issue, 1981) |
Dokumen
pendiri bidang akademis Studi Pengungsi global.8 |
|
Piety and
Power (1975) |
Analisis
sosiologis klasik tentang integrasi imigran Italia di New York.2 |
|
Evaluasi CPA
Indochina (1996) |
Refleksi
kritis terhadap tata kelola krisis pengungsi di Asia Tenggara.4 |
|
Migrants and
Refugees in the Teaching of John Paul II (1983) |
Sintesis
teologis tentang hak-hak migran dalam ajaran kepausan.20 |
Pendekatan Tomasi terhadap Martabat Manusia
![]() |
| Kardinal Silvano M Tomasi dan Paus Fransiskus |
Inti dari seluruh karya Kardinal Silvano Tomasi adalah keyakinan filosofis bahwa migran bukanlah "masalah yang harus diselesaikan," melainkan manusia dengan aspirasi, tradisi, dan martabat yang utuh.3 Ia sering menekankan bahwa jika kebijakan migrasi hanya berfokus pada fungsi layanan ekonomi tanpa mempertimbangkan dimensi manusia, maka kegagalan integrasi dan konflik sosial adalah hal yang dapat diprediksi.14
Ia membawa "pelajaran
dari sejarah" pengungsi Vietnam untuk memperingatkan dunia tentang bahaya
xenofobia dan nasionalisme sempit.3 Baginya, kemampuan sebuah
masyarakat untuk menerima pendatang baru bukan hanya ujian bagi kebijakan
pemerintah, tetapi ujian bagi kemanusiaan itu sendiri.3 Melalui keterlibatannya
dalam krisis Indochina, Tomasi menunjukkan bahwa solusi kemanusiaan yang sukses
membutuhkan tiga elemen: data yang valid, keberanian diplomatik, dan belas
kasih yang tak tergoyahkan.4
1.
Silvano
Maria Tomasi - Wikipedia, diakses Maret 20, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Silvano_Maria_Tomasi
2.
Silvano
M. Tomasi Papers CMS.126 - Center for Migration Studies of New York, diakses
Maret 20, 2026, https://cmsny.org/wp-content/uploads/2020/02/cms_126.pdf
3.
92nd
Council Session of the International Organization for Migration - The Holy See,
diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/secretariat_state/2006/documents/rc_seg-st_20061201_iom_en.html
4.
Comprehensive
plan of action - International Conference on Indo-Chinese refugees - The Holy
See, diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/migrants/documents/rc_pc_migrants_doc_19960305_cpa_en.html
5.
Cardinal
Silvano Tomasi, C.S. - The College of Cardinals Report, diakses Maret 20, 2026,
https://collegeofcardinalsreport.com/cardinals/silvano-tomasi/
6.
THE
SCALABRINIANS IN NORTH AMERICA (1888 – 1988) by Alba Zizzamia Canter for
Migration Studies 1989 - Scalabriniani, diakses Maret 20, 2026, https://www.scalabriniani.org/wp-content/uploads/2023/04/A-VISION-UNFOLDING.pdf
7.
IN
NORTH AMERICA - Scalabriniani, diakses Maret 20, 2026, http://www.scalabriniani.org/wp-content/uploads/2020/12/Sussidi-8a-en.pdf
8.
Editorial
Introduction - Oxford Academic - Oxford University Press, diakses Maret 20,
2026, https://academic.oup.com/jrs/article-pdf/11/4/350/6938413/11-4-350-s.pdf
9.
Statement
of the Holy See to the U.N. in Geneva at the 2014 International Dialogue on
Migration of the International Organization for Migration "Migration and
Families" - Bollettino Sala Stampa, diakses Maret 20, 2026, https://press.vatican.va/content/salastampa/it/bollettino/pubblico/2014/10/13/0753/01606.html
10.
DOCUMENT
RESUME ED 287 761 SO 018 34f AUTHOR Melville, Keith, Ed. TITLE Immigration:
What We Promised, Where To Draw the Line. N - ERIC, diakses Maret 20, 2026, https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED287761.pdf
11.
; A
LESSON FROM HISTORY: THE INTEGRATION OF IMMIGRANTS IN THE PASTORAL PRACTICE OF
THE CHURCH IN THE UNITED STATES Occasional Pa, diakses Maret 20, 2026, https://cmsny.org/wp-content/uploads/2017/03/Tomasi-A-Lesson-from-History.pdf
12.
CRITERION
- † Archdiocese of Indianapolis, diakses Maret 20, 2026, https://www.archindy.org/criterion/files/1986/pdfs/19860110.pdf
13.
Statement
by H.E. Msgr. Silvano M. Tomasi at the 48th Meeting of the Standing Committee
of the Executive Committee of the UNHCR (Geneva, 22 June 2010) - The Holy See,
diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/secretariat_state/2010/documents/rc_seg-st_20100622_unhcr_en.html
14.
90th
Session of the Council of the International Organization for Migration (IOM) -
The Holy See, diakses Maret 20, 2026, https://www.vatican.va/roman_curia/secretariat_state/2005/documents/rc_seg-st_20051202_tomasi-iom_en.html
15.
Cardinal
Silvano M. Tomasi, C.S - Missio Invest, diakses Maret 20, 2026, https://missioinvest.org/it/missio-team/cardinal-silvano-m-tomasi-c-s/
16.
Address
by Most Reverend Silvano Tomasi at the Diaspora Ministerial Forum and
International Dialogue on Migration: 18, diakses Maret 20, 2026, https://www.iom.int/resources/statement-he-archbishop-silvano-m-tomasi-permanent-observer-holy-see-united-nations-and-other-international-organizations-geneva
17.
Statement
of the Holy See to the U.N. at the 28th Session of the Human Rights Council:
Item 4 - Report of the Independent International Commission of Inquiry on the
Syrian Arab Republic (Geneva, 17 March 2015) - Bollettino Sala Stampa, diakses
Maret 20, 2026, https://press.vatican.va/content/salastampa/it/bollettino/pubblico/2015/03/27/0222/00497.html
18.
Silvano
Maria Tomasi - Berkley Center - Georgetown University, diakses Maret 20, 2026, https://berkleycenter.georgetown.edu/people/silvano-maria-tomasi
19.
The
Church, Migration, and Global (In)Difference (Pathways for Ecumenical and
Interreligious Dialogue) 3030542254, 9783030542252 - DOKUMEN.PUB, diakses Maret
20, 2026, https://dokumen.pub/the-church-migration-and-global-indifference-pathways-for-ecumenical-and-interreligious-dialogue-3030542254-9783030542252.html
20.
"Welcoming
the Stranger": A dialogue between Scriptural understandings of and
Catholic Church policies towards migrant - ResearchOnline@ND, diakses Maret 20,
2026, https://researchonline.nd.edu.au/cgi/viewcontent.cgi?article=1046&context=theses


