![]() |
| Cardinal Silvano Tomasi CS di Galang, Indonesia, Agustus 2025 |
Sejarah migrasi global selalu menyisakan kisah tentang air mata, perjuangan, dan yang terpenting: ketangguhan iman. Salah satu babak paling dramatis dalam sejarah modern adalah eksodus pengungsi Asia Tenggara pasca-1975. Banyak dari mereka, yang dikenal sebagai "Manusia Perahu" (Boat People), sempat terdampar di kamp-kamp transit seperti Pulau Galang, Indonesia, sebelum akhirnya diberangkatkan ke negara ketiga, terutama Amerika Serikat.
Kardinal Silvano M. Tomasi, dalam refleksinya mengenai praktik pastoral Gereja, menyoroti bahwa keberhasilan para pengungsi ini untuk bangkit di tanah asing bukan sekadar keberhasilan ekonomi, melainkan buah dari struktur iman yang kokoh.
Dalam catatan Tomasi, sejak tahun 1975, Amerika Serikat telah menerima sekitar 800.000 pengungsi dari berbagai negara. Menariknya, dua pertiga dari jumlah tersebut adalah warga Vietnam. Di tengah gelombang pencari suaka ini, terdapat komunitas Katolik yang sangat signifikan.
Diperkirakan lebih dari 150.000 pengungsi Vietnam adalah umat Katolik. Mereka tidak datang dengan tangan kosong; mereka membawa serta "Gereja" dalam diri mereka. Kedatangan mereka didampingi oleh para pelayan Tuhan yang setia, yakni lebih dari 240 imam dan 300 suster yang turut mengungsi dan berbagi nasib yang sama dengan umatnya.
Tomasi berpendapat bahwa kunci integrasi pengungsi Vietnam di negara ketiga bukanlah "Amerikanisasi" yang dipaksakan secara instan, melainkan melalui pelestarian identitas budaya dan bahasa. Mengambil pelajaran dari imigran Eropa di masa lalu, komunitas Vietnam membangun jaringan yang disebut sebagai pluralisme institusional.
Hanya dalam waktu satu dekade, mereka berhasil membangun:
- Jaringan Mandiri: Terbentuknya lebih dari 130 komunitas Katolik Vietnam yang aktif.
- Struktur Formal: Para Uskup di Amerika Serikat, menyadari vitalitas iman ini, telah meresmikan 10 paroki berbahasa Vietnam yang tersebar dari Virginia hingga Nebraska.
- Media Komunikasi: Penerbitan berkala dan organisasi sosial yang menjaga komunikasi antar sesama pengungsi tetap terjaga.
Salah satu tantangan terbesar di negara ketiga adalah maraknya upaya proselitisme atau ajakan berpindah agama dari kelompok-kelompok fundamentalis yang menyasar para pengungsi yang sedang rentan secara psikologis dan ekonomi.
Namun, catatan Tomasi menunjukkan hasil yang mengejutkan. Alih-alih kehilangan anggotanya, komunitas Katolik Vietnam justru menunjukkan resistensi yang luar biasa. Berkat kepemimpinan religius yang berkomitmen, mereka tidak hanya mampu mempertahankan iman Katolik mereka, tetapi juga melakukan penjangkauan (outreach) kepada warga Vietnam non-Kristen untuk mengenal Gereja.
Kisah pengungsi Vietnam—yang mungkin dulu pernah berdoa di Gereja kayu di Pulau Galang—memberikan pelajaran berharga bagi Gereja universal. Tomasi menegaskan bahwa integrasi yang sehat tidak berarti menghapus asal-usul.
Ketangguhan iman para pengungsi di negara ketiga membuktikan bahwa ketika sebuah kelompok etnis diberi ruang untuk beribadah dalam bahasa dan tradisi mereka sendiri, mereka tidak akan terisolasi. Sebaliknya, mereka akan menjadi bagian yang paling hidup dan setia dalam mosaik umat Allah di tanah yang baru.
Bagi Tomasi, sejarah ini adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik pengungsian, ada jiwa-jiwa yang membawa terang iman yang tidak mampu dipadamkan oleh badai di laut maupun ketidakpastian di daratan asing.*
Sumber: A LESSON FROM HISTORY: THE INTEGRATION OF IMMIGRANTS IN THE PASTORAL PRACTICE OF THE CHURCH IN THE UNITED STATES, Silvano Tomasi CS, The Center for Migration Studies of New York, Inc. 1987
![]() |
| Cardinal Silvano Tomasi di Galang Site I |
![]() |
| Kardinal Silvano Tomasi, Pemimpin tertinggi Kongregasi Scalabrinian Pater Leonir Chiarello dan para imam Scalabrini di Galang Site II, Agustus 2025 |


.jpg)